
Kota Tua Semarang. Kota bersejarah dengan julukan Little Netherland atau Belanda kecil. Sebab bangunan-bangunan buatan Belanda masih berdiri kokoh di sini. Kota tua, saksi bisu sejarah Indonesia di masa kolonial Belanda. Ada sebuah benteng yang masih utuh di sini. Benteng Vijfhoek. Di dalamnya terdapat sebuah jalan yang menghubungkan ketiga pintu gerbang. Jalan Heerenstraat namanya, yang sekarang berubah menjadi Jl. Letjen Soeprapto.
Benteng Vijfhoek adalah hasil perjanjian antara Mataram dengan VOC tahun 1678. Mataram menyerahkan semarang pada VOC sebagai tanda terima kasih karena telah membantu menumpas pemberontakan Trunojoyo. Tak disangka hal itu menjadikan VOC memiliki kekuasaan penuh atas Semarang. Dan tentunya penjajahan pun tak terelakkan. Siapa yang menjadi korbannya? Rakyat.
"Wow!!" Aku berdecak kagum atas pengetahuan Kak Panji.
"Kamu pernah kesini?"
Aku menggeleng.
"Haish, sudah setahun di Semarang belum pernah ke Kota Tua?"
"Jangan ngledek deh"
Kak Panji terkekeh. Ditemani seplastik es cokelat, kami duduk di tepian jalan menikmati indahnya Kota Tua. Jika dia bertanya apakah aku pernah kesini, bagaimana bisa aku jalan-jalan sampai kesini, dengan kondisi keluargaku yang seperti gelas retak.
Kota Tua yang ramai namun tetap sejuk dan asri. Entahlah mungkin karena memang aku duduk di bawah pohon. Sungguh aku merasa begitu damai. Belum pernah kurasakan sedamai ini. Setidaknya setelah Alanta pergi. Beban yang menggunung di pundakku serasa menyingkir untuk beberapa waktu. Cowok di sampingku ini selalu punya cara untuk membuatku tertawa. Terkadang aku penasaran. Di mana rumahnya, bagaimana keluarganya. Ah, tentu saja dia berada di lingkungan keluarga yang harmonis. Keluarga yang begitu menyayanginya, memenuhi semua kebutuhannya, yang mampu menciptakan surga di rumahnya.
"Ros..."
"Hm?"
"Kamu itu....istimewa" Ucap Kak Panji lirih.
"Hem??"
"Kamu...masih bisa ketawa setelah mengalami penyiksaan. Kok bisa?"
Aku tidak menjawab. Aku hanya memandang dan menunggu dia meneruskan ucapannya. Karena aku yakin, kalimatnya bakal panjang.
"Kamu itu...cewek yang kuat, mandiri, smart"
Aku terkekeh mendengar itu.
"Makanya aku bilang, kamu itu....istimewa. aku belum pernah melihat cewek seusia kamu, yang sekuat kamu. I'm impressed of you" Kali ini ucapannya serius.
Aku menunduk. Sejenak aku tersenyum geli. Mendapat sanjungan seperti itu, terkadang aku berpikir, pantaskah? Jika aku semengagumkan itu, Mama tidak mungkin membenciku. Orang tua asuh Rania tidak mungkin lebih memilih Rania ketimbang aku.
"Kak, aku tidak sekuat yang Kakak bilang tadi. Aku sering menangis. Waktu di kamar, malam hari, pas semua sudah tidur, aku nangis. Kadang juga di kamar mandi. Aku merindukan sesuatu yang aku sendiri tak tahu itu apa. Sering aku bermimpi, berkumpul dengan orang-orang yang membuatku bahagia. Berada di suatu tempat yang damai, seperti sekarang ini"
Sial, air mataku hampir saja mengalir kalau saja tidak ada suara terompet berbunyi tak jauh dari posisiku. Suara terompet yang cukup mengejutkan. Rupanya ada pertunjukan musik tradisional di pelataran sekitar benteng. Beberapa orang dengan busana lurik khas jawa memainkan alat musik yang berbeda-beda. Ada seruling, gamelan, rebab, terompet dari janur dan ditambah alat musik modern seperti drum mini dan saxophone. Sepertinya bukan spontan. Mereka menggelar pertunjukan untuk didokumentasikan. Terlihat dari beberapa orang yang mengenakan kaos hitam dan berkalungkan id card. Mereka membawa kamera syuting.
Pertunjukan sebagus itu tidak mungkin kami lewatkan. Aku dan Kak Panji menikmati pertunjukan itu di barisan paling depan. Sesekali kulirik Kak Panji yang mengikuti alunan musik dengan kepala yang manggut-manggut. Dia terlihat begitu senang. Aku juga. Menikmati musik tradisional sejenak melupakan masalahku. Jarang, bahkan hampir tidak pernah aku bisa menikmati sesuatu. Nonton televisi saja jarang. Seluruh waktuku di rumah dipenuhi dengan pekerjaan. Sisanya adalah belajar. Sebab masuk Cendekia dengan jalur beasiswa memiliki tanggung jawab yang besar untuk mempertahankan prestasi.
"Boleh" Jawabku.
Aku belum tahu seperti apa Leker itu. Yang jelas adalah jajanan dengan rasa manis. Sebab di rombongnya tertulis beberapa rasa dan semuanya manis. Ada cokelat, keju, kacang, meses, selai bermacam rasa. Apapun yang Kak Panji tawarkan aku akan mengiyakan. Mencoba segala sesuatu di daerah yang baru adalah hal yang menyenangkan.
"Kalau itu mau?" Tanya Kak Panji sambil menunjuk ke pedagang kaki lima yang jaraknya hanya sekitar beberapa meter dari posisi kami.
"Itu namanya...." Sebelum Kak Panji menyelesaikan kalimatnya, aku menyahut.
"Getuk Lindri" Sahutku.
"Kok tahu, sudah pernah makan ya?" Tanya Kak Panji yang sedikit kecewa karena gagal mengenalkan hal baru.
"Dulu waktu di panti, aku sering makan itu, biasanya sehabis subuh banyak pedagang Getuk Lindri yang lewat" Kataku.
Kak Panji mengangguk-angguk.
Tak berapa lama, Leker pesanan kami sudah jadi. Satu rasa kacang dan satu cokelat keju. Rupanya Leker tak jauh beda dari kue crepes. Teksturnya kering tipis dan renyah. Hanya saja lebih tebal topingnya. Kami menikmati Leker di sebuah taman tak jauh dari Benteng. Kami kembali duduk berdua dan mengobrol.
"Gimana? Enak?" Tanya Kak Panji
Aku mengangguk sambil terus mengunyah hingga tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Dia begitu senang melihatku yang menyukai Leker ini.
"Kamu pasti bakal mengingat hari ini. Bakal sulit banget melupakan hari ini" Kata Kak Panji kemudian.
"Ya, pasti bakalan sulit dan bakalan menyakitkan" Kataku.
Mendadak situasi menjadi serius.
"Kok gitu?" Kak Panji menjadi terkejut.
"Hari ini begitu mengesankan, cowok di depanku tak kalah menyenangkan dari hari ini, jadi mana mungkin aku bisa melupakan keduanya, dan ketika mengingat, bahwa hari ini dan cowok ini tidak bisa berulang lagi, bukankah itu menyakitkan"
Kak Panji termangu, dia menatapku dengan pemikirannya yang tak bisa kutebak. Beberapa saat kemudian dia membelai rambutku. Entah karena posisi kakak kelas dengan adik kelas atau posisi pria dan wanita. Kau tau? Seketika seluruh bulu di kulitku berdiri seiring dengan getaran hebat di sekujur tubuhku. Senyumnya itu. Benar-benar menusuk jauh ke relung hati. Sakit. Kenapa? Karena nyatanya senyum ini adalah yang terakhir kulihat.
Ayolah waktu, berhentilah dulu. Sejam dua jam pun tak apa. Aku tidak ingin matahari cepat-cepat tenggelam. Biar senja masih bersama kami. Biar dia masih tersenyum seperti ini. Biar aku menikmati semua ini. Biar kami seperti ini. Biar.
"Semoga suatu ketika kita ketemu lagi" Lanjutnya.
Aku hanya mengangguk sambil membuang muka. Bukan apa-apa, aku malu saja. Aku tidak mau terlihat senang mendapat perlakuan seperti itu. Sebab aku juga tidak tahu apa maksud dari perlakuannya itu.
Senja sudah berakhir. Matahari benar-benar tenggelam. Dan mimpi indah harus diakhiri. Kami harus kembali ke rumah masing-masing. Dan untuk terakhir kalinya kami berjabat tangan. Sebuah perpisahan yang benar-benar nyata. Setelah Rania, Alanta, dan sekarang Kak Panji. Kami benar-benar berpisah. Semoga aku bisa bertemu lagi, seperti aku menemukan Rania kembali.