My Name Is Rose

My Name Is Rose
Kecurangan



Waktu sudah menunjukkan pukul 06.30 Wib. Aku harus bergegas. Semua orang tahu bagaimana macetnya kota Jakarta. Sudah kupastikan aku telat hari ini. Kalau mau tepat waktu seharusnya jam 6 aku sudah berangkat.


Kudengar ada seseorang di ruang tamu. Papa sedang ngobrol dengan seseorang di sana. Sementara aku harus menata bekal Monica terlebih dulu. Bekal selesai, saatnya berangkat.


"Ros...ini dijemput temennya" Kata Papa.


Aku segera datang memenuhi panggilan Papa. Rupanya sedari tadi Papa ngobrol dengan Alanta. Berani sekali dia datang kerumah menjemputku. Dia berani menghadapi Papa.


"Alanta"


"Yuk berangkat. Udah telat" Katanya.


"Tapi..aku harus antar Monica dulu ke sekolahnya"


"Its okay. Yuk!!"


Berboncengan bertiga begini rasanya aku seperti ibu muda. Ah, apa begini rasanya naik motor dengan membawa anak. Seru juga. Sekolah Monica tidak jauh dari rumah. Cukup sepuluh menit kami sidah sampai di TK tempat Monica bersekolah.


Sepanjang perjalanan menuju sekolahku, Alanta memacu motornya cukup kencang. Aku tahu ini sudah sangat terlambat. Akibatnya Alanta ngebut agar sampai tepat waktu. Terpaksa aku berpegangan erat pada pinggang Alanta. Semakin kencang aku semakin takut. Kupeluk erat pinggangnya sampai tubuhku bersandar di tubuhnya. Kakiku bergetar karena mesin motor.


Sekencang apapun, Jakarta tetaplah Jakarta. Macetnya tidak bisa dicegah. Kami berdua terlambat. Gerbang sudah ditutup. Padahal kami baru telat sepuluh menit saja. Tapi gerbang sudah rapat. Gerbang First Internasional School ni sangat tinggi. Siapapun yang terlambat tidak akan bisa mencari bantuan dari dalam.


"Aduh telat. Gimana dong" Keluhku.


"Ayo ikut!" Alanta menggandeng tanganku. Kami berlari kencang menuju area belakang sekolah.


Sungguh ini kali pertama aku telat begini. Sampai harus mencari celah seperti ini. Lewat depan oun harus menunggu sekitar sejam baru akan ada satpam keliling. Huft.


"Ayo naik" Kata Alanta.


"Ha? Naik? Kesini?"


Yang benar saja. Alanta menyuruhku naik ke punggungnya supaya bisa meraih pohon carsen. Lalu merangkak sampai ke tembok yang mengelilingi sekolah. Yang benar saja. Aku seorang perempuan, mana mampu aku melakukan itu.


"Ayo!!" Alanta mengulangi.


"Aku gak bisa Alan...aku...gak biasa begini"


"Makanya ini ilmu baru... Ayo kamu harus coba"


Ilmu baru dari mana coba. Ilmu baru cara masuk kelas karena telat? Tapi aku tak punya pilihan. Aku sudah terjepit sekarang. Mau tak mau aku harus menurut. Kuletakkan kedua telapak kakiku di atas punggung Alanta. Lalu pelan-pelan Alanta berdiri, sehingga aku bisa naik ke cabang sebuah pohon carsen. Untuk merangkak pun aku masih ragu-ragu. Ya, ini ilmu baru. Ilmu merangkak. Huft. Kami berdua sudah berada di dalam sekolah. Aman. Kami masuk ke kelas masing-masing.


Kupikir masalah selesai begitu saja. Ternyata aku salah. Ini sekolah bertaraf internasional. Ijazahnya bisa untuk melamar kerja di luar negeri. Banyak kamera dimana-mana. Jelas tindakanku masuk ke dalam sekolah dengan cara curang terekam kamera pengintai.


"Ada yang namanya Rosa Nirwasita?" Seorang guru dayang ke kelas untuk memberitahukan itu.


"Iya, saya Pak" Jawabku.


"Silahkan datang ke kantor BP sekarang"


Tentu saja semua mata tertuju padaku. Jika siswa sudah dipanggil oleh BP, maka kemungkinannya ada dua. Siswa itu melanggar aturan atau dia sedang mengadukan masalah. Jika itu terjadi padaku, maka kemungkinan pertama lah yang paling mungkin.


Aku sudah berada di kantor BP. Guru BP sedang membuka-buka suatu berkas sebelum ia menemuiku. Aku gugup. Mungkin aku akan mendapatkan hukuman atas tindakanku.


"Begini Rosa, kamu tahu kenapa saya panggil kemari?" Tanya Guru BP.


Aku menggeleng. Sebenarnya aku tahu, ini pasti soal memanjat tembok tadi pagi. Namun aku pura-pura tahu sambil berharap bahwa ini bukan mengenai masalah tadi pagi.


