
"Lo yakin bisa sendiri?" Tanya Dinda masih mengkhawatirkan kesehatanku.
Aku mengangguk.
"Oh iya aku lupa. Sama Kak Alanta kan ya" Lanjutnya.
"Kayaknya sih. Kalo ketemu"
"Sumpah deh Ros, iri banget aku sama kamu. Cowok seganteng Kak Alan bisa deket sama kamu. Kalian udah jadian ya?" Tebak Dinda.
"Hush ngomong apa sih" Potongku.
"Habis kalian kemana-mana barengan loh. Semua orang juga pasti mikirnya gitu"
"Gue sama Alanta itu sahabat dari SD. Sementara Alanta itu orangnya kayak kamu, gak bisa temenan sama sembarang orang sulit buat nyocokin diri ke orang lain"
Prok...prok...prok...Dinda bertepuk tangan untukku.
"Hebat banget lo Ros. Berarti Kak Alan itu udah cocok banget sama lo. Persis gue. Begitu jenal lo langsung lengket begini"
Alanta sudah cocok denganku. Tapi sekali lagi dia bukan apa-apaku. Hanya sebatas teman. Berkali-kali pertanyaan ini muncul di otakku. Kenapa dia melakukan banyak hal untukku. Apakah dia seperti Dinda yang menganggapku sebagai sahabatnya karena aku satu-satunya teman yang cocok dengannya. Atau ada maksud lain.
Kulihat Alanta di kejauhan. Aku segera mendekat setelah berpisah dengan Dinda di belokan lorong. Masih berjalan beberapa langkah, rupanya aku tahu, Alanta sedang berbincang dengan Clara. Aku mundur. Aku harus sadar. Seperti yang telah diakui oleh Clara. Mereka dijodohkan orang tua. Aku di sini hanyalah penghibur. Hubunganku dnegan Alanta tidaklah lama. Hanya bekisar beberapa waktu di SMA.
Aku berbalik badan. Aku menghadap satu sisi tembok. Aku berpura-pura melihat mading di tembok. Aku tak ingin terlihat sedang menunggu Alanta. Lagipula aku.bisa pulang sendiri. Sudahlah, aku putuskan untuk pulang sendiri.
"Ros!!" Panggil Alanta.
Akupun menoleh. Saat aku menoleh Clara sudah tidak ada. Alanta berlari ringan ke arahku.
"Pulang bareng?" Tanya Alanta.
"Kayaknya gak usah deh. Kamu gak perlu loh ngantar aku tiap hari, aku bisa pulang sendiri kok" Kataku padahal tadi aku memang menunggunya.
"Iyaaa, tapi kalo ketemu gini ya mending pulang bareng" Begitu ringan Alanta berkata. Seolah tak ada beban di hidupnya ketika membawaku serta dengan motornya.
"Tadi kayaknya lagi ngobrol deh sama....."
"Clara?"
"Oh ya"
"Oh, itu dia ngingetin ntar malem nyokap ke rumahnya, acara arisan atau apa gitu"
Sebegitu dekatnya keluarga mereka. Tampaknya benar, orang tua mereka menghendaki untuk berbesan. Clara dan Alanta pasangan yang serasi. Dilihat dari parasnya, latar belakang keluarga, semuanya pas. Dan aku hanyalah lalat yang menempel pada mereka. Seharusnya aku menyadari itu.
"Alan....kita pulang aja deh" Kataku di tengah perjalanan
"Kenapa? Kamu nggak kerja?" Tanya Alan terkejut.
"Lagi males banget. Penat rasanya ini otak" Jawabku.
"Ya udah, jalan aja gimana?"
"Hah? Kemana emang?"
"Emmm Kota Tua?"
"Oke"
Jadilah aku bolos kerja. Otakku dipenuhi kenangan buruk peristiwa di sekolah tadi. Aku butuh beristirahat atau merefresh otak. Jadilah kami ke Kota Tua. Tempat yang belum pernah kukunjungi selama aku di Jakarta.
Wowo, aku takjub melihat antiknya Kota Tua di Jakarta. Tak berbeda jauh dengan Kota Tua Semarang, tempat ini menggambarkan situasi kota jaman dulu. Ada banyak bangunan buatan Belanda yang masih kokoh. Teringat kala itu, seseorang membawaku ke kota tua juga, Kak Panji. Bagaimana kabarnya sekarang. Dia pasti menjadi pemenang suatu lomba akademik, atau justru sedang menempuh pendidikan di luar negeri.
