My Name Is Rose

My Name Is Rose
Formulir



Telepon berdering pagi-pagi. Karena Mama masih tidur, akulah yang mengangkat telepon. Suara seorang laki-laki. Suaranya besar, tegas, agak serak sedikit.


"Arini" panggilnya.


"Maaf siapa ya?" Aku bertanya memastikan.


"Jack"


Segera kututup telepon itu. Aku takut. Jack pasti adalah Jacob. Kenapa dia telepon ke nomer rumah, bukan ke nomer hape Mama. Apakah pertemuan tempo hari tidak cukup. Bagaimana ini?


Kriing...telepon berdering lagi. Apa yang harus aku lakukan. Aku takut mengangkat telepon.


"Jangan diangkat!!" Tiba-tiba Mama sudah berada di belakangku.


Mama kemudian mengangkat telepon itu dan memintaku pergi. Aku berpura-pura ke dapur padahal aku mengintip dari balik tangga.


"Kasih waktu dong!!" Begitu kalimat yang kudengar.


"Apa??...yang benar saja!! Oke oke...tapi janji jangan telepon kesini lagi. Deal??" Mama menutup telepon.


Aku berdiri mematung. Aku memikirkan banyak hal yang bisa saja terjadi. Bagaimana jika Jacob menyerbu rumah ini bersama anak buahnya. Bagaimana jika tiba-tiba Mama menghilang karena diculik oleh anak buah Jacob. Atau tiba-tiba mayat Mama ditemukan di suatu tempat. Oh apa yang akan terjadi pada Monica. Sanggupkah gadis sekecil itu kehilangan ibunya.


"Eh kamu nguping ya??" Tiba-tiba saja Mam sudah berada di depanku. Rupanya pikiranku terlalu melayang sampai tak sadar Mama bergerak mendekati posisiku.


"Siapa.....yang telepon Ma?" Aku bertanya dengan rasa takut yang luar biasa.


"Bukan urusan kamu!!" Jawab Mama ketus dan sambil berlalu.


"Apa dia benar-benar akan membawa Mama ke polisi?"


Mama berhenti bergerak. Lalu dia berbalik arah kepadaku. Matanya tajam penuh kebencian. Dia mungkin bertanya-tanya darimana aku tahu itu.


"Ngomong apa kamu barusan??"


"Anak buahnya datang kesini untuk cari Mama. Mereka bilang jika Mama tidak memenuhi kontrak mereka, Mama akan dilaporkan ke polisi" Kataku masih dengan gugup.


"Sssst.... Jangan keras-keras goblok!! Papa kamu bisa denger!!" Mama membungkam mulutku.


Untuk sesaat aku berhenti bicara. Aku melihat Mama yang beberapa kali menyibakkan rambutnya. Aku tahu Mama sedang berada di jalan buntu.


"Jangan turuti dia lagi Ma. Mari kita lapor polisi" Entah apa yabg kupikirkan sampai aku berani mengusulkan hal sekonyol ini.


"Gak...gak bisa... Dia bukan orang yang dengan mudah ditangkap polisi!" Jawab Mama lirih.


"Lalu apa yang akan Mama lakukan?"


Mama menatapku tajam. Seolah sedang mencari sesuatu di dalam mataku. Dia menatapku lekat-lekat.


"Kamu sadar gak sih Ros. Semua ini karena kamu. Kalau saja kamu tidak hadir dalam hidup kami, kesialan demi kesialan ini tidak akan pernah ada dalam hidup kami" Mama berbicara dengan gemetar.


Ya, mungkin saja itu benar. Akulah yang membawa sial seperti yang Nenek katakan. Tahukah dia bagaimana remuknya perasaanku ini. Rasanya hatiku dihancurkan seperti gelas kaca. Pecah kemana-mana. Pecah berpuing-puing sampai tak mampu disatukan. Pecah berantakan hingga tak terbentuk. Siapa yang tak hancur mengetahui kenyataan bahwa dirinya sebagai penyebab kehancuran sebuh keluarga. Di saat banyak manusia sedang mati-matian membangun keluarga, aku justru menjadi penghancur keluarga.


***


Malam ini kembali kulihat Mama keluar dari sebuah mobil. Mobil yang sama yang mengantar pulang Mama waktu itu. Dan dari mobil itu pula seorang pria keluar dan dengan bebas memeluk dan mencium pipi Mama. Tapi pria itu bukan Jacob. Itu orang lain. Tidak mungkin sebuah pertemanan bebas melakukan perbuatan layaknya kekasih. Aku bisa membedakan mana pelukan pertemanan mana pelukan penuh cinta.


"Saya yakin orang itu bukan sekedar teman kerja Mama" Kataku dengan berani. Lebih tepatnya dipaksakan berani.


"Trus kenapa? Laki-laki itu jauh lebih jantan dari Mas Har. Dia bisa memenuhi semua yang kubutuhkan. Dia juga bukan sekedar pria lemah yang cuma bisa duduk sebagai penonton" Jawab Mama ketus.


"Mama lupa dengan kerja keras yang Papa bangun sampai bisa membeli rumah ini?" Aku mengingatkan.


"Kerja keras yang mana? Yang dia lakukan demi menyekolahkan anak panti tak tahu diri?"


"Saya juga yakin, Nenek pasti marah besar jika tahu akan hal ini" Aku mengancam dengan dada bergemuruh.


"Stop!! Jangan mengancamku dengan ancaman murahan seperti itu" Mama mulai marah


"Saya kira saya tinggal mengirim foto Mama ke Nenek, atau akad perjanjian dengan Jacob itu"


Plakk...Mama menamparku. Sakit, tapi aku berpura-pura tak merasakan apa-apa.


"Beraninya kamu mengancam Mama!! Darimana kamu tahu tentang Jacob??"


"Saya juga tahu kemana Mama menemui Jacob waktu itu"


"Kamu nguntit??"


"Mama memberikan sejumlah uang, demi menutup hutang Mama pada Jacob"


"Aaakkkhhhhhh!!!! Hentikan Ros. Apa maumu??"


Mama berteriak. Oh, semoga saja Papa tidak bangun. Atau Monica. Ah tidak, anak kecil itu tidak boleh melihat pemandangan buruk seperti ini.


"Tanda tangani ini, lalu saya akan diam seolah tak tahu apa-apa" Aku menyerahkan formulir pendaftaran First School.


Mama melihat sekilas pada formulir yang kuberikan, kemudian dia tertawa sinis


"Ros...Ros ..demi ini kamu sampai harus melawan Mama. Kuperingatkan ya anak kecil tengik, jangan terlalu jauh mengurusi urusan Mama, jika kamu mau hidup kamu aman"


Meski Mama menanggapi dengan sinis. Pada akhirnya dia juga menanda tangani formulir pendaftaran itu. Huh lega rasanya. Ya, akhirnya aku memutuskan untuk menerima bantuan Alanta. Sore itu Alanta menunjuk ke sebuah masjid. Di sanalah jawaban itu berada. Benar saja. Satu persatu jawaban muncul di hadapanku. Bayangan Ibuku di dalam rembulan kala itu turut menguatkan niatku.


Alanta bilang akan membantuku untuk mendapatkan beasiswa. Sebenarnya aku ragu, karena pendaftaran sudah tutup. Tapi jika Alanta masih membujukku, artinya masih ada kesempatan entah bagaimana caranya.


"Nih" Aku menyerahkan formulir itu pada Alanta. Terlihat jelas betapa Alanta senang dengan keputusanku. Sekolah di First School, jika bukan anak jenius, ya anak orang kaya. Karena biayanya sangat besar. Jadi hanya orang-orang berduit yang bisa menyekolahkan anaknya di sana.


"Kamu yakin?" Tanya Alanta.


Aku mengangguk. Antara yakin dan tak yakin. Entahlah. Aku memutuskan begitu saj untuk mengikuti saran Alanta. Aku hanya yakin Alanta tidak akan membohongiku. Alanta akan selalu berada di belakangku.


"Senin, aku tunggu di gerbang sekolah" Kata Alanta dengan penuh keyakinan.


Aku mengangguk.


Alanta memacu motornya lebih cepat dari biasanya. Dia begitu bersemangat setelah aku memutuskan untuk kembali sekolah. Tugasku masih satu. Mengatur jadwal shift yang sebelumnya pagi, menjadi sore. Aku juga harus berpikir untuk mencari tambahan. Hari libur mungkin, aku bisa bekerja part time saat kerjaku libur. Aku juga harus berusaha berbisnis demi mencukupi kebutuhan sekolah. Aku juga harus ingat bahwa bisa saja beasiswaku nanti tidak selamanya. Mungkin hanya setahun. Karena itu aku harus siap-siap.


***