My Name Is Rose

My Name Is Rose
Mother of Rebecca



Aku baru saja mendapat kabar baik tentang apartemenku yang dipindahkan dua lokal di sebelahku. Artinya malam ini aku bisa pulang. Aku punya tempat tinggal lagi sekarang. Tentu saja setelah terbukti bukan aku yang melakukan penganiayaan itu.


Aku baru saja berdiri dan akan beranjak pulang karena sebentar lagi matahari akan menyapa. Jika saja ini di Indonesia pasti sudah terdengar adzan di mana-mana. Dalam keadaan kantuk yang menyiksa aku berjalan mencari pintu keluar rumah sakit. Saat itulah terdengar seorang perempuan menangis histeris.


Tentu saja kantukku hilang seketika. Suara tangis itu kian mendekat. Semakin dekat dan semakin mendekat. Ibu angkat Rebecca. Ia berteriak sambil menelungkupkan kedua tangannya di depan dada. Kenapa? Ada apa?


"Mother!!" Panggilku.


Melihat keberadaanku dia semakin menangis histeris.


"Rebecca.....!!!!" Teriaknya.


Aku tidak tahan untuk menunggunya bercerita. Aku berlari menuju kamar tempat Rebecca dirawat. Dan di sana tidak ada siapa-siapa.


"Ners. Im sorry. Dimana pasien yang dirawat di sini?" Aku menenangkan diri untuk bertanya.


"Anda tidak tahu?"


Aku berlari tanpa merasakan kaki yang sudah terlampau capek. Keringatkupun menetes beberapa. Rambutku pun berantakan dan masih kubiarkan. Mentari sudah mulai mengintip sehingga membentuk bayangan manusia kala bergerak.


Ruang jenazah.


"Jenazah sedang dirias. Anda bisa menunggu beberapa waktu" Kata salah seorang petugas.


Aku mengintip dari jendela. Ia dikenakan baju khas biarawati warna biru terang lengkap dengan asesorisnya. Baju itu yang sangat ia idamkan sejak dulu. Aku lemas. Bagaimana aku bisa tidak mengontrol kondisinya. Bagaimana aku tidak menemui kepergiannya. Bagaimana dia bisa meninggalkanku seperti ini. Aku terduduk di lantai. Seluruh persendianku rasanya lemas. Aku tak punya tenaga. Selain karena belum makan apa-apa, aku juga shock berat.


Aku hanya terduduk lemas di lantai rumah sakit tepat di depan ruang jenazah yang dirias. Aku tidak menyangka secepat ini. Luka tusukan jarang orang selamat. Pasti parah tusukannya. Dan kenapa pelakunya harus temanku juga. Dan kenapa kejadian itu ada di apartemenku.


"Rose!!" Panji tiba-tiba saja muncul dengan berlari ke arahku.


Secara reflek aku memeluknya. Ia pun menyambut dengan pelukan hangatnya. Aku butuh dada untuk bersandar, aku butuh pelukan untuk membenamkan mukaku sebentar saja. Aku ingin menangis tersedu-sedu. Rasanya hampir sama seperti ketika Papa meninggal. Meski Rebecca bukan siapa-siapa, tapi rasanya sama saja. Kehilangan memang begitu menyakitkan.


Panji tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia tahu aku hanya butuh mengeluarkan rasa sedihku. Ucapan apapun tidak akan menghiburku saat ini. Aku menangis sejadi-jadinya. Dan Panji hanya diam memelukku.


***


Pemakaman Rebecca berlangsung haru. Banyak awak media yang meliput secara langsung proses pemakaman biarawati yang mendadak viral di berbagai media. Kasus ini menyita perhatian banyak orang. Aku yakin berita ini pun sampai ke tanah air.


Aku berdiri di samping Panji dan temannya. Ia menemaniku ke pemakaman Rebecca. Ia tahu aku masih sangat rapuh. Apalagi Ibu angkatnya masih belum menerima, dan masih kecewa denganku atas alasan yang tidak nyambung. Kepercayaanku menjadi alasan utamanya.


Dari kejauhan kulihat Kevin berdiri di pintu masuk area pemakaman. Tapi dia tidak masuk. Ia hanya melihat dari kejauhan. Dia pasti merasa sangat bersalah atas ulah adiknya. Tapi di sisi lain, apa yang bisa dia lakukan. Percayalah, akupun merasa bersalah karena tidak mengindahkan ucapan Kevin tentang Claire. Jika saja kala itu aku percaya, aku bisa saja mencegah penusukan itu. Aku bisa saja memberitahu Kevin bahwa Claire ada di apartemenku.


