
Senin.
Gerbang First Internasional School. Gerbang yang begitu megah. Jauh lebih megah dari Insan Mulia. Jika Insan Mulia hanya memiliki satuan pendidikan SMP, First memiliki SMA dan perguruan tinggi. Saat ini First sedang membangun SD dan SMP. Maka banyak orang yang memprediksi yayasan ini akan menjadi yayasan terbesar dan bergengsi di Jakarta.
Kini aku berada di sini, tempat dimana manusia jenius menimba ilmu, para borjuis menitipkan anaknya untuk menjadi manusia yang jenius pula. Tempat di mana para tokoh mempercayakan anak-anaknya. Tempat yang diidamkan para pemuda.
Aku menyapu sekeliling. Aku sedang mencari seseorang. Seseorang uang membawaku kemari. Seseorang yang sekuat tenaga mengubah pendirianku, sampai aku memutuskan untuk menginjakkan kaki di sini. Alanta. Aku mencari dimana dia kini. Kami berjanji bertemu di gerbang, nyatanya dia tidak ada. Aku masuk dengan langkah ragu.
"Ros!!" Dinda memanggilku dari kejauhan. Aku tak bisa menyembunyikan ini dari ya. Akhirnya aku masuk di sekolah uang sama dengannya. Dinda berlari ke arahku. Di menghambur padaku sampai aku mundur beberapa centimeter.
"Akhirnya!!! Lo sekolah di sini juga kan?" Tebak Dinda.
Aku mengangguk penuh semangat. Beberapa siswa memperhatikanku dengan pandangan aneh. Seorang gadis yang masih memakai seragam SMP datang ke sekolah ini padahal pendaftaran sudah lama ditutup. Bahkan ospek pun sudah berakhir lama.
"Ahhhhh gue seneng banget. Akhirnya kita bisa sama-sama lagi Ros!!" Dinda begitu senang dengan kehadiranku. Anak itu pasti sulit mendapat teman baru. Aku pun demikian. Aku senang bisa bersama sahabatku lagi. Tak terbayangkan bagaimana senangnya Mamanya Dinda jika tahu akhirnya aku sekolah di tempat yang sama dengan anaknya.
"Lo di kelas mana. Yuk gue anter" Kata Dinda.
"Eh, anu Din. Lo duluan aja. Masih ada yang harus gue urus" Jawabku.
"Oh okay, sampai ketemu nanti ya"
Dinda sudah menuju kelasnya. Tapi Alanta masih belum terlihat. Apakah dia membohongiku? Apa tujuannya. Kami tidak pernah punya masalah sebelumnya. Semakin lama aku semakin panik. Aku melengok ke kanan dan kiri seperti orang linglung.
"Udah lama?" Seseorang menepuk bahuku dari belakang hingga membuatku terkejut.
Alanta sudah berada di belakangku entah sejak kapan. Dan dia tidak merasa bersalah sama sekali. Dia malah cengengesan. Dia tak tahu bagaimana aku bingung di sini sendirian. Dia tak tahu kalau aku hampir saja balik pulang karena dia tak kunjung terlihat.
"Darimana aja sih? Aku udah kayak orang gila tau!!" Kataku kesal.
"Lah emang udah gila" Alanta masih saja bercanda padahal mukaku sudah cemberut maksimal.
Dia kemudian membawaku ke ruang waka kesiswaan. Entah kenapa dia membawaku kesini, bukankah seharusnya ke ruang administrasi atau ke ruang kepala sekolah. Aku menurut saja.
"Bu, ini anak yang saya ceritakan" Kata Alanta
Seorang guru perempuan berkacamata itu tersenyum pada Alanta, juga padaku. Kini aku berhadapan dengannya.
"Alan, silahkan masuk kelas" Kata guru itu.
Kubaca papan nama di mejanya. Ayu Sarah. Begitu tertulis di sana. Aku gugup. Sungguh.
"Saya Ayu Sarah, panggil saja Bu Sarah. Saya adalah Waka Kesiswaan di sekolah ini"
Saya mengangguk dengan senyum. Aku masih menanti kalimat apa yang akan beliau katakan padaku.
"Ini sebenarnya menyalahi aturan. Pendaftaran kami sudah ditutup. Kuota murid sudah terpenuhi. Kami menerapkan small class. Satu kelas hanya terisi 20 siswa. Supaya semua siswa dapat terbina dengan baik. Jadi sebenarnya kami sudah tidak menerima siswa baru tahun ini" Kata Bu Sarah.
