
"Wuih, anak Papa keren sekali pakai seragam baru"
Tiba-tiba saja Papa sudah berada di belakangku saat aku mengaca di ruang tengah. Dia tidak sendiri, dia bersama Monica.
"Rosa berangkat dulu ya Pa" Kataku mendekati Papa.
Papa tersenyum.
"Doakan Rosa jadi orang sukses ya Pa" Lanjutku.
"Tentu, pasti Nak, apapun yang anak-anak Papa lakukan, Papa pasti akan selalu mendoakan yang terbaik" Jawab Papa.
Papa kemudian memeluk kami berdua, aku dan Monica.
"Ayo ikut Papa" Kata Papa.
Saat ini hanya kami bertiga di rumah ini. Mama sedang ada job sampai dua hari mendatang. Entah itu job sungguhan atau tidak. Papa membawa kani ke kamarnya uang tersambung dengan taman belakang. Papa membuka laci dan mengambil sebuah kotak warna hijau tua. Dari kotak itu Papa mengambil sebuah amplop cokelat.
"Ini ambillah" Kata Papa
Aku menerimanya dengan ragu-ragu karena aku yakin isinya pasti uang.
"Itu simpanan Papa dari pesangon perusahaan. Kemarin saat di rumah tidak ada orang, teman Papa ke sini membawakan pesangon dari perusahaan yang baru cair minggu ini. Dan uang itu Papa alokasikan untuk pendidikanmu. Ambillah" Jelas Papa.
Kenapa? Kenapa untukku, padahal ada Monica, anak kandungnya. Kenapa tidak untuk dirinya sendiri, padahal dia tahu dirinya membutuhkan biaya untuk berobat, untuk terapi, untuk kebutuhan sehari-hari. Dan bagaimana juga dengan Monica yang melihat kejadian ini. Mungkin saat ini Monica masih kecil. Tapi bisa saja dia akan mengingat ini dan baru merasa jika sudah dewasa nanti. Bukankah ini tidak adil? Tidakkah ini berat sebelah?
"Monica, mendekat nak" Panggil Papa.
Monica lun mendekat.
"Kamu juga mendapat jatah" Kata Papa sembari mengeluarkan satu amplop cokelat lagi yang kira-kira tebalnya sama dengan amplop yang diberikan padaku.
" Tapi kamu masih kecil. Biar kakak kamu yang simpan ini ya" Lanjut Papa.
Monica mengangguk
Jujur aku tidak enak. Kenapa harus aku uang menyimpan uang milik Monica. Bagaimana bisa Papa mempercayakan padaku yang bukan saudara kandung. Apakah dia tidak takut aku menyalahgunakan uang ini? Atau kenapa tidak Papa sendiri yang menyimpan uang ini?
Pagu-pagi aku sudah dibuat terharu oleh Papa. Dia adalah sosok ayah yang adil. Dia ayah terbaik yang pernah kumiliki. Lantas kenapa aku masih saja membandingkannya dengan orang tua asuh Rania?
***
Di sekolah
Bel istirahat berbunyi. Dinda sudah menungguku di kanton. Sementara aku masih harus ke perpustakaan mengembalikan buku yang kupinjam kemarin. Inilah hal yang tak pernah kusangka akan terjadi. Dalam perjalanan ke perpus, seseorang menarik tanganku kuat sampai tubuhku terasa terseret. Dia memaksaku untuk berjalan lebih cepat. Rupanya Jessie, teman genk Clara. Dia membawaku ke toilet cewek. Begitu pintu terbuka, dia mendorongku sampai aki hampir terjatuh. Ternyata di dalam toilet, sudah menunggu Clara dan teman-temannya. Mereka menatapku tajam, seperti singa yang siap menerkam mangsanya.
"Hai Ros, apa kabar? Gimana rasanya jadi siswi SMA First Internasional School? Bangga? Tapi gue penasaran deh, kok bisa sih lo masuk ke sini? Pakek jampi-jampi apa? Bagi resepnya dong!" Kata Stella mengawali pembullian ini.
"Kalian mau apa sih?" Aku bertanya dengan berpura-pura tidak takut padahal jantungku bergetar hebat.
"Gak ada. Kita gak suka aja ada sampah di sekolah ini" Sahut Hana.
"Coba lihat deh, rambutnya gak keurus, wajahnya kusam, bajunya dekil...pasti gak pernah disetrika" Giliran Jessie bicara.
"Lo yakin Cla?" Stella memastikan.
"Keluar!!" Clara berteriak membuat teman-temannya terdiam.
Semua teman Clara pun keluar dan sepertinya berjaga-jaga di luar.
"Ada apa lagi sih Ran?" Aku bertanya.
"Kenapa sih Ros? Kenapa kami selalu ikutin aku? Kenapa kamu masuk ke sekolah ini? Di antara banyak sekolah di Jakarta kenapa harus First School?? Oh aku tahu, kamu iri karena aku punya keluarga yang kaya raya dan sayang ke aku, sementara kamu diadopsi oleh keluarga dengan ekonomi pas pasan, makanya sekarang kamu mau balas dendam, iya?"
"Ran sumpah, sama sekali gak ada niatanku kayak gitu" Aku menyangkal.
"Ah basi!!"
"Masalahnya apa sih Ran, apa sih yang kamu takutkan?"
"Malah balik nanya lagi? Masalahku itu kamu!! KAMU!! kalau kamu sudah enyah dari hidup aku, maka masalahku selesai"
Kami terdiam beberapa saat.
"Ran..aku gak pernah cerita ke siapapun tentang masa lalu kita...aku bahkan..."
"Ya sekarang. Besok? Lusa? Tahun depan? Bisa saja kan?"
"Trus mau kamu apa?" Aku sudah putus asa menghadapi pemikiran Clara yang menurutku konyol.
Clara tidak menjawab. Dia justru menyiramkan segayung air tepat di wajahku. Bisa-bisanya dia melakukan itu. Jadilah rambut dan baju bagian dada basah kuyup.
"Kamu keluar dari sekolah ini, atau kamu setuju untuk memulai perang denganku!!" Kata Clara mengakhiri
Seusai berkata demikian, Clara keluar dari toilet diikuti teman-temannya yang telah menunggu di pintu toilet. Remuk hatiku mendengar kalimat yang diucapkan oleh orang uang paling berharga dalam hidupku. Orang yang membuat aku mau diadopsi sebuah keluarga. Orang yang membuatku mau meninggalkan panti. Orang yang membawaku hingga ke Jakarta ini. Semua adalah untuk mencarinya dan membawanya kembali ke sisiku. Tapi kenyataanya sama sekali berbeda.
Tak berapa lama Dinda menemukanku yang masih mengeringkan rambut. Dinda berlari ke arahku dnegan muka bingung.
"Ini kenapa basah begitu Ros?" Tanya Dinda.
"Nggak, tadi ada kran bocor, muncrat kena muka deh" Jawabku asal
Dinda tampak tidak percaya. Dinda lalu masuk ke dalam toilet untuk memeriksa.
"Mana gak ada yang bocor kok" Kata Dinda begitu keluar dari toilet.
"Tadi ada, sekarang udah dibenerin" Jawabku sambil terus mengeringkan rambut dengan handuk kecil yang tersedia di toilet.
Dinda tidak berkomentar lagi meski aku yakin dia masih belum percaya dengan ucapanku. Sungguh aku tidak menyangka akan ada hari ini dimana Clara benar-benar bukan dirinya yang dulu. Dahulu Rania adalah gadis kecil yang lugu dan polos, serta berhati lembut. Lihat kucing tidur saja dia menangis karena kasihan. Sekarang dia seperti manusia tak punya hati. Bahkan dia tega menyiramku di toilet.
Perang. Itu kata yang dia sebutkan. Artinya dia akan terus menyerangku sampai aku memutuskan keluar dari sekolah ini. Maka kuyaniki jika Eva adalah salah satu alatnya untuk menyerangku. Pantas saja Eva terlihat ketakutan menghadapiku. Sebab dia tidka punya setitikpun rasa benci padaku. Tapi dia juga tidak takut padaku. Eva takut pada Clara dan teman-temannya.
Sepanjang jalan pulang aku hanya terdiam memikirkan peristiwa istirahat yang kualami tadi. Bahkan aku tidak menyahut sedikitpun ketika Alanta mengajakku ngobrol. Jujur saja pikiranku terganggu dengan peristiwa tadi. Sebab aku yakin esok dan seterusnya, mereka akan terus mencari cara untuk menjatuhkanku.