Kami duduk di sebuah kursi panjang setelah lelah berkeliling. Banyak hal yang kami lakukan mengunjungi museum, menari bersama para pengamen, dan mencoba skateboard.
"Gimana, kamu suka?" Tanya Alanta.
"Ya, tempatnya enak, menarik" Jawabku.
Sejenak suasana hening. Hanya suara musik angklung tak jauh dari tempat kami duduk yang terdengar. Tiba-tiba saja Alanta membelai rambutku lembut. Aku menoleh. Kulihat wajahnya menatapku. Tak pernah kulihat wajah semanis itu. Benar kata para cewek di sekolah. Alanta memang sangat tampan.
"Jangan khawatir ya. Tetap semangat. Aku janji tidak akan pernah membiarkan hal seperti tadi terjadi lagi" Katanya.
"Terima kasih....Alan ..ada yang mau aku omongin"
Alanta mengangguk mempersilahkan.
"Aku tidak lolos seleksi olimpiade"
"Ya, aku sudah dengar itu"
"Maaf, aku mengecewakanmu"
"Awalnya aku kaget. Tapi kemudian aku lega, karena seleksi seperti ini mungkin akan ada lagi"
"Ada lagi? Kapan?"
"Satu atau dua minggu lagi. Aku boleh tanya gak?"
Aku mengangguk sama seperti Alanta mempersilahkanku berbucara.
"Memang siapa yang terpilih?"
"Clara"
"Clara?"
"Iya, kamu kenal?"
"Ya, Papa Mamanya deket sama Papa Mamaku. Ya urusan bisnis lah"
Benar kata Clara. Sepertinya memang mereka bakal dijodohkan nantinya. Tapi Alanta seperti tak peduli tentang itu. Atau memang ini akal-akalan Clara saja untuk membodohiku.
"Kamu sering datang ke rumahnya? Atau sebaliknya?"
"Sering. Ya gak juga sih. Cukup lah. Tapi gak nyangka juga kalau dia terpilih jadi kandidat dari kelas kamu. Seorang Rosa bisa dikalahin?"
Kugoyangkan tubuhnya dengan ringan.
"Ih ngeledek mulu"
Alanta tampak puas dnegan ledekannya itu.
"Maafin aku karena udah ngecewain kamu" Kataku lirih. Mendadak suasana menjadi serius.
Alanta memegang tanganku. Digenggamnya erat tangan kananku sampai aku merasakan hangat. Tangannya begitu kekar namun halus. Baru kali ini dia melakukan ini. Setelah tatapan manisnya, sekarang genggamannya. Kenapa dia lakukan ini jika dia tahu akan dijodohkan dengan Clara.
"Seleksi olimpiade tidak menentukan potensi seseorang. Kamu masih tetap unggul walaupun kalah dalam seleksi. Masih banyak kesempatan yang lain. Yang aku minta, kamu harus tetap semangat. Tetap berjalan lurus ke depan. Harus tetap berdiri tegak. Paham?"
Aku mengangguk.
Hari ini hari yang melelahkan sekaligus mengejutkan. Sungguh aku hampir putus asa karena peristiwa di toilet. Rasanya hampir saja aku menuruti kata Clara, keluar dari sekolah. Tapi cowok disampingku ini membuatku yakin bahwa aku mampu melewati semua ini. Kalah dalam ajang seleksi bukan berarti nilaiku rendah. Masih banyak peluang lain, seperti kata Alanta.
Langit sudah berubah warna. Tandanya aku harus segera pulang. Kami menembus angin di sepanjang jalan. Aku bahagia. Sepertinya Tuhan sedang mengukir keadilan untukku. Ada orang yang berusaha keras menjatuhkanku, namun ada orang yang mati-matian membangkitkanku.
Aku yakin hidupku di dunia ini ada tujuannya. Ketika aku tak berhasil membawa Rania kembali, aku masih punya orang tua yang kuharap masih hidup. Dimana mereka kini. Itu akan menjadi tujuanku selanjutnya. Nanti, ketika aku sudah lulus pendidikan, aku akan mencari mereka. Nanti, ketika keberadaanku sudah dianggap, ketika semua orang sudah menghargai diriku, maka akan mudha bagiku menemukan mereka.
***