
"Jelaskan bagaimana ruangan itu bisa terbakar?"
Kali ini di ruangan berbeda. Sama seperti sebelumnya, ada belasan orang di dalam ruangan ini, tetapi dengan orang yang berbeda. Bu Mariana, Nyonya Hamdani, tiga teman Clara, dan selebihnya adalah polisi. Siapapun pasti akan gugup ketika berhadapan dengan polisi. Begitupun aku.
"Yang saya tahu, ketika saya turun tangga, asap mulai muncul dan ketika saya mendongak ke atas, ternyata dari ruangan itu" Jawabku.
"Kenapa saudara ke atas"
"Teman saya masih di atas, saya harus menyelamatkannya"
"Bagaimana anda tahu teman anda ada di atas?"
"Sebelum kebakaran itu, kami berdua ngobrol di sana" Sungguh aku bosan menjelaskan itu berulang kali pada siapapun yang mempertanyakan itu.
"Ngobrol apa kalau boleh tahu"
"Hanya obrolan ringan, tentang masa-masa dulu saja"
"Baik. Apakah saudara bisa jelaskan tentang benda ini?"
Polisi menunjukan dua benda yang dibungkus. Ketika dibuka, isinya puntung rokok, dan satunya lagi potongan kue tart yang tinggal secuil.
"Astaga Rosa kamu ngerokok?" Nyonya Hamdani terkejut, namun ia segera bungkam setelah polisi melihat padanya.
"Ini milik saudara?" Tanya polisi.
"Bukan"
"Jadi maksud kamu Clara yang ngerokok?"
"Nyonya tolong diam dulu" Potong polisi.
"Saya tidak merokok Pak" Jawabku.
"Baik, lalu yang ini?" Polisi bertanya tentang secuil potongan kue tart.
"Dia yang membawanya"
"Untuk apa?"
Aku tidak mungkin mengatakan anniversary persaudaraan kami. Tapi dia maupun aku tidak sedang berulang tahun.
"Untuk kelulusan kami Pak" Jawabku akhirnya.
"Oh ya? Bukankah selama ini kalian tidak akur?" Tanya Nyonya Hamdani.
"Selama ini kami tidak akur, maka tidak ada salahnya jika di penghujung pendidikan kami saling mengakui kesalahan dan saling memaafkan bukan?"
Beberapa polisi tampak manggut-manggut, namun beberapa yang lain mengerutkan dahi seakan menelisik perkataanku.
***
Alanta menelpon berkali-kali namun aku enggan mengangkat. Aku sudah menduga pasti dia akan menanyakan hal yang sama seperti yang ditanyakan oleh Bu Mariana maupun polisi. Mereka mencurigaiku membakar ruangan itu. Apa dayaku, karena tidak ada saksi selain aku dan Rania. Stella dan yang lain hanya melihatku turun sebelum kebakaran. Tak lebih dari itu. Lalu apakah itu bisa menjadi bukti aku bersalah?
Hari ketiga. Aku hendak menuju First untuk memenuhi panggilan penyelidikan. Namun lebih dulu Bu Mariana ada di depan rumahku.
"Ibu mau menjemput saya?" Tanyaku.
"Ya, tapi sebelum itu, Ibu ingin ngobrol sebentar bisa?"
Aku mengangguk.
Memang tidak mudah meyakinkan orang lain tentang apa yang kita lihat dan kita dengar jika merak tidak melihat atau mendengarnya sendiri. Aku seperti selir dalam drama korea. Tuduhan yang tidak masuk akal namun justru dipercaya.
"Ceritakan yang sebenarnya pada Ibu. Apa kalian berantem malam itu?"
Aku mengangguk pelan. Melihat jawabanku, Bu Mariana menarik nafas berat.
"Itu akan memberatkan bukti bahwa kamu sengaja melakukan itu" Kata beliau
"Masalahnya orang akan berpikir logika, jika kamu nolongin dia kamu akan memiliki luka bakar di tubuh. Tetapi kenyataannya tidak"
"Ibu juga tidak percaya dengan saya?" Mataku mulai berkaca-kaca.
"Rosa. Ibu percaya kamu tidak mungkin melakukan tindakan seperti itu. Tapi kita harus berpikir bagaimana membuktikannya. Sebab Bu Hamdani menuntut sekolah untuk mengusut tuntas kasus ini. Dia tidak akan berhenti sampai jelas terbukti bagaimana kebakaran itu bisa membakar putrinya"
Begitulah seorang ibu. Meski hanya ibu angkat, Nyonya Hamdani begitu keras memperjuangkan putrinya. Sungguh aku iri dengan Rania. Keluarga barunya menyayanginya dengan amat dalam. Di ruangan itu tak sebanyak hari kemarin. Masih dalam rangka meminta keterangan para saksi termasuk aku. Aku duduk sendiri, berbeda dengan teman-teman Clara yang bergerombol, polisi maupun pihak sekolah.
"Ya saya memang lihat Mbak ini bersama saudari Clara, tetapi saya tidak ingat posisinya" Kata salah satu petugas damkar yang menjadi saksi.
Aku bersyukur dia mengatakan itu, artinya aku benar telah menolong Clara waktu itu.
"Itu masih belum cukup Pak, saya yakin itu hanya akal-akalan anak ini. Mungkin setelah membakar ruangan itu anak saya masih hidup, dia kesana untuk memastikan anak saya sudah mati atau belum"
Pikiran yang keji. Mana mungkin seorang anak SMA sepertiku mampu melakukan itu seorang diri, kecuali anaknya. Aku tidak bisa menjawab apa-apa. Aku hanya diam dan menunggu bagaimana Tuhan membuka jalan.
"Bu Ketua Yayasan, bisakah saya melihat rekam jejak saudari Rosa" Kata salah seorang.
"Sayang sekali Pak, anak ini dikeluarkan saat naik ke kelas dua, jadi rekam jejaknya hanya sampai akhir kelas satu" Hujat Nyonya Hamdani.
"Benar demikian Bu?" Taya polisi memastikan.
"Lebih tepatnya mengundurkan diri Pak" Bu Sarah menyahut.
Dengan sahutan Bu Sarah itu, Nyonya Hamdani memicingkan mata. Ia terlihat kesal dengan pembelaan Bu Sarah.
"O ya? Alasannya?" Tanya Polisi lagi.
"Biaya" Jawab Bu Sarah tegas. Sebab Bu Sarah lah yang menyarankan aku untuk pindah dari sekolah ini menuju sekolah lain. Tampak polisi menerima jawaban itu.
"Jika saja Clara ada di sini, dia pasti bisa menjelaskannya Pak" Kataku.
"Bagaimana kondisi korban?" Salah satu polisi yang sepertinya adalah pimpinan dari yang lain, bertanya pada bawahannya.
"Masih dalam perawatan dan belum bisa dimintai keterangan" Jawab lainnya.
"Apa luka bakarnya serius pak?" Aku khawatir.
"Empat puluh persen"
Empat puluh persen lumayan banyak. Jika sampai hari ini belum bisa dimintai keterangan, berarti sakitnya lumayan parah. Kapan ia akan pulih? Saat itu aku mengintipnya dari kaca jendela dan kulihat sebagian wajahnya juga terkena. Maka kecantikannya akan terganggu. Bagaimana dia menerima kenyataan itu.
Setelah pemeriksaan selama dua jam, aku diperbolehkan pulang. Alanta masih meneleponku berkali-kali. Tentu dia khawatir dengan keadaanku dan mungkin dia tahu aku sedang diinterogasi soal kebakaran itu. Bu Mariana pasti sudah memberitahunya.
"Iya" Akhirnya aku mengangkat teleponnya.
"Alhamdulillah....akhirnya kamu angkat telepon aku" Ucapnya.
Mendengat kalimatnya membuat mataku berkaca-kaca. Andai dia di sini, aku akan membenamkan wajahku di dadanya dan kutumpahkan semua di sana. Dia tidak akan keberatan dengan itu.
"Kamu baik-baik saja?" Tanya Alanta.
"Ya, Clara yang masih terbaring di rumah sakit" Jawabku lemas.
"Rania pasti akan sembuh" Katanya.
Air mataku semakin deras mengucur. Aku nelangsa. Sendiri memendam beban ini. Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika sampai Rania tidak bangun. Memang bukan salahku, tapi bisa jadi ini semua karena aku. Bunuh diri. Menurutku Rania berupaya bunuh diri. Tapi adakah orang uang bunuh diri tetapi berteriak minta tolong?
"Aku kangen...kapan pulang?" Tanyaku sungguh-sungguh sambil menangis tentunya.
"Sebentar lagi. Sabar ya!" Jawabnya.
Dari kalimat-kalimatnya sepertinya dia belum tahu tentang masalah yang kuhadapi. Dia hanya tau aku syok. Apakah Bu Mariana belum memberitahunya?
***