My Name Is Rose

My Name Is Rose
Gaji



Abang tukang ojek itu lagi. Aku sudah berpindah ke tempat lain. Tapi masih saja bertemu dengan Abang tukang ojek itu. Aku sudah malu untuk minta antar lagi. Dia selalu memberi gratisan, aku kan jadi tidak enak.


"Eh ketemu lagi!" Kata si Abang.


"Abang kok bisa di sini?"


"Lah namanya tukang ojek yang dimana-mana lah"


Dia pun duduk di sampingku lagi. Sambil menyulut rokok, dia mengangkat salah satu kakinya. Melihatnya merokok seperti itu sungguh aku iri. Dia begitu menikmati harinya. Hidupnya begitu lepas, bebas, tak ada beban yang nangkring di pundaknya.


"Kemarin aku ketemu sama yang kerja di rumahmu...siapa itu?"


"Bik Sul?"


"Ha, itu. Dia baru belanja di pasar, aku antar pulang. Dia cerita, Bapak lu gak bisa jalan karena kecelakaan"


Aku mengangguk lemas. Dia akhirnya tahu apa yang menimpa keluargaku.


"Trus Ibu lu pergi kagak pulang-pulang"


Aku mengangguk lagi. Aku tidak tahu ini baik atau tidak. Menceritakan masalah keluarga kepada orang lain. Kenapa Bik Sul begitu gampang bercerita pada orang. Jangan-jangan dia juga cerita ke orang lain lagi.


"Lah kenapa cuma adek lu uang diajak, kenapa lu kagak?"


"Bik Sul tidak cerita? Aku bukan anak kandung mereka"


"Lah trus?"


"Yaa aku ini anak angkat yang diadopsi dari panti asuhan"


"Bapak ibu kandung lu ada di mana?"


Aku menggeleng. Abang tukang ojek serta merta membuang puntung rokoknya ya g tinggal sedikit. Tak lupa ia menginjaknya dengan sandalnya supaya bara apinya padam.


"Kok bisa gitu?"


"Ya gitu, saya tidak tahu siapa orang tua kandung saya, jadilah saya di adopsi Papa Mama saya" Kali ini aku berbicara.


"Hmmm Abang jadi teringat anak Abang"


"Anak Abang kenapa?"


"Sudah mau lulus SD, malah sakit keras. Udah berobat kemana-mana, tidak ada kemajuan... Pas perpisahan kelas enam SD, dia meninggal"


"Inna lillahi....."


"Kalau sekarang masih hidup, dia mungkin sudah jadi sarjana"


"Maaf ya Bang"


"Kagak, Abang sudah ikhlas. Yang Abang heran, Bapak Ibu kandung lu, kok tega naruh lu di panti asuhan. Abang aja nih ya, demi agar anak Abang bisa sembuh, Abang pertaruhkan segalanya. Dulu Abang punya truