My Name Is Rose

My Name Is Rose
Mading



Suatu pagi di sekolah. Aku berjalan beriringan dengan Dinda, sahabatku. Hari ini kebetulan kami bertemu di gerbang sekolah. Jadilah kami jalan bersama menuju ke kelas.


"Ros tolong dong buangain ini ke tempat sampah di pojokan dong. Males jalannya nih" Kata salah seorang siswi sambil menyodorkan plastik hitam besar.


Seusai memberikan kantong plastik itu, siswi itu langsung pergi. Apa maksudnya ini. Kenapa dia menyuruhku, kenapa tidak dia lakukan sendiri jika dia sedang piket. Lalu datang lagi seorang siswa menghampiri kami.


"Ros, tolong kasihkan ini ke kantor ya, ditunggu Kepsek" Katanya.


Kenapa ini. Kenapa semua menyuruhku. Kenapa tidak dilakukan sendiri. Huft.


"Ini kenapa kok minta tolong ke lo semua ya Ros?" Dinda bingung sama sepertiku.


Aku mengangkat bahu tanda tak tahu.


"Ros, ini gelas kotor dicuci ya, cepetan ya, ditunggu guru-guru pada haus" Kata seorang siswi lagi.


Ada yang tak beres. Jelas. Kulihat banyak anak berkerumun di depan mading sekolah. Mungkin ada pengumuman di sana. Aku dan Dinda pun segera merapat. Kami pun ingin tahu apa yang terpajang di papan mading. Tentu sesuatu yang oenting samali banyak anak berkerumun seperti ini.


"Nah ini anaknya. Ros nanti aku gantiin piket perpus ya" Salah seorang anak berkata.


Pantas saja semua orang menyuruhku. Rupanya di papa mading terpasang wajahku saat masih berseragam pelayan outlet, dan dengan pose beres-beres. Itu masih belum seberapa. Di sana juga tertulis ' pelayan, silahkan suruh apa saja ke cewek ini, pasti beres '. Siapa yang menaruh fotoku di sini dengan tulisan seperti itu.


"Kurang ajar ya. Siapa sih yang nempelin di sini. Kurang kerjaan aja" Kata Dinda kesal.


Tanpa banyak bicara, aku segera melepas foto-foto itu berikut tulisannya. Dinda segera membantuku sambil terus menggerutu. Aku tahu siapa yang melakukan ini. Pasti Clara dan teman-temannya. Kemarin dia datang ke outlet dan menyindirku sesuka hatinya. Tapi aku lebih memilih diam. Aku tak ingin menambah runyam situasi. Ya kalau benar Clara yang melakukannya. Jika terbukti bukan dia, aku bisa dituntut. Apalah dayaku melawan kaum borjuis itu.


"Bubar semua bubar!!" Teriak Dinda.


"Huuuuu" Begitu jawab para siswa yang berkerumun.


Rasanya air mataku hampir saja jatuh karena malu. Malu bercampur sedih. Kok ada anak yang begitu ingin menjatuhkanku. Betapa aku merasa sedang diinjak-injak hingga kusut. Aku tak tahan lagi. Beberapa tetes sudah keluar menerobos pertahananku.


"Ini ada apa? Ros? Kenapa?" Entah kapan datangnya, tiba-tiba saja Alanta sudah ada di sekitarku.


Aku segera mengusap beberapa tetes air di pipiku.


"Eh pas banget ada Kak Alan...ini Kak...ada yang naruh fotonya Rosa pas kerja. Pakek tulisan kayak gini juga" Kata Dinda menjelaskan.


Alanta melihat ke arah mading sejenak lalu dia melihat foto-foto yang sudah kami lepas dari papan. Dahinya berkerut melihat foto-foto yang masih tertempel di mading.


"Mana fotonya, aku punya ide. Udah kalian masuk kelas. Datang lagi kesini waktu istirahat okay" Kata Alanta sembari berlari menjauh.


Entah apa yang sedang dipikirkan Alanta. Apa yang sedang dia rencanakan.


"Tuh Ros, Kak Alan itu baik banget loh sama lo. Eh lo belum cerita gimana ceritanya kalian saling kenal, trus kelihatan deket banget gitu" Kata Dinda penasaran.