Pemakaman selesai, para pelayat satu persatu meninggalkan tempat. Meski demikian para wartawan masih ramai di lokasi. Mereka menemui Ibu angkat Rebecca. Aku bersama Panji hendak meninggalkan area pemakaman. Kami pun berhadapan dengan Kevin. Ia menunduk sebagai rasa duka yang mendalam.


"Bagaimana keadaan Claire?" Aku bertanya.


"Sudah membaik. Setelah ini ia akan menjalani rehabilitasi" Jawab Kevin.


"Okay" Kataku lirih.


"Kamu sudah menemuinya?" Tanyaku.


Kevin menggeleng. Aku paham. Begitu berat menghadapi ibu angkat Rebecca. Dia pasti tidak terima. Dia adalah orang yang paling kehilangan saat ini. Dan keluarga Claire sampai detik ini pun belum mampu menampakkan muka di depan umum. Keluarga mereka tercoreng saat ini. Namun ada yang lebih menyakitkan dari sekedar tercorengnya nama baik keluarga, yaitu keluarga korban itu sendiri. Mau sampai kapan rasa bersalah itu menghantui mereka.


"Kevin, aku tidak menuntut Claire atas penganiayaan terhadapku, tapi aku tidak menjamin keluarga Rebecca bisa menerimanya" Kataku.


Kevin mengangguk ringan.


"Apa aku bisa meminta bantuan sekali lagi?" Tanya Kevin.


"Apa?"


"Bantu aku bertemu dengannya" Jawabnya sambil menunjuk Ibu angkat Rebecca.


Bagaimana ini? Dua orang yang ia benci bertemu dengannya. Bagaimana dia bisa meredam emosinya nanti. Aku memandang Panji meminta solusi. Panji mengangguk tenang seolah memintaku untuk menerima permintaan Kevin.


Aku memberanikan diri mendekat pada Ibu angkat Rebecca. Aku tahu dia masih kecewa padaku. Dia tidak menyukaiku sejak awal. Dengan kejadian ini semakin dalamlah rasa bencinya padaku.


"Mother" Panggilku. Begitu Rebecca biasa memanggilnya.


Dia menoleh lalu berdiri. Ia memandang Kevin seakan tahu siapa dia.


"Ini Kevin, kakaknya Claire" Kataku memperkenalkan.


Kevin menunduk dipenuhi rasa bersalah, sedang Ibu angkat Rebecca memandangnya lebih lekat lagi.


"Aku ingin bertemu adikmu" Kata Mother.


***


Aku masih di kantor polisi memberikan keterangan. Panji menemaniku, dan beberapa kedutaan turut hadir hari ini. Banyak sekali pertanyaan yang harus kujawab, karena saat ini akulah saksi kunci peristiwa ini. Beberapa saksi juga dimintai keterangan, seperti petugas hotel, resepsionis dan pemuda yang nongkrong di tepi jalan. Ia memberikan kesaksian tanpa diminta. Karena mungkin ia merasa telah salah menilai sikap seseorang.


Dengan semua kesaksian itu, aku dinyatakan sebagai korban dari peristiwa ini. Tapi karena Claire berada di bawah perlindungan keluarga berada, polisi mengupayakan penyelesaian kekeluargaan. Mereka selalu memintaku untuk tidak memperkeruh suasana dengan menuntut Claire.


Okelah, akupun tidak ingin mempersulit diri dengan mempermasalahkan ini sekalipun sebenarnya nyawa yang dipertaruhkan. Namun keluarga Claire berjanji hal seperti ini tidak akan terjadi lagi. Mereka memastikan Claire menjalani pengobatan dan rehabilitasi. Tapi aku tak yakin akan berhasil. Sebab penyakit itu tidak bisa disembuhkan dan perilakunya sulit dikontrol.


"Rosa, ada telepon untuk anda" Kata salah seorang kedutaan.


"Halo..." Sapaku.


"Ha...halo.. Rosa..."


Suara itu. Jantungku berdebar kencang saat mendengar suara itu. Suaranya sedikit serak tapi aku masih hafal suara itu. Suara yang bertahun-tahun tidak kudengar. Suara yang selalu kurindukan selama ini. Suara yang seakan mengangkat tubuhku ke awang-awang. Seakan semua luka dan semua beban terlepas sementara. Tubuhku ringan sampai terasa melayang. Entah apakah kakiku masih berpijak di bumi atau tidak. Suara itu...


***