My Name Is Rose

My Name Is Rose
Di Bawah Beringin



"Kakak.!!!" Monica menghambur ke pelukanku begitu aku pulang dari rumah sakit. Dia masih terlalu polos untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, dan aku juga tak ingin menceritakan itu padanya.


"Kakak jangan sakit lagi ya, makan yang banyak" Lanjutnya.


Aku mengelus rambutnya. Aku tersenyum dan memeluk tubuhnya. Monica memang lahir dari rahim perempuan yang telah mengurungku, tetapi aku juga ingat, dia berasal dari darah laki-laki yang telah menolongku.


Kulihat Mama berdiri di pintu kamarnya. Dia menatapku datar. Aku tidak bisa mengartikan tatapan mata Mama itu. Apakah ia masih membenciku atau justru sebaliknya, menyesal telah menyiksaku. Beberapa saat kemudian Mama masuk kembali ke kamarnya. Seolah tak ingin menyambutku, atau membahas peristiwa itu.


Aku kembali ke kamarku. Tempat yang kurindukan beberapa hari ini. Kurebahkan diri di kasur empuk, tempat aku biasa tidur. Nyaman sekali. Dulu rasanya biasa saja. Sekarang kurasakan begitu nyaman rebahan di atas kasur empuk ini. Mungkin sudah terlalu lama aku merindukan ini. Dengan kasur saja aku rindu, rasanya tidak berlebihan jika rinduku begitu dalam dengan orang tua kandungku. Sosok yang ingin kutemui sejak kecil dan sampai detik ini belum kesampaian.


***


"Ros!!" Seseorang memanggilku dari belakang.


Sudah kuduga. Kak Panji.


"Oh bener kamu, kemana aja sih, kok ga masuk" Kata Kak Panji.


"Kak Panji tau darimana aku gak masuk? Emangnya ngecek di kelas" Ledekku sambil terus berjalan.


"Hehe..iya, kepala sekolah nyari kamu pas pengumuman lomba, kamu gak ada" Kata Kak Panji.


"Oh"


Aku tersenyum kecil. Aku tahu Kak Panji tidak sepenuhnya jujur, meskipun juga tidak sepenuhnya berbohong. Dia mencariku sampai ke kelas, itu keyakinanku. Ah, dia mencariku. Kenapa dia tidka ke rumahku saja, toh dia sudah tahu rumahku. Takut? Kami terdiam beberapa saat, lalu Kak Panji memulai obrolan kembali.


"Kamu sakit?" Tanya Kak Panji.


"Kecapekan aja Kak, habis lomba langsung KO" Kataku.


"Yakin?"


Kami berhenti. Aku memandang lekat wajahnya. Aku lupa, aku sudah tidak bisa berbohong lagi. Kak Panji sudah tahu kartuku. Dia melihat sendiri bagaimana Mama memperlakukanku. Kak Panji memandangku seolah mencari kebenaran di dalam sorot mataku.


Kami duduk di bawah pohon beringin besar tak jauh dari gedung sekolah. Ditemani satu cup es jeruk peras. Aku tak menyangka memiliki kesempatan duduk berdua dengan Kak Panji yang diidam-idamkan cewek-cewek di sekolah. Sekali lagi, mungkin ini bentuk kepedulian anggota Osis. Apapun alasannya, ini tetaplah kesempatan luar biasa, setidaknya itu menurut cewek-cewek di sekolah.


"Jadi memar di lengan waktu itu bukan karena jatuh?" Tanya Kak Panji sambil menyedot es jeruk peras.


"Iya dan bukan karena dibully" Jawabku datar.


"Kalo yang kemarin?"


"Sakit"


Kak Panji menatapku mencari jawaban jujur.


"Aku gak bisa kemana-mana, makanya gak masuk"


"Dikurung?"


Kuakui dia memang cerdas. Dia bisa menebak sesuatu hanya dengan satu kata kunci. Aku menunduk mengiyakan.


"Ros, itu sudah kekerasan, itu kriminal, kamu berhak lapor polisi" Usul Kak Panji.


Polisi? Bagaimana jika aku lapor polisi? Mama akan ditangkap karena perbuatannya. Atau minimal dia jera menyiksaku lagi. Tapi Monica? Siapa yang akan merawatnya? Aku lagi? Sama saja. Sama-sama repot. Lalu bagaimana dengan Papa. Dia pasti akan sedih dengan ini. Istrinya menjadi narapidana. Tentu rumah tangganya tidak akan normal seperti sebelumnya. Dan keluarga besar Mama di Semarang? Pasti akan membenciku berkali-kali lipat. Sebab keluarganya akan dibuat malu dengan kejadian ini. Mereka tidak akan sanggup menghadapi masyarakat luar. Padahal mereka orang terpandang. Ah tidak-tidak. Terlalu ribet dan beresiko.


"Mama kamu sudah menyiksa kamu. Aku lihat sendiri waktu Mama kamu bawa sapu, dan kepalamu berdarah, dan sekarang mengurung kamu. Aku heran, seharusnya seorang ibu melindungi dan menyayangi anaknya. Tapi ini...."


"Dia bukan Ibu kandung aku Kak" Akhirnya kubuka sendiri identitasku yang selama ini kusimpan, sebab belum tentu orang lain bisa menerima.


Kak Panji melihatku tercengang. Mungkin hal baru baginya berteman dengan seorang anak asuh yang benar-benar menjadi anggota sebuah keluarga, dan bukan lagi menjadi anak asuh panti asuhan.


"Aku diadopsi saat masih kelas 3 SD. Tujuannya jelas, untuk memancing keturunan"


"Berhasil?"


"Ya, Mama melahirkan anak perempuan, sekarang masih tiga tahun usianya"


"Sejak itu Mama kamu berubah?"


Aku mengangguk.


"Sudah kuduga. Trus kenapa kamu gak minta balik ke panti. Bukankah itu jauh lebih aman?"


"Kenapa sih semua nyaranin gitu, Kak Panji, Papa, Mama..." Aku sedikit emosi mendengar usulan yang menurutku terlalu memaksakan. Mereka tidak mengerti yang kurasakan.


"Tapi memang itu yang terbaik, setidaknya menurutku"


Apa iya? Kembali ke panti setelah beberapa tahun? Apa masih ada yang mengenalku? Bunda-bunda yang dulu apakah masih bekerja di sana? Lalu tujuanku? Rania? Alanta? Orang tua kandungku?


"Ros, Ibu asuhmu mungkin tidak akan membunuh tubuhmu, tapi bisa jadi dia membunuh mentalmu"


Aku memandang Kak Panji. Aku tidak pernah terpikirkan akan hal itu. Membunuh mental? Apakah maksudnya membuatku gila?


"Mental?"


"Ya, semakin hari dia semakin menyiksa kamu, dan kamu akan semakin sumpek, stress, dan yaaa.... Apa lagi?"


Benar. Aku tak terpikirkan tentang itu. Mama ingin menghancurkan mentalku. Pekerjaan seabrek yang harus kulakukan kemungkinan adalah upayanya untuk membuatku stress dan akhirnya memutuskan untuk pergi. Segitu bencinya Mama padaku. Apakah memang seharusnya aku begitu saja. Kembali ke panti dan mencari orang tua asuh lagi. Atau menetap di panti dan mengubur dalam tujuanku.


"Jika aku kembali ke panti, apa aku bisa bepergian?" Tanyaku tiba-tiba.


"Apa?"


"Aku sedang mencari seseorang"


"Orang tua kandung?"


"Salah satunya"


"Justru jika balik ke panti, kamu akan mendapat banyak petunjuk tentang orang tua kandungmu. Mereka pasti menyimpan data orang yang membawamu ke panti. Pasti ada jejak-jejaknya"


Aku tertegun. Apa yang dikatakan Kak Panji ada benarnya. Kenapa hal seperti itu tidak terpikirkan olehku. Huft.


"Nanti kalau sudah lulus SMA kamu sudah bisa jaga diri, baru kamu keluar, hidup sendiri, tinggal dimanapun kamu mau. Tidak perlu menunggu datangnya orang tua asuh"


Ini juga benar. Kurasa aku begitu bodoh sampai mau menahan sakit bertahun-tahun bersama Ibu asuh yang sama sekali tidak keibuan. Haruskah aku kembali ke panti agar semuanya membaik. Keselamatanku, keutuhan rumah tangga Papa dan Mama, keharmonisan keluarga besar Nenek di Semarang. Rasanya Kak Panji benar. Aku harus kembali ke panti. Aku harus berbelok arah. Mengubah rencanaku. Menyusun kembali sesuatu yang kucita-citakan. Kunci identitas orang tuaku ada di panti. Dari sanalah nanti semuanya terungkap kembali. Ya, kurasa memang aku harus kembali ke panti. Demi diriku sendiri. Demi tujuanku. Demi mencari jati diriku yang sebenarnya