My Name Is Rose

My Name Is Rose
Juwi



Waktu sudah menunjukkan pikul lima sore. Para karyawan bersiap keluar kantor unyuk ishoma. Kantor akan buka lagi setengah tujuh. Sebagian besar karyawan sudah keluar. Saat itulah aku melihat Juwi meletakkan sesuatu di meja Afrizal untuk ke sekian kalinya. Dan baru kusadari, bahwa menurutku Afrizal tidak pernah memesan sesuatu pada Juwi. Dan Juwi bukan pengusaha catering seperti dugaanku sebelumnya.


"Kenapa gak dikasihkan orangnya langsung? Kenapa mesti nunggu orangnya pergi dulu?" Tanyaku tiba-tiba dan itu membuatnya terkejut.


"Eh...Ros...eh" Juwi kelabaan.


Kudekati dia dan kupegang pundaknya. Dia menunduk lalu menatapku dengan rasa iba.


Malam begitu cepat menggelapkan langit. Di bawah langit yang terang namun hanya ada satu dua bintang di atas sana, kami duduk di lesehan pinggir jalan menunggu pesanan jagung bakar kami matang. Kondisi remang-remang seringkali disalahgunakan berbagai pihak, khususnya anak muda. Lihat saja di kanan kiri kmi banyak sekali yang bermesraan.


"Sebenarnya, aku takut...." Kata Juwi.


"Takut apa?"


"Afrizal itu.....orangnya keras. Dan sulit ditebak. Kadang dia baik, kadang dia jutek. Aku takut dia tidak suka dengan apa yang aku kasih"


Jagung bakar rasa balado sudah tersaji di depan kami. Kutiup sedikit agar berkurang panasnya.


"Kamu suka sama Afrizal?" Tanyaku blak-blakan.


Juwi tertawa kecil seakan ada sesuatu yang lucu.


"Jujur ya, Afrizal kakak tingkatku dulu di kampus. Dan dia yang membawaku ke sini. Dari situ aku merasa kagum dengan dia. Anak muda yang memberdayakan generasi muda. Tidak banyak orang seperti itu. Ya gak sih?"


Aku mengangguk sambil menggerogoti sisa jagung bakar.


"Aku sendiri tidak bisa memberi nama dari perasaanku sendiri. Apakah aku suka, atau hanya sekedar kagum"


"Kalo gitu, kamu mesti tes perasaan kamu" Usulku asal-asalan. Aku hanya asal njeplak saja seperti pemikiran di otakku.


"Caranya?"


"Coba deh, pernah gak kamu ngerasa cemburu kalo Afrizal sedang deket sama cewek lain?"


Juwi tampak berpikir dan dia menatapku dalam-dalam. Sejenak aku berpikir, mungkin Juwi merasa cemburu jika Afrizal mengajakku makan bareng atau ketika dia menghampiriku.


"Kamu" Jawabnya.


"Aku?"


"Waktu nasi kotak yang aku kasih ke Afrizal justru dikasih ke kamu"


"Ooooh itu....sorry aku pikir kamu punya usaha catering trus Afrizal order ke kamu. Oh....hahahaha"


Aku tertawa tetapi Juwi diam saja.


"Eh, Sorry...." Aku salah tingkah ketika tawaku tak bersambut.


Juwi masih diam berpikir saat aku merasa salah tingkah.


"Kamu tenang ajah, aku gak mungkin sama Afrizal, karena aku pacarnya sepupunya. Afrizal juga tahu kok" Kataku.


"Oh yang....anaknya Pak Ibrahim?"


Aku mengangguk kuat.


"Nggak....aku jadi mikir aja, Afrizal rahu gak sih kalo itu dari aku?" Tanya Juwi.


"Nah itu. Kalo menurut aku sih gak tahu" Tebakku.


"Seandainya dia tahu, apakah bakal dikasih ke kamu?"


Juwi kembali berpikir. Sementara aku menghabiskan seluruh biji jagung bakar di tanganku. Gigi-gigi depanku serasa banyak yang nyangkut. Sementara aku sibuk membersihkan sela-sela gigi, Juwi justru melamunkan sesuatu.


"Kayaknya aku mesti coba deh" Kata Juwi tiba-tiba.


"Hm, aku setuju. Good luck ya!!".


