
"Ros!!....Rosa!!!" Suara Alanta memanggilku.
Aku berjalan lebih cepat dari sebelumnya. Aku menjauh. Aku bahkan tidak mempedulikan Silvi yang membawaku kemari, tak peduli apakah Silvi mencariku atau tidak.
"Ros...!!!" Alanta masih memanggilku. Dan aku masih berjalan dengan cepat secepat yang kubisa.
Dan seperti biasa, dia meraih tanganku. Badanku pun berbalik karenanya.
"Selamat ya...Alan" Aku berusaha menyembunyikan perasaanku.
"Kamu mau kemana? Ayuk gabung!" Kata Alanta.
"Aku ada kerjaan, aku duluan ya"
Syukurlah Alanta percaya meskipun sepertinya terpaksa. Aku berlalu dengan perasaan campur aduk. Siapkah aku benar-benar menjauh darinya?
Aku sudah siap. Aku sudah memutuskan untuk benar-benar membuka hidup baru. Siang ini matahari tak begitu terik bersinar. Cuaca mendung namun sepertinya bukan pertanda akan turun hujan. Beberapa jari ini cuaca seperti ini. Tapi semua siswa bersiap-siap jaz hujan unyuk berjaga-jaga.
Aku menunggunya di sebuah taman sekolah. Sekolah ini punya banyak yaman karena memang berkonsep sekolah asri. Banyak siswa yang menggunakan taman sebagai tempat membaca buku mengisi watu istirahat. Sekarang oun tamam ini banyak siswa yang belajar. Membaca, mengetik sesuatu di laptop, atau sekedar berdiskusi.
Tak berapa lama Alanta muncul dengan wajah cerianya. Dia begitu keren dengan jaz almamater yang disingsingkan sedikit lengannya. Dia berlari ke arahku begitu tahu posisiku. Aku berdiri menyambutnya. Untuk sesaat aku bingung apa yang harus kukatakan untuk mengawali maksudku.
Kami duduk bersama, berdampingan, berdekatan, dan harus disadari bahwa hari ini terakhir kami seperti ini.
"Ada yang mau aku omongin" Kataku mengawali.
Alanta menungguku bicara. Sedang aku masih memilih-milih kata yang tepat untuk mengatakan maksudku.
"Aku....sudah dipecat dari kerjaanku" Kataku lirih.
"Hah? Kok bisa? Emang kamu lakuin kesalahan apa?"
Aku menggeleng pelan.
"Ada seorang cewek, yang menyukai kamu dari awal. Dia begitu sayang sama kamu sampai dia mau berbuat apa aja demi dapetin kamu. Termasuk menyingkirkan orang-orang yang dekat dengan kamu. Kebetulan, keluarganya punya pengaruh yang gede banget di kota ini. Dia bisa membuat orang lain kehilangan pekerjaan"
"Siapa sih? Aku kenal orangnya? Orang seperti itu tidak bisa dibiarkan. Dia ngerugiin orang lain loh"
"Gak penting siapa orangnya. Yang penting sekarang adalah menyelamatkan diri aku sendiri. Pokok dari masalahku adalah dekat dengan kamu. Jadi...."
"Oh nggak nggak...itu bukan solusi terbaik. Kamu mau kita jadi jauh kan. Nggak...aku nggak setuju"
"Dengerin dulu Lan..."
"Nggak bisa. Sekarang juga kasih tahu aku, biar aku ngomong sama dia"
"Biar kamu marahin dia, trus dia makin benci sama aku?? dan suatu hari nanti dia bakal ngelakuin yang lebih parah dari ini?? Gak akan menyelesaikan masalah Alan, maka itu hari ini aku minta kerelaan kamu, kita jauh dulu untuk sementara"
"Sampai kapan?"
Alanta masih geleng-geleng. Dia masih tidak menerima keputusanku. Menjauh memang hal yang menyulitkan. Kami sudah terbiasa bersama, sama seperti kebersamaanku dengan Dinda dan Rania dulu. Dan ketiganya harus jauh dariku. Satu persatu menjauh, menghilang. Hidup akan terasa lebih hampa jauh dari sebelumnya.
