My Name Is Rose

My Name Is Rose
Taman Hijau



"Jadi, event ini diperuntukkan bagi para remaja maksimal umur dua puluh tahun. Selain dengan tujuan pemasaran dan promosi, kita juga mengajak generasi muda untuk mencintai batik, sebagai ciri khas bangsa kita. Mereka akan membuat fashion dari batik sehingga menjadi trend mode dan menghilangkan kesan tua. Kesannya yang pakek batik itu sudah bapak-bapak dan ibu-ibu. Eh ternyata anak muda juga pantas memakai batik dengan model fashion lebih muda. Terima kasih" Aku mencoba menjelaskan event yang kurencanakan.


"That's right... Saya setuju. Event-event yang melibatkan anak muda begini yang biasanya meledak" Salah seorang petinggi berkomentar.


Dan beberapa yang lain manggut-manggut. Artinya, aku bisa meyakinkan mereka akan event yang kuprogramkan ini. Kecuali sepasang suami istri yang menjadi pemegang saham tertinggi perusahaan ini, Nyonya Hamdani beserta suami. Mereka tampak bergidik melihatku presentasi. Jelas, mereka tidak nyaman aku berada di depan. Mereka menerimaku dengan terpaksa. Maka bisa jadi mereka akan memecatku kapan saja. Tapi apakah boleh memecat seseorang tanpa kesalahan? Ini bukan lagi outlet yang dimiliki satu orang. Ini perusahaan yang dimiliki beberapa pemegang saham. Meski dia pimpinan, dia tidak bisa main pecat begitu saja.


"Siapa tadi namanya....Rosa ya..masih muda...terus semangat ya" Puji salah seorang petinggi perempuan yang rambutnya sebagian telah beruban. Aku belum mengenal siapa orang itu. Yang jelas, Nyonya Hamdani beserta suaminya sangat menghormatinya. Terlihat dari bagaimana mereka berdua menyambut kedatangannya dan mengantarkannya keluar ruangan.


Akhirnya, tugas pertamaku berhasil. Event itu akan dilaksanakan di tiga tempat secara bertahap. Jakarta, Semarang dan Surabaya. Mereka akan dengan bangga berkata, 'itu lho anaknya Pak Har'. Papa, apa Papa melihat, kursi Papa kududuki saat ini. Begitu empuk rasanya Pa. Papa pantas mendapatkan kursi itu. Biar aku yang meneruskan Pa.


Tit..tit...suara sms.


Taman hijau dekat air mancur. Gak jauh dari kantor.


Itu dari Rania. Dia ingin mengajakku bertemu. Apakah kondisinya sudah membaik sehingga mengajak bertemu di luar? Kudengar dia memang sudah pulang dari rumah sakit, tapi luka bakarnya tidak mungkin sembuh secepat itu kan?


Memang benar, ada taman sehijau ini tak jauh dari kantor. Sesuai namanya, taman ini asri dengan banyak tumbuhan cemara lilin. Di bagian tengah ada danau buatan yang ukurannya kecil. Ada jalan setapak mengelilingi danau yang kurasa asyik berjalan di sana. Sayangnya tidak ada kursi untuk duduk para pengunjung. Atau mungkin memang sengaja dibuat demikian agar tidak terlalu banyak pengunjung yang datang dan mengotori taman.


"Kelihatannya jauh lebih baik sekarang?" Tanyaku berhadapan dengannya.


Dia tidak datang sendiri. Seorang pembantu rumah tangga turut menemaninya. Ia menunggu di jalan besar. Ia akan datang jika Rania memanggilnya. Hanya kami berdua di sini sekarang. Dia duduk di atas kursi rodanya. Sedang aku berdiri di sampingnya, menghadap ke danau.


Melihat kondisinya membuatku miris. Tangan kirinya digendong plus penuh dengan perban. Kakinya pun masih berbalut perban namun ia tutupi dengan selimut tipis sehingga tak tampak dari luar. Ia pun mengenakan mantel tipis untuk menutupi tubuhnya yang terbakar. Kerudung hitam panjang pun menutupi wajahnya. Lukanya cukup parah.


"Ada tiga dokter spesialis yang menangani. Keluargaku mampu untuk membayar itu"


Yah, dia masih saja pamer. Aku tersenyum kecil.


"Tumben. Kenapa ngajakin ketemu?" Tanyaku basa basi. Sebenarnya di dalam hati, ingin rasanya aku menghambur ke arahnya, menangis sejadi jadinya karena nelangsa melihat kondisinya. Juga karena begitu merindukannya. Tapi aku harus tegar. Setidaknya pura-pura tegar.


"Untuk apa kamu masuk ke perusahaan Papa aku? Apa yang sebenarnya kamu rencanakan?"


"Aku nggak nyangka kamu nanya itu"


Seakan aku merencanakan sebuah kejahatan. Dia mungkin tidak tahu bahwa itu adalah kompensasi atas dicabutnya laporan tentang upaya pembunuhan di Bogor. Atau sebenarnya tahu tapi berlagak tidak tahu.


"Oh hahahaha" Aku tertawa geli mendengarnya.


Begitu remeh rupanya aku di matanya. Passionku adalah kerja menjadi pelayan. Itu yang ingin ia sampaikan. Aku duduk di atas batuan besar di samping Clara. Kuambil batu kecil dan kuletakkan tepat di depan roda kursinya, dengan maksud menjaga agar roda tidak bergerak.


"Itu kursi Papa ku. Posisi di mana dia kerja dulu. Dan sampai sekarang belum ada yang ngisi. Jadi wajar kan kalau aku sebagai anaknya menggantikan perannya. Sedikit banyak aku belajar darinya dulu" Aku menjelaskan.


"Kursi itu bukan warisan. Mana bisa diturunkan begitu. Lagipula kamu bukan anak kandungnya" Kilahnya.


"Sekarang bisa, khusus untuk yang berpotensi. Lagipula kamu juga bukan anak kandung Pak Hamdani. Jadi siap-siap aja, masa depan kamu harus punya tabungan sendiri, karena bisa jadi kami nggak dapat warisan karena hanya anak angkat"


Mendengar kata 'berpotensi' tampaknya begitu sensitif di telinga Clara. Tampak bagaimana dia memandangku dengan tajam setelah aku berkata demikian.


"Ran....kenapa kamu bunuh diri?" Tanyaku lirih.


"Aku tidak bunuh diri" Jawabnya tegas dan cepat.


"Lalu kebakaran itu kecelakaan? Rasanya Tidak mungkin" Komentarku.


"Kenapa kamu selamatkan aku, kenapa tidak kau biarkan saja aku hangus terbakar?" Giliran Rania bertanya padaku.


"Siapa bilang aku menyelamatkanmu. Kalau kamu mati, kamu akan bebas dari semua hukuman akibat perbuatanmu. Dan aku nggak mau itu" Kataku santai.


"Cukuplah Ros, kamu nggak lihat apa, mukaku hancur begini. Bukankah itu cukup untuk membalas sakitmu padaku?" Kali ini Rania memelas.


Miris rasanya aku mendengar itu. Apakah aku terlalu bodoh atau bagaimana, aku tidak bisa benar-benar marah dengannya. Aku hanya berlagak. Yang benar adalah, aku pun hancur melihat kondisinya seperti ini. Seharusnya semua tidak menjadi seperti ini. Semua kacau hanya karena sebuah identitas yang takut terbongkar. Ibarat bayangan harimau yang begitu ia takutkan. Padahal yang disangka bayangan harimau, ternyata hanyalah bayangan kucing.


"Non....mau hujan!!" Pembantu yang mengantarnya sudah mejemputnya.


Benar. Langit mendung, pantas saja mendadak udara dingin menerobos sela-sela bajuku. Sang pembantu membawa Clara pergi. Di jalan besar, mobil putih sudah menunggu sejak tadi. Kubiarkan dia pergi. Melihatnya di atas kursi roda seakan memberikan pertanyaan besar. Pantaskah aku berbuat ini? Ibarat lawan sudah terjatuh, pantaskah aku terus memukulinya? Posisi itu. Aku hendak merebutnya kembali. Apa yang seharusnya menjadi milikku, yang kini berada di tangan orang lain.


Darrr....hujan mulai turun bersama dengan suara petir. Aku tidak menyadari gerimis yang mulai turun mengawali hujan. Tahu tahu sudah hujan deras begini. Tapi aku enggan beranjak pergi. Kubiarkan hujanembasahi sekujur tubuhku. Siapa tahu hujan ini mampu mengguyur segala permasalahan dalam hidupku, paling tidak yang ada di kepalaku saja.


***