Meski aku sangat malas menceritakan tentang kami waktu SD dulu, tapi kuakui, pertanyaan Dinda itu sedikit mencairkan suasana yang semula kaku.


Bel istirahat berbunyi. Seperti yang dikatakan Alanta tadi pagi, aku dan Dinda segera ke depan mading untuk melihat apa yang dilakukan Alanta dengan foto-fotoku tadi. Benar saja. Mading yang tadi pagi masih bertuliskan hal-hal negatif, kini lebih rapi dan lebih menyenangkan.


'siapa dia? Sosok pejuang keras yang mengukir prestasi'


Begitu kalimat yang tertulis di mading. Alanta melakukan ini. Dia membersihkan namaku yang baru tadi pagi direnggut oleh orang yang tak bertanggung jawab. Dia menaikkan derajatku yang sempat jatuh.


"Oh my god!! Ini Kak Alan???" Kata Dinda takjub.


Aku mengangguk. Ada beberapa gambarku ketika kerja di outlet, ada pula gambarku ketika membaca di perpus. Kapan Alanta memfoto saat aku sedang baca di perpus? Ada-ada saja. Apapun itu aku senang. Dia sudah menolongku untuk kesekian kalinya. Kadang aku berpikir, apakah Alanta itu semacam guardian angel yang memang Tuhan kirimkan untuk menjagaku? Ah mana ada malaikat sekolah.


Tak berapa lama banyak siswa berdatangan ingin membaca apa yang dipasang di mading. Syukurlah. Makin banyak yang baca, makin banyak yang paham dan makin banyak yang berpandangan positif. Kurasa begitu.


"Hai Rosa!" Salah seorang siswa menyapaku. Di dadanya terdapat tanda pengenal dalam bentuk kalung. Dengan kalung pengenal itu menandakan bahwa dia memegang leran penting pada satu organisasi di dalam sekolah.


"Ya?"


"Rosa kan?"


"Iya betul"


"Saya Silvi dari tim jurnalistik sekolah. Minggu depan aku mau mengulas tentang kamu. Boleh? Kapan kamu punya waktu? Aku mau wawancara" Katanya.


"Aku? Kok aku?"


"Ya, yang di mading itu kamu kan? Tim kita tertarik buat berita tetang kamu. Gimana?" Kata Silvi.


Untuk sejenak aku tercengang. Dunia seakan berbalik secepat kilat. Baru saja tadi pagi aku dilempar ke dasaran lautan, sekarang aku diangkat setinggi langit.


"Gimana Rosa? Bisa?" Silvi mengulangi.


"Kapan ya? Ntar pulang sekolah gimana?"


"Boleh. Deal ya. Ntar aku tunggu di ruang osis ya?"


"Eh, aku punya usul" Kataku.


Silvi tampak mendengarkan.


"Temanku ini juga punya bakat loh. Melukis, menggambar anime dan banyak lagi. Gimana kalo dia di ulas juga?"


"Eh Ros apaan sih!" Dinda menyikut lenganku, tapi aku tahu dia senang dengan usulku tadi.


"Oh boleh juga, tapi kami terbitkan di minggu depannya lagi ya" Kata Silvi.


Kulirik Dinda yang tampak senang. Akhirnya bakatnya akan dipertontonkan dan dihargai.


Aku masih memandangi fotoku di mading. Padahal bel masuk sudah berbunyi. Tampak kusam. Ya, aku akui wajahku kusam. Wajah itu telah memikirkan banyak hal. Wajah itu telah mengarungi lautan masalah dalam hidupnya. Itu wajah gadis yang lelah.


"Kenapa?" Alanta tiba-tiba saja berada di sampingku.


"Aku gak ngerti mesti balas dengan cara apa Lan" Kataku lirih.


"Tak usah dibalas. Kamu tersenyum saja sudah membuatku puas" Jawab Alanta lirih pula.


Aku tersenyum sambil menunduk.


"Seandainya senyumku bisa ditukar dengan uang. Aku pasti sudah kaya" Kataku.


Giliran Alanta yang tertawa ringan.


"Kalau begitu sebungkus siomay sepertinya cukup"


Artinya, hari ini dia ingin kutraktir seperti waktu itu. Sebungkus siomay hanya ada di taman waktu itu. Yah, hari ini dia mengajak ke sana.


Aku tersenyum


***