"Ini gak adil buat aku"
"Tapi ini adil buat aku, buat cewek itu juga. Jadi aku minta tolong, kamu tidak bisa mengawasi aku seratus persen dan setiap detik. Maka aku harus melindungi diriku sendiri"
Alanta terdiam.
Aku meninggalkannya dengan menyisakan seribu perasaan yang belum terselesaikan. Banyak hal yang mungkin ingin ia ungkapkan namun belum terucap. Banyak hal yang mungkin ingin ia tanyakan namun belum sempat tersampaikan.
Segalanya akan berubah mulai sekarang. Jika aku masih bisa ngobrol bareng di perpustakaan dengan Dinda, maka tidak dengan Alanta. Jika Dinda masih bisa memberiku secuil roti di kantin, maka tidak juga dengan Alanta.
Suatu ketika kami bertemu di lorong. Aku melihat dia berjalan dengan tas ransel sebelah kanan. Tak bisa kupungkiri ingin rasanya aku menyapa, bercanda dan berjalan bersama seperti biasa. Tapi aku harus ingat keputusan yah telah kubuat sendiri. Kami berlalu satu sama lain. Namun ketika telah melangkah beberapa, aku menengok ke belakang, berharap dia juga melakukan hal yang sama. Namun yang kulihat dia berjalan lurus menatap jalan di depan.
***
Siang itu masih sama. Mendung. Aku tidak terlalu buru-buru karena tidak sedang mengejar jadwal kerja. Begini rasanya menjadi pengangguran. Bebas, punya banyak waktu luang, dan tidak terlalu capek. Seperti ini pula yang mereka rasakan, Clara dan yang lain. Mereka punya banyak waktu luang. Setiap waktunya adalah untuk belajar, dan menikmati masa remaja.
Aku baru saja keluar gerbang saat kulihat Teh Atih berdiri di seberang sambil melihat kanan dan kir seolah sedang mencari seseorang. Kulambaikan tanganku padanya ketika dia melihat keberadaanku.
"Teh!!!" Panggilku.
Teh Atih segera mendekat. Sudah dua minggu kami tidak bertemu sejak aku dipecat. Kangen rasanya. Kami berpelukan.
Teh Atih yang sudah seperti kakakku sendiri sampai jingkrak-jingkrak.
"Ini nih gak bisa lama-lama Teteh mah, ini teteh cuma mau nyampein ini" Kata Teh Atih dengan memberikan sebuah kartu nama.
"Apa ini Teh?" Kubolak balik kartu itu.
"Itu ada lowongan di situ. Waiters. Tahu tidak? Pelayan sama kayak dulu di outlet. Coba aja" Kata Teh Atih.
"Alhamdulillah, iya Teh segera saya coba"
"Itu restauran lebih gede dari outlet lita jadi pasti gajinya lebih gede juga. Coba ya"
Tak perlu menunggu esok hari, hari itu juga aku langsung menuju resto. Syukur Alhamdulillah. Hilang satu muncul satu. Aku kehilangan pekerjaan di outlet produk susu, tetapi aku mendapatkan pekerjaan baru di tempat yang lebih besar.
Nikmat Tuhanmu yang mana yang kau dustakan. Sering aku mendengar kata itu. Terima kasih ya Robb. Kau masih menolongku di setiap kesulitanku.
Pandan Resto. Di sinilah kini aku bekerja. Restoran ini seringkali disewa untuk keperluan meeting atau workshop. Tak jarang turis yang datang untuk makan di sini. Benar apa kata Teh Atih, ini restoran mahal, jadi tentu saja gajinya cukup tinggi. Namun, sebagai lulusan SMP, dan bekerja secara paruh waktu, gajiku tak sebesar yang dibayangkan. Hanya separuh dari UMR. Tapi berapapun itu, cukup, dan sangat cukup untuk keperluan sehari-hari.
Hidup baru. Ya, ini benar-benar hidup baru. Kehilangan adalah bagian dari masa lalu. Aku audah menutup rapat bagian kelam di masa lalu. Kini aku harus siap menatap masa depan. Meski tak bisa kupungkiri bahwa pendar-pendar kerinduan itu selalu saja menyeruak keluar.
***