
"Lagi ?? Waduh .... Ini yang kemarin saja sudah menguras otakku sampai botak kau tahu?" Kata Dafa.
"Ih..mana rambut kau gimbal begitu" Timpal Bella.
"Sudah sudah....jadi gini...ini beda dnegan mading kemarin...yang kemarin kita butuh bantuan banyak orang...tapi yang sekarang hanya ada 3 orang yang berlomba. Dan itu nggak bisa dibantu waktu lomba..." Aku mencoba menjelaskan.
"Tiga orang saja? Nggak ah aku nggak ikutan. Anti matematika aku" Salah seorang menyahut.
"Jadi begini, nanti ada empat kelas yang akan diseleksi. Hasilnya akan diambil 3 orang. Dan 3 orang itu akan dibimbing oleh Kak Alan yang pernah menjuarai Olimpiade matematika tahun lalu"
"Kaka Alan??? beneran ??" Eni mulai tertarik.
Aku mengangguk dan para cewek pun langsung antusias begitu disebut nama Alanta.
"Dan yang nyeleksi dari guru matematika dibantu oleh Kak Alan" Kataku melanjutkan.
Semakin riuhlah kelas karena nama Alanta disebut. Inilah yang kugunakan sebagai senjata. Aku tak cemburu jika pacarku menjadi idola teman-temanku. Tak masalah selama mereka senang. Toh mereka hanya mengidolakan. Tapi terkadang aku berpikir, bagaimana reaksi mereka jika tahu kami berpacaran. Akankah mereka masih menerimaku sebagai teman di kelas ini, atau kah mereka tak lagi mengidolakan Alanta.
Seperti yang telah direncanakan. Bu Putri, guru matematika SMA Bintang Harapan sudah membuat sekitar dua puluh soal matematika. Begitupun guru fisika dan kimia. Semua soal sudah diketik rapi oleh Alanta. Selanjutnya, demi mendulang semangat para siswa, Alanta sendiri yang datang dan membagikan soal.
"Kamu rela aku disuitin cewek-cewek" Kata Alanta menggerutu. Tapi aku tahu dia hanya menggoda. Dan aku tahu tujuannya.
"Nggak papa" Aku menjawab santai.
Alanta melihatku dengan cemberut. Sesekali dia menyolek pinggangku. Aku berpura-pura sibuk dengan menata soal-soal.
"Ros...." Panggil Alanta lirih.
"Hm" Jawabku.
"Ros...sayang..." Alanta mulai menggoda.
"Apa sih ah" Jawabku masih dengan berpura-pura sibuk.
"Sini dulu...penting mana sih kertas itu sama aku" Alanta memaksaku memutar badan.
"Apa sih...mau apa...."
"Mau lihatin muka cemburunya pacarku ini looo"
"Nggak ada...nggak cemburu sama sekali"
"Bener? Yakin....?" Alanta masih menggoyangkan tubuhku dan masih kupalingkan mukaku.
Kupegang lembut pipinya. Barulah Alanta melepaskan pinggangngku. Dan saat itulah kami melihat seseorang di ujung sana yang mungkin sedari tadi melihat tingkah laku kami yang tak pantas.
"Bella" Panggilku.
Alanta menjadi salah tingkah. Kami berpura-pura menata soal yang akan segera diedarkan. Sementara Bella berjalan menuju ke arah kami.
"Kalian kok.... Oh my god...kalian pacaran??" Tanya bella terkejut dengan menunjuk-nunjuk kami berdua.
"Eh...enggak..kita tadi cuma...." Aku berusaha menutupi.
"Bel, tolong rahasiain ya, please. Ntar aku traktir starbucks" Kata Alanta.
Bella tidak menanggapi, ia terpana dengan tangan Alanta yang meraih tangannya. Sampai Alanta melepaskan tangannya pun, Bella masih melongo.
"Eh .eh...ngomong apa tadi?" Tanya Bella.
"Kamu cantik" Kata Alanta.
"Apa? Yang bener?"
"Orang secantik kamu pasti akan jaga rahasia"
"Oh...iya...jadi beneran kalian...."
Alanta mengangguk.
"Sejak kapan?"
"Sejak...sejak lomba Mading"Kata Alanta asal.
Syukurlah Bella setuju menyimpan rahasia ini. Kami ingin menyimpan rapat status kami demi Bu Mariana. Sebab Alanta punya janji dengannya. Itulah kenapa kami harus menjaga sikap di depan banyak orang. Hari ini entah kenapa Alanta begitu agresif. Mungkin karena selama beberapa minggu terakhir kami sibuk dengan mading. Dia menahan rindunya selama itu.
Soal dibagikan. Dan tepat seperti yang kuduga. Alanta bercerita di kelas lain ternyata banyak yang antusias dengan lomba ini. Ah, aku tahu. Mereka bukan antusias dengan lomba ini, tapi antusias dengan orang yang membagikan soal ini. Siapa lagi kalau bukan Alanta.
Giliran kelasku. Sama seperti kelas lain. Para cewek riuh dengan kehadiran Alanta yang mereka idolakan. Satu yang hanya diam saja. Bella. Entah apa yang ia pikirkan kali ini. Apakah dia kecewa karena ternyata orang yang ia idolakan bersama teman-temannya itu sudah punya pacar, teman sekelas pula. Atau dia marah karena merasa tertipu. Ah, aku tidak bisa jernih berpikir.
Sesekali aku dan Alanta saling lirik karena mengkhawatirkan kejadian tadi. Ah, kenapa harus di saat seperti ini. Ayo Rosa, fokus.
Aku melihat Bella membuang sampah. Kebetulan sekali hari ini adalah jadwalnya piket. Saat dia berbalik badan, dia terkejut dengan kehadiranku. Raut wajahnya tak seperti biasanya. Ada pendar kekecewaan dala wajahnya itu. Jelas, aku tidak bisa menyalahkannya dan memaksanya untuk menerima hubunganku dengan Alanta.
"Bel...." Panggilku.
"Ada apa? Kamu mau ngomongin yang tadi?" Tebak Bella dengan nada kesal.
"Bell, aku minta maaf ...aku..."
"Kamu nyadar gak, kalau kamu dan Kak Alan itu sudah menipu kami semua. Kamu menggunakan popularitas Kak Alan demi kepentinganmu sendiri. Supaya kami mau ikut lomba dan kamu yang dielu elukan oleh kepala sekolah. Apa yang kamu cari ha?" Bella marah. Aku memaklumi itu. Jika aku di posisi dia, mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama.
"Biar aku jelasin dulu Bell...aku dan Alanta sudah dekat sejak kami masih di First. Bahkan jauh sebelum itu. Aku akui aku salah. Aku memang menggunakan Alanta untuk mendongkrak semangat anak-anak... Karena aku nggak punya cara lain lagi. Kalian hanya mau ikut kalau yang gembar-gembor itu Alanta. Selama ini, semua siswa malas mengikuti lomba bukan karena tidak mampu, tapi karena takut. Takut biaya, takut kalah, takut ribet. Padahal kita semua mampu. Aku ingin kalian semua punya pengalaman lebih. Punya prestasi... "
Bella merubah pandangannya yang semula terlihat kesal, dahinya yang semula mengkerut, perlahan mengendur.
"Aku tahu masing-masing dari kalian memiliki keterampilan yang nggak bisa diremehin. Keterampilan kalian itu akan maksimal jika kalian punya nilai lebih. Kalau kalian sungguh-sungguh dalam sekolah, kalian nggak cuma punya keterampilan tapi punya nilai lebih dari itu. Kamu tahu, pizza mini yang dibuat Eni di sini dijual dua ribuan. Di Pandan Resto dijual dengan harga dua puluh ribu satu biji. Beda jauh kan. Aku mau kalian punya nilai yang lebih dari sekedar jualan"
Entah apakah Bella percaya dengan penjelasanku atau tidak. Kami mengakhiri obrolan ini begitu saja. Menyisakan banyak pertanyaan di benak Bella pastinya. Dan menyisakan banyak kegelisahan di hatiku. Manakah yang lebih prioritas. Takut jika Bu Mariana tahu bahwa putranya mengingkari janjinya, atau karena akhirnya teman-temanku tidak mau mengikuti saranku lagi.
Suatu pagi. Siswa-siswi SMA Bintang Harapan mengerumuni papan pengumuman yang tak jauh dari ruang administrasi. Di situlah diumumkan peserta lomba olimpiade sains yang di adakan oleh organisasi pemerhati pemuda di Jakarta. Aku tidak begitu antusias untuk melihat. Sebab siapapun yang terpilih, entahlah apakah masih punya greget untuk menang atau justru tidak bertanggung jawab. Setelah mereka tahu akhirnya Alanta berpacaran denganku.
***