My Name Is Rose

My Name Is Rose
Menunggu



Aku denger berita loe di tivi, syukurlah lo selamat, saran gue, keluar dari kantor itu secepatnya. Makin cepat makin baik. Banyak cara menuju bahagia.


Email dari Dinda. Jika dia tahu berita itu, artinya dia masih di Jakarta, minimal masih di Indonesia. Dia memperingatkanku untuk menjauh dari circle Nyonya Hamdani. Kupikir setelah Clara pergi jauh, Nyonya Hamdani tidak akan terlalu benci denganku. Pasalnya, yang selama ini ia khawatirkan justru putri angkatnya. Tapi siapa yang akan menjamin dia tidak akan berbuat di luar nalar?


Yang jadi pikiran hingga sekarang adalah, bagaimana Jacob bisa tahu tempat tinggalku, bagaimana pula dia bisa tahu kalau jari itu aku akan keluar dengan kendaraan yang disiapkan oleh kantor. Bagaimana dia bisa tahu semua itu?


"Baik, keterangan cukup. Saudara membutuhkan pengamanan?" Tanya polisi menawarkan bantuan.


"Tidak Pak, terima kasih"


Aku keluar dari kantor polisi dengan pikiran carut marut. Apakah Dinda menyimpan sesuatu yang belum berani ia sampaikan padaku? Sebenarnya di mana dia? Aku yakin dia masih di sekitar sini. Dia melihatku setiap hari, dia tahu setiap detail yang terjadi padaku. Dia pasti di sekitarku dan aku tidak menyadarinya. Ah, tidak penting di mana dia sekarang. Tapi yang jelas dia sudah mengambil tindakan yang tepat meski mungkin banyak orang menganggap tindakannya pengecut.


Aku kembali ke rumah sakit setelah pemeriksaan selesai. Sampai di lorong rumah sakit semua orang seakan membicarakan ku entah apakah hanya pikiranku yang terlalu sensitif atau memang benar begitu adanya. Pandangan mereka bermacam-macam. Antara simpati, menghujat dan hanya heran.


Aku tidak heran, sebab berita tentang Jacob yang menculik seorang gadis kemudian tewas setelah adu tembak dengan polisi, kini memenuhi setiap detik berita di televisi. Semua sedang berbisik-bisik membicarakanku.


Aku berjalan ragu melewati mereka yang memandangku dengan pandangan berbeda. Aku sampai di depan kamar Alanta, dan suasana sedang sepi. Hanya ada dua perawat yang lalu lalang mengantar obat. Aku tidak berani masuk. Alanta sedang terbaring lemah, aku takut kehadiranku merubah kondisi medisnya. Entahlah aku tidak bisa memberi nama pada perasanku saat ini. Yang jelas aku takut untuk masuk.


"Rosa" Panggil seseorang dari arah samping.


"Bu..." Jawabku.


Bu Mariana memandangku dengan padangan berbeda. Benar-benar berbeda. Aku tidak pernah melihat beliau seperti ini sebelumnya. Pandangannya tajam, dahinya berkerut dan matanya berkaca-kaca. Entah apa yang dipikirkannya.


"Sudah cukup ...Rosa...sudah cukup...apa yang kupendam selama ini sudah cukup. Dari awal aku mencoba untuk menurunkan ego, berupaya mengerti pemikiran Alanta, tapi sekarang tod bisa lagi Rosa.... Sudah cukup. Jangan berhubungan lagi dengan Alanta" Kata Bu Mariana diakhiri dengan beberapa air yang menetes dari sudut matanya.


Sungguh mendengar itu hatiku remuk. Bu Mariana yang selama ini menjadi pelindung, yang selalu ramah dan baik padaku, hari ini menyerah. Aku tak menyangka jika akhirnya beliau memintaku putus dengan Alanta. Apakah semua orang tua akan seperti itu jika dalam kondisi yang sama? Apakah aku memang tak pantas untuk diterima?


"Bu....tolong beri saya kesempatan. Saya tahu saya salah. Setidaknya biarkan saya bertanggung jawab atas apa yang menimpa Alanta" Pintaku.


"Dengan cara apa? Kamu akan kembalikan kakinya yang tertembak dan diperkirakan lumpuh? Bisa kamu? Lihat...lihat anak saya!!" Bu Mariana memaksa tubuhku berbelok arah menghadap ke jendela untuk melihat Alanta yang terbaring lemah.


"Lihat dia, bernafas saja masih dibantu selang oksigen, makan masih menggunakan selang NGT. Satu kakinya diperban full, kamu pikir sederhana saja yang Alanta alami?? Bisa kamu kembalikan dia seperti semula?? Ha??"


Tahukah beliau, tak hanya beliau yang hancur berkeping-keping melihat kondisi Alanta. Aku pun demikian. Hatiku remuk, hancur, ditambah tumpukan rasa bersalah uang setiap detik menghantui. Aku bahkan tidak bisa menelan sesuap nasi, tidur pun selalu bermimpi buruk. Mimpi tentang kematian. Kematian Alanta. Tak cukupkah hujatan yang kuterima dari masyarakat?


Aku terhenyak karena terkejut. Tak kusangka aku akan mendapat perlakuan seperti ini. Aku hanya bisa terpaku dan menangis. Di saat yang bersamaan, Om Ibra datang dengan berlari dan menenangkan Bu Mariana. Om Ibra memberikan kode agar aku segera pergi menjauh. Sungguh aku tak pernah melihat Bu Mariana emosional seperti ini. Lukanya begitu berat dengan apa yang dialami putranya.


Meski Bu Mariana mengusirku, aku tidak lantas pulang. Aku menunggu di luar. Aku akan terus menunggu sampai kudengar kabar baik tentang kondisi Alanta. Seorang diri merajut harapan, aku kedinginan diterpa angin malam. Tak mengapa, kondisi seperti ini tak menyurutkan niatku barang sedetik untuk menunggu kabar baik tentang Alanta. Aku masih menunggu meski sudah larut.


"Kopi? Atau teh?" Seseorang berdiri di sampingku menawarkan minuman.


Aku mendongak. Afrizal. Dia datang membawa dua cup minuman hangat.


"Teh" Jawabku lirih.


Secup teh pansa diberikannya padaku. Ia lalu duduk di sampingku.


"Tidak ada gunanya menunggu di sini. Habis ini aku antar pulang" Katanya.


"Thanks, gak perlu, aku bisa pulang sendiri jika mau. Tapi aku mau di sini saja" Jawabku lirih sambil menyeruput teh paas pemberiannya.


"Mau sampai kapan? Orang tuanya sudah ada untuk jagain dia. Keluarga besarnya...gantian jagain. Jadi apa yang kamu khawatirin?"


Kematian. Aku takut kematian menyapa Alanta sebelum aku menemuinya. Ah, jawaban itu hanya bisa kulontarkan dalam hati. Sulit rasanya mengatakan hal seperti itu. Karena ucapan seringkali menjadi doa.


"Jangan ngerayu aku. Aku gak akan pulang"


"Okey. Tetaplah di sini, sampai besok sampai kamu lemas dan tidak mampu berdiri, kayak gini kamu bilang mau bantuin Alanta? Jika kamu saja lemah gimana mau bantuin cowok lu?"


Aku melihatnya degan tajam. Tahu apa dia tentang kami? Tentang perasaanku?


"Jangan berbuat konyol. Kamu pikir Alanta akan senang dan bangga ceweknya nungguin dia sadar sampek seperti ini?"


Alu hanya terdiam dan melihat dengan terpaku. Tapi dia benar. Kurasa begitu.


"Ayo pulang. Besok silahkan datang lagi. Gue janji akan stay buat ngabarin kondisi dia"


Akhirnya Afrizal pun mengantarku pulang. Aku pulang dengan perasaan tak karuan. Aku tidak tenang jika berada di rumah. Tapi menunggu di rumah sakit pun tidak akan berati apa-apa. Afrizal tampaknya benar. Untuk menyokong Alanta, aku harus menjadi orang yang kuat. Bagaimana akan membantunya jika aku pun lemah. Tapi meskipun menjadi orang yang kuat bagaimana aku bisa membantunya jika bertemu saja tidak diperbolehkan. Oh Tuhan. Gusti...