My Name Is Rose

My Name Is Rose
Perhelatan Akbar



"Eh kenalin ini Papi gue....Pi...ini teman-teman Silvi di sekolah" Kata Silvi memperkenalkan kami.


"Wah Papi baru tahu kamu punya temen nongkrong" Kata Om Banu.


"Ih Papi kebiasaan deh"


Mereka tampak begitu dekat. Tapi apakaj Silvi tahu Papinya selingkuh dengan seorang model? Ayah sesayang ini ternyata bertindak di belakang anak kesayangannya. Aku menunduk. Antara takut dan malu. Takut dengan beringasnya om Banu, malu dengan Silvi yang sudah banyak membantuku.


"Yang ini Rosa" Kata Silvi mengenalkanku.


Om Banu menatapku tajam. Mungkin dia terkejut karena putrinya ternyata dekat denganku. Aku berusaha mengangkat kepala. Aku memegang kartu hitamnya. Bisa saja dia takut aku akan membongkar apa yang dia lakukan di belakang keluarga kecilnya. Aki harus berani. Aku tidak ingin dia memorakporandakan kehidupan keluargaku begitu saja.


***


Perhelatan akbar sudah mulai digelar sejak beberapa hari lalu. Gedung olahraga di belakang mendadak disulap menjadi aula. Hari ini adalah olimpiade pararel First Internasional High School. Dalam acara ini banyak sponsor yang bergabung sehingga menjadikan sekolah ini ramai. Ada banyak mata lomba yang dilombakan selama beberapa hari ini. Ada lomba dance competition, lomba mading yang diikuti oleh Silvi dan lomba lukis yang diikuti oleh Dinda. Dan diantara lomba-lomba itu, lomba Olimpiade adalah puncaknya.


Sekolah mengadakan perhelatan sebesar ini untuk menunjukkan kepada dunia bahwa sekolah ini mencetak anak-anak pintar dan berprestasi. Jadi olimpiade menjadi sasaran utama bagi sekolah ini untuk menunjukkan jati dirinya.


Semua anak berkumpul di gelanggang olahraga. Ada enam besar tim yang sedang dipertandingkan di sini. Termasuk diantara mereka, Clara. Lomba ini juga disaksikan oleh Yayasan, jadi pasti keluarga Alanta turut hadir. Apalagi Alanta juga termasuk peserta lomba.


Aku menyaksikan dari kursi tengah. Bersama Silvi dan Dinda tentunya. Meski kami duduk di tengah, tapi kami bisa melihat skor, soal dan jawaban dari layar LCD. Acara ini dipandu oleh MC uang cukup masyhur di kota. Hal ini menjadikan suasana lomba menjadi lebih seru.


"Baik semua warga First Internasional School, kita mulai babak pertama" Kata pembawa acara.


Aku menyimak setiap soal betul-betul sambil membawa kertas dan pulpen. Sesuai instruksi Bu Sarah, ada satu soal yang terdapat kesalahan jawaban. Aku harus jeli untuk bisa menemukannya.


"Luar biasa, kita beri tepuk tangan...karena anak-anak hebat di depan kita ini mampu menjawab seratus persen soal yang saya bacakan" Kata pembawa acara.


Di babak pertama, masing-masing tim mendapat 3 soal untuk dijawab. Masing-masing tim diberi kesempatan untuk menjawab soal ya masing-masing.


"Babak kedua adalah benar atau salah, true or false. Soal kami bacakan dalam bahasa inggris dan masih kami beri kesempatan untuk masing-masing regu" Lanjutnya.


Sekolah ini adalah sekolah berstandar internasional. Guru bahasa inggris didatangkan langsung dari negeri asalnya. Maka juri olimpiade ini juga salah satunya didatangkan dari luar negeri.


"Seru sekali perlombaan hari ini dan kita akan jeda terlebih dahulu sebelum pengumuman tiga besar" Kata pembawa acara menggebu-gebu.


Istirahat lima belas menit. Suasana yang tadinya tenang sekarang riuh. Masing-masing bergerombol membicarakan lara peserta yang seluruhnya berkompeten.


"Lo lihat gak tadi, Clara gak kerja sama sekali. Temen-temennya yang jawab terus" Bisik Dinda.


"Ssst hati-hati kalo ngomong, di sini bahkan kursi pun bisa denger" Kataku.


Dinda terkekeh mendengarnya.


"Siapa tim yang lo sukai?" Tanya Silvi padaku.


"Ya jelas lah timnya Kak Alanta" Sahut Dinda.


"Kalian pacaran ya?" Silvi penasaran.


"Hampir" Dinda menyahut.


"Apaan sih ngawur semua" Kataku.


"Baiklah para hadirin. Kami umumkan tim yang masuk ke 3 besar dan memperebutkan juara pertama. Dan juara pertama akan mewakili sekolah dalam ajang lomba olimpiade DKI Jakarta" Pembawa acara kembali berbicara dengan menggebu-gebu.


"Tim Garuda" Panggil pembawa acara.


Itu adalah timnya Alanta. Semua orang sudah menyangka bahwa tim itu yang akan masuk dalam babak final.


"Tim Kusuma" Panggil pembawa acara lagi.


Semua penonton bertepuk tangan riuh. Namun kemudian berhenti dan mendadak menjadi bisu. Pasalnya semua orang ingin mendengar tim terakhir yang masuk dalam babak final. Masih tersisa 4 tim yang belum dipanggil. Semua peserta gugup menanti keputusan juri.


"Tim Angkasa"


Semua peserta berdiri sambil memberikan tepuk tangan yang meriah. Itu adalah timnya Clara. Aku tidka menyangka Clara masuk dalam 3 besar. Tapi bisa jadi juga itu karena kerja keras teman-temannya, dan dia hanya menumpang seperti yang dikatakan Dinda.


"Kini saatnya tiga finalis akan bertanding di babak rebutan"


"Soal berikutnya"


Sampai soal kelima semua baik-baik saja. Tidak ada kesalahan jawaban. Aku sudah menghitungnya di kertas. Semua benar. Apakah Bu Sarah menjebakku? Atau membohongiku? Dari lima soal ini, tim Alanta mendapat skor 30. Clara hanya 10 skor.


"Luar biasa. Soal ke sembilan"


Aku masih mendengarkan dengan seksama. Aku tak mau melewatkan sekecil apapun soal yang dibacakan.


"Diberikan trapesium ABCF dengan panjang...."


Ini soal yang cukup rumit. Aku segera menuliskan di lembaran kertas yang kubawa.


"Berapakah nilai PQ?"


Kami diberi waktu untuk menghitung. Aku sudah menemukan jawaban setelah beberapa menit berpikir.


"Lima belas" Alanta menjawab.


"Salah. Nilai dikurangi 5 poin"


Alanta tampak kesal karena jawabannya salah.


"Dua belas" Clara menjawab.


"Masih salah"


"Sepuluh" regu yang lain mencoba menjawab.


"Masih salah, silahkan berpikir kembali akan saya beri waktu 30 detik"


Kami mencoba menyelesaikan kembali. Jawabanku masih tetap 13.


"Tampaknya belum ada yang menjawab. Baik saya lemparkan kepada penonton yang ada di sini. Saya bacakan soal sekali lagi"


Oh apakah ini uang dimaksud oleh Bu Sarah. Ini kesempatanku. Aku tidak boleh menyia-nyiakan ini. Aku segera mengacungkan tangan. Kamera dengan sigap ke arahku. Wajahku terpampang nyata di layar LCD.


"Silahkan maju ke depan"


Aku oun mengikuti instruksi dari pembawa acara. Kini kami berada di panggung yang sama.


"Namanya siapa?"


"Rosa Kak"


"Oke Rosa, berapa jawaban kamu"


"Tiga belas"


"Bagaimana dewan juri?"


"Benar"


"Benar!! Luar biasa!! Dengan demikian Rosa berhak untuk bergabung besama kami di panggung olimpiade" Kata pembawa acara.


Aku masih belum paham apa maksudnya ini. Apakah aku ikut meneruskan lomba ini sebagai peserta apa bagaimana.


"Kami akan ambilkan satu podium lagi. Dengan demikian jumlah peserta kita hari ini menjadi 4 tim. Namun yang satu tanpa tim ya"


Seluruh penonton tertawa ringan dengan gurauan pembawa acara.


"Baik soal selanjutnya"


"Tunggu sebentar" Bu Yuni menghentikan acara. Bu Yuni kemudian menghampiri pembawa acara. Bu Yuni merupakan salah satu dari 5 juri yang bertugas. Terlihat mereka berdua sedang diskusi penting.


Entahlah apa yang mereka bicarakan maupun putuskan. Aku menurut saja


***