"Kami telah melanggar beberapa aturan. Silahkan cek di sini" Guru BP memperlihatkan sebuah berkas.


Membantah guru, membully teman, memanjat tembok. Itu yang tertera di sana. Kapan aku melakukan dua hal yang lain? Tapi aku hanya bisa diam mendengarkan.


"Silahkan lihat rekaman cctv ini" Kata Guru BP.


Dalam rekaman itu tampak jelas aku memanjat dibantu oleh Alanta. Aku malu. Sungguh. Aku merasa tidak pantas berada di sekolah sebagus ini. Apalagi mendapat perlakuan istimewa berupa beasiswa pendidikan penuh di sini.


"Kamu mengakui?"


"Ya bu"


"Kamu tahu, apa yang kamu lakukan itu adalah kecurangan. Dan sekolah ini tidak mentolerir kecurangan dalam bentuk apapun"


Oya? Benarkah? Lalu bagaimana dengan kebocoran soal atau bahkan mungkin juga jawabannya saat seleksi kandidiat olimpiade? Apakah Guru BP ini tidak tahu akan hal ini?


"Baik. Kamu tahu konsekuensi nya?"


"Bersihkan toilet. Nanti bel istirahat harus sudah selesai" Katanya.


"Tapi Bu...aku memanjat tembok bersama seseorang. Kenapa hanya saya yang dihukum?"


Guru BP itu tersenyum sinis.


"Kamu sadat dengan apa yang kamu katakan?"


Aku mengangguk pelan.


"Kamu tahu siapa orang yang juga terekam kamera ada di sana?"


"Dia teman saya Bu, Alanta"


"Kamu tahu Alanta itu siapa?"


Aku menggeleng. Apa maksud Alanta itu siapa?


"Alanta itu cucu dari pemilik sekolah ini. Ibunya adalah ketua Yayasan di sekolah ini. Jadi tidak mungkin saya memanggilnya juga"


"Bukankah itu juga termasuk kecurangan Bu?"


"Apa?"


"Apakah memang anak ketua yayasan itu kebal hukum? Apapun kesalahannya tidak akan mendapat sanksi?


"Stop!! Kamu laksanakan hukumanmu atau kupanggil orang tuamu ke sekolah"


Aku berdiri dan segera menuju toilet untuk bersih-berish. Orang tuaku tidak mungkin datang apalagi untuk mendengar hal terburuk tentangku. Mama juga tidak mungkin meluangkan waktunya untuk datang.


Waktu istirahat sebentar lagi datang. Aku tidak punya waktu lama. Aku harus bergegas. Membersihkan toilet seperti ini sudah biasa kulakukan di rumah. Andai aku mendaftar jadi tenaga kerja sudah lolos sejak lama.


"Ini masih belum apa-apa, aku bisa lakukan yang lebih dari ini"


Aku terkejut, tiba-tiba Rania berdiri di hadapanku.


"Itu kamera cctv atau kameramu?" Aku bertanya.


"Kamera cctv dicek seminggu sekali, atau jika ada kehilangan"


"Oh, kamu yang laporin aku ke BP?"


"Menurutmu?"


"Aku masih diam supaya kamu tetap nyaman. Tapi kamu terus terusan nyerang aku"


"Sudah kuperingatkan berulang kali. Kalau kamu masih di sini artinya kamu siap berperang denganku"


"Oke. Rania sudah mati. Cewek dihadapanku ini sekarang adalah Clara. Yang saat ini jadi musuhku"


Rania tampak gemetar dengan gertakanku. Siapa dia tanpa orang tua asuhnya. Dia bahkan tidak bisa berdiri sendiri. Dia tidak memiliki kekuatan apapun. Kekuatannya ada pada orang tua angkathnya.


"Oke"Jawabnya kemudian.


"Aku juga tidak akan menjauh dari Alanta"


Sekali lagi dia mendorongku sambil teriak. Begitu tergila-gilanya dia dengan Alanta sampai tega menyakiti orang lain.


"Jangan bawa Alanta dalam masalah kita" Teriak Clara.


"Tidak bisa. Alanta adalah salah satu masalah kita"


Dia mendorongku lagi meskipun aku tidak membalas hal yang sama.


"Jangan dekati dia!! Alanta itu milikku. Denger gak sih!!"


"Kita lihat saja siapa yang berhasil dapetin Alanta"


"Ngelunjak kamu ya. Sudah untung aku gak bikin kamu dikeluarin sekaligus"


Selepas berkata begitu, Clara keluar dari toilet. Nampaknya dia datang ke toilet hanya untuk menunjukkan apa yang sudah dia lakukan. Aku lemas. Akhirnya kusetujui bersaing dengan sahabat kecilku. Hal yang kuperjuangkan sejak dulu kini kulepaskan.


***