My Name Is Rose

My Name Is Rose
Sadar



Aku melihat banyak orang mengerubunginya. Dari dalam kamar sampai lorong di depannya. Banyak orang menunduk lesu. Yang di dalam kamar apalagi. Aku berjalan melewati mereka yang tidak menghiraukanku. Sampai di dalam kamar, kulihat sebagian menunduk, sebagian menyeka air mata dengan tisu. Dan paling ujung menangis tersedu-sedu. Terlihat pula suster melepas segala alat yang sebelumnya terpasang di tubuh Alanta. Wajahnya pucat setengah membiru dan matanya tertutup rapat.


"Alanta....!!!!" Teriak Bu Mariana yang bahunya dipegangi oleh Afrizal.


Tidak. Alanta tidak boleh mati karena aku. Tidak boleh. Dia sudah berjanji akan melindungiku. Jadi dia tidak boleh pergi begitu saja. Laki-laki macam apa yang tidak bisa menepati janjinya sendiri. Tidak.


TIDAKKK!!!!


Aku terhenyak. Dahiku berkeringat bukan hanya karena hawa panas kota Jakarta. Aku sedang panik. Dadaku berdebar kencang seperti habis berlari puluhan kilometer tanpa henti. Nafasku pun ngos-ngosan.


Aku menghirup nafas panjang untuk menstabilkan frekuensi nafasku. Aku bermimpi. Mimpi yang begitu buruk. Mimpi yang menjadikanku tak berani memejamkan mata. Oh Gusti, terima kasih karena semua hanya mimpi. Jika itu kenyataan maka aku todak bisa hidup lagi. Kalau aku masih bergerak maka akau adalah mayat hidup. Ragaku sehat namun jiwaku telah mati.


Pagi sekali aku suda sampai di Haruma Medina. Aku tidak mau lagi kehilangan kesempatan barang sedetik. Aku akan menjaga agar malaikat maut tidak bisa masuk ke kamarnya. Aku akan memastikan dia mampu bertahan hidup. Lima hari sudah dia masih tak terlelap meski statusnya sudah melewati masa kritis pasca operasi.


Ini hari keenam. Aku sudah tidak lagi mempedulikan suara-suara dari luar tentang kasus itu. Membungkam mulut semua orang adalah hal yang mustahil. Maka kuputuskan untuk berdamai dengan keadaan asalkan aku dapat bertemu dengan Alanta.


Aku tiba di depan pintu saat kulihat dari kaca pintu, Bu Mariana berbincang dengan Nyonya Hamdani. Cukup lama aku menunggu di depan pintu. Biarlah mereka tidak menyadari kehadiranku. Obrolan dua orang ibu pasti sangat bermanfaat satu sama lain. Tetapi jika bersama Nyonya Hamdani, kekhawatiranku kembali menghantui.


Pintu terbuka, Nyonya Hamdani muncul bersamaan dengan pintu yang terbuka. Ia sedikit terkejut dengan keberadaanku. Dia tersenyum. Senyumnya menyimpan banyak sekali makna. Antara menertawakan, kasihan dan benci. Seolah dia menang setelah aku mengalami musibah.


Tak lama setelah Nyonya Hamdani keluar, Bu Mariana pun muncul. Ia pun sama terkejutnya dengan Nyonya Hamdani. Dia terpaku melihatku sepagi ini.


"Bagaimana Alanta Bu?" Tanyaku ragu.


Bu Mariana menghembuskan nafas berat.


"Alanta akan terus berjuang. Kami keluarganya akan terus mendukungnya. Jadi saya rasa kamu tidak perlu datang lagi. Itu lebih baik untuk Alanta" Jawab Bu Mariana.


Memang tak sesinis sebelumnya. Tetapi kalimat itu sama saja artinya. Aku tidak diperbolehkan bertemu Alanta.


"Bu...saya"


"Sudah cukup...kenapa kamu tidak mau mengerti. Jangan lagi kesini. Jangan menampakkan muka di depan kami. Itu akan membuat kami semakin sakit. Suatu saat kamu akan menjadi seorang ibu. Kamu akan tahu rasanya memperjuangkan nasib anak. Bagaimana rasanya melihat anak yang dilahirkan dengan penuh harap terbaring lemah seperti itu. Suatu saat kamu akan merasakan betapa sudah ya menjaga anak dari pergaulan yang salah"


Selepas berbicara, Bu Mariana tampak menelepon seseorang. Ia bahkan tidak memberiku kesempatan berbicara. Memang semua dari awal adalah salahku. Seharusnya aku tidak melibatkan Alanta dalam masalahku. Seharusnya aku tahu, aku hanyalah seorang kekasih yang belum berhak atas Alanta. Alanta sepenuhnya masih milik orang tuanya. Jika sesuatu terjadi padanya, itu melukai hati orang tuanya.


Tak berapa lama Om Ibra muncul dengan tergesa-gesa.


"Mas kamu tangani dia, aku konsultasi dengan dokter" Kata Bu Mariana.


Om Ibra melihatku dengan tatapan berbeda dari Bu Mariana. Harus kuakui inilah kelebihan seorang pria. Ia lebih bisa menahan amarah dibanding perempuan.


"Maafkan istri saya. Dia....hanyalah seorang Ibu yang hatinya terlalu lembut" Kata Om Ibra.


"Iya Om... Saya ngerti. Alanta akan baik-baik saja kan Om?"


"Doakan saja. Dia sudah melewati masa kritis. Tinggal menunggu sadar betul-betul"


Lega rasanya mendengar itu. Aku berharap bisa menemui Alanta melalui Om Ibra jika Bu Mariana sudah melarang.


"Om"


"Apa benar kaki Alanta lumpuh karena tertembak?" Tanyaku.


Mendengar pertanyaan itu Om Ibra tercengang. Ia seakan diingatkan akan kenyataan pahit yang diterima.


"Kamu mendengar itu?" Tanya Om Ibra.


Aku mengangguk.


"Ada syaraf yang putus akibat tembakan. Itu menyebabkan kakinya tidak bisa normal kembali. Tapi bukan berarti lumpuh total. Seperti orang patah tulang, butuh terapi yang cukup lama untuk bisa menopang tubuhnya berjalan"


Entah aku harus senang atau sedih mendengar jawaban itu. Kakinya sementara waktu tidal bisa berjalan. Tetapi dokter tidak menyatakan lumpuh total. Berarti masih bisa disembuhkan.


"Maaf Rosa. Sementara waktu, jangan kesini dulu. Itu akan membuat Bundanya Alanta semakin membenci kamu. Ya, setidaknya tunggu sampai mereda"


Apakah harusnya begitu? Menahan diri untuk tidak melihat Alanta. Apakah itu yang terbaik untuk Alanta? Lalu bagaimana denganku? Apakah aku bisa memejamkan mata, menelan makanan atau meneguk air? Setidaknya tak bisakah mereka membiarkanku melihat walau dari kejauhan? Atau mungkin setidaknya biarkan aku mendengar kabarnya.


***


Hapeku berdering di siang bolong. Di saat sebagian besar masyarakat sedang terlelap, aki justru tepekur sendiri. Dan saat itulah hapeku berdering. Afrizal.


"Iya Mas?" Sapaku to the point.


"Ros, Alanta sudah sadar... Dia sudah bisa respon kalo kita ngajakin ngomong" Kata Afrizal terdengar semangat.


"Beneran Mas? Alhamdulillah...aku kesana sekarang" Kataku dengan semangat pula.


Tampaknya Afrizal hendak mengatakan sesuatu tetapi terburu kututup teleponnya. Ah, nanti saja jika sudah sampai rumah sakit, kami akan bertemu juga. Aku segera bersiap menuju Haruma Medina. Panas teriknya langit Jakarta tak cukup mampu untuk menghentikan niatku. Di saat orang lain sedang beristirahat siang, aku justru melakukan perjalanan ke rumah sakit.


Aku begitu bersemangat. Aku ingin menjadi bagian dari orang-orang yang dilihatnya pertama kali setelah tak sadarkan diri selama berhari-hari. Dia juga pasti mencari keberadaanku. Kau tak ingin membuatnya menunggu terlalu lama.


Sampai di pintu masuk.


"Mbak...atas nama Rosa?" Tanya satpam.


"Iya Pak" Jawabku.


Heran, darimana satpam itu tahu siapa aku. Oh aku hampir lupa. Siapa yang tak mengenal artis dadakan yang muncul akibat kasus penyanderaan seorang gadis.


"Maaf sekali, anda tidak diijinkan masuk. Ini pesan keluarga pasien. Maaf" Katanya.


Apa yang ia katakan tadi? Apa-apaan ini? Bagaimana bis seorang satpam melarang masuk seorang pengunjung. Apa ia tidak takut mendapatkan review buruk?


"Loh kenapa Pak? Saya amu jenguk teman saya. Saya dapat kabar kalau dia sudah sadar Pak" Kataku.


"Maaf saya hanya menjalankan tugas" Jawabnya.


Aku tidak bisa masuk. Bahkan Bu Mariana sampai memerintahkan satpam rumah sakit untuk mencegahku masuk ke dalam. Sebegitu bencikah beliau padaku? Aku hanya bisa berjongkok dan membenamkan kepalaku di antara kedua lututku. Aku lelah. Sungguh.


***