Aku kecewa mendengar ini. Kenapa Alanta membawaku kemari padahal tahu sekolah ini tidak menerima murid tambahan.
"Tetapi Alanta bersikeras memasukkan kamu ke sekolah ini. Katanya kamu siswa berbakat yang akan membawa nama baik sekolah ini. Anak berbakat seperti kamu layak untuk mendapat beasiswa di sekolah ini. Katanya kamu juga pernah mengikuti olimpiade. Apakah betul?"
Aku mengangguk. Segera kukeluarkan semua piagam penghargaan yang kumiliki. Untung saja aku membawa serta lembaran-lembaran kertas itu. Menurutku, beasiswa erat kaitannya dengan prestasi. Itulah kenapa aku membawa semua piagam yang kupunya.
"Kamu pindah-pindah sekolah, kenapa?" Tanya Bu Sarah.
"Mengikuti Papa saya Bu" Jawabku.
Bu Sarah manggut-manggut.
"Papa kamu tidak hadir?"
"Dia sedang sakit Bu, Papa saya mengalami kecelakaan dan mengalami kelumpuhan" Jawabku tenang.
"Oh, maaf"
Suasana diam sejenak.
"Lalu siapa yang akan membiayai pendidikan kamu. Kami hanya memberikan beasiswa meliputi SPP, uang gedung, seragam, dan biaya ekstrakulikuler. Hal lain di luar itu kamu tanggung sendiri"
"Saya mengerti Bu, Alanta sudah menjelaskan pada saya"
Bu Sarah tersenyum.
"Baik. Serahkan ini pada gurumu di kelas. Kamu ditempatkan di kelas X A. Itu permintaan Alanta" Kata Bu Sarah.
"Wah, tampaknya Alanta sangat spesial ya Bu" Aku berkomentar.
"Alanta itu keponakan kesayangan saya. Kalau saya lagi kangen anak saya, saya ajak jalan Alanta. Hehehe"
"Memang anak Ibu di mana Bu?"
"Sudah meninggal"
"Oh, maaf"
"Silahkan ke kelas, nanti kamu semakin ketinggalan jauh"
Aku menurut. Huft. Begitu mudahnya seorang Alanta mengubah keadaan. Tapi aku beruntung memiliki sahabat seperti dia. tak hentinya aku berterima kasih dalam hati. Tentu saja pada Alanta. Terima kasih juga kepada Tuhan. Dia yang mengirim Alanta padaku.
Kelas X A. Bismillah. Aku membuka pintu kelas itu. Tampak seorang guru sedang mengabsen. Dengan terbukanya pintu kelas, guru itu berhenti mengabsen. Dia memandang ke arahku dengan tatapan penuh tanya.
"Maaf Pak, saya murid baru. Ini berkas saya" Segera kuberikan berkas dari Bu Sarah.
Guru itu tampak memeriksa berkas persis seperti cara Bu Sarah memeriksa piagam penghargaan yang kumiliki.
"Ya sudah silahkan duduk di.... Pojok sana. Hanya itu yang tersisa" Kata Pak Guru.
Aku berjalan menuju kursi tempatku duduk nanti sambil melihat sekeliling. Betapa aku terkejut melihat beberapa orang di antara mereka. Clara, Stella, Hana, Jessie ada di kelas ini. Dinda juga ada di sini. Sungguh ini di luar dugaanku. Aku tak menginginkan satu kelas dengan Clara. Ini akan menjadi masalah tak berujung antara kami. Kenapa Alanta menempatkanku di kelas ini. Apakah dia tahu masa lalu aku dan Clara.
Clara dan genk nya menatapku tajam. Sementara Dinda terlihat sangat senang. Dia bahkan menukar tempat duduknya dengan anak lain sehingga bisa satu bangku denganku. Beberapa kali Clara dan genknya saling berbisik dan beberapa kali mereka melirikku. Tentu mereka tidak senang dengan kehadiranku. Sungguh aku tidak ingin punya masalah dengan mereka lagi. Bagaimana aku bisa fokus belajar jika terus bermasalah dengan mereka. Keluargaku sudah penuh dengan masalah. Aku tidak ingin menambah lagi. Aku menunduk. Menutupi diriku dengan pura-pura tidak tahu.
***
.