Jika berada di posisi Juwi, aku pun akan sama. Takut mengungkapkan perasaan meski melalui perantara sebuah benda atau makanan. Takut, takut ditolak, takut tidak disukai, takut tidak diterima dan takut tidak berguna. Apalagi jika yang lain tahu dan menatap dengan tatapan kasihan. Malu takut, marah, kecewa akan bercampur jadi satu. Itulah perempuan yang mentalnya lembek. Jika perempuan memiliki mental sekuat baja dalam hal ini, pasti dianggap tidak tahu malu, karena melawan kodrat. Sungguh dilema bukan menjadi perempuan?


***


Hari ini hari Minggu. Ketika menerima pekerjaan yang baru ini, aku mulai menikmati hari Minggu sebagai hari libur. Libur sekolah juga libur kerja. Dulu, saat masih di outlet atau resto, hari Minggu aku tetap bekerja. Sekarang aku bisa menghemat uang laundry.


Aku baru saja mengisi bak dengan air saat kudengar klakson mobil di luar rumah. Aku keluar dengan rambut masih tergelung persis seperti emak-emak. Mobil hitam yang familiar. Seseorang keluar dari mobil itu.


"Ros. Darurat" Kata orang itu.


"Darurat apa Mas...eh sorry...silahkan masuk" Kataku.


Orang itu adalah Afrizal. Darurat apa yang membuatnya datang sepagi ini, di hari Minggu pula.


"Gak keburu Ros. Kamu dandan cepet kita harus ke Depok" Katanya terburu-buru sambil sesekali melihat jam.


"Hah? Ngapain? Ini kan hari Minggu? " Wajar jika aku bertanya.


"Ada pelatihan penting tentang finansial. Ini mendadak makanya kamu cepetan" Katanya.


Aku? Kenapa aku? Aku masih sekitar tiga bulan kerja di sana tapi sudah harus mengikuti pelatihan. Kenapa dia tidak mengajak karyawan yang sudah lama kerja di sana. Juwi misalnya. Tentu dia akan sangat semangat mengikutinya.


"Ya udah tunggu bentar ya Mas, aku ganti baju dulu" Kataku akhirnya. Sungguh tidak enak menolak permintaannya. Bagaimanapun dia adalah atasanku.


Acara dilaksanakan di sebuah hedung yang cukup mewah untuk anak sepertiku. Ac nya tidak terlalu dingin namun segar di badan..tampak sekali yang hadir adalah orang-orang penting, dapat ditebak dari pakaian yang mereka kenakan. Hidangan pembuka tersaji di setiap meja. Lengkap dengan air mineralnya.


Rupanya banyak pelaku bisnis finansial yang turut menjadi peserta pelatihan ini. Ada yang bilang jika pelatihan semacam ini sebagai modal naik jabatan. Masuk akal juga. Makanya aku yang masih karyawan rendahan ini yang diikutkan menjadi peserta. Bukan karyawan lain yang sudah lama bekerja.


Pelatihan berlangsung selama tiga jam kurang lebih. Semua berjalan normal saja. Mejaku terpisah dengan Afrizal jadi tidak ada obrolan diantara kami selama pelatihan.


"Gimana workshop tadi menurut kamu?" Tanya Afrizal dalam perjalanan pulang.


"Seru. Banyak ilmu yang aku peroleh dari sana. Selama ini aku suka mempelajari ilmu alam, kesehatan, ya semacam itu lah, tapi ternyata ilmu bisnis menarik juga" Jawabku.


Afrizal tampak puas dengan jawabanku.


"Kita mampir dulu ya" Katanya.


"Kemana?"


"Cari makan"


Sebuah tempat makan yang cukup romantis menurutku. Dilihat dari banyaknya pengunjung yang merupakan pasangan kekasih. Lihat saja bagaimana mereka memandang satu sama lain.


Rumah maka ini cukup luas. Ada area dalam, ada pila yang outdoor. Afrizal memilih lokasi outdoor. Semacam hamparan rumput yang luas namun tiruan. Lilin-lilin aromaterapi turut menghiasi setiap meja.


"Mas Rizal kok tahu aja sih ada tempat kayak gini di depok?" Tanyaku mengisi obrolan.


"Hahaha....cari referensi aja di google"


Yah, jaman sekarang apa saja bisa dicari di google. Jangan-jangan tempat kontrakanku juga mudah ditemukan di google. Bayangkan, jika pria di depanku ini adalah Alanta, malam ini akan menjadi malam yang begitu indah. Dinginnya angin hanya akan menyentuh ringan tanpa harus menusuk ke tulang. Gerahnya hawa cuma mampir sebentar dan akan berganti menjadi sejuknya malam. Kira-kira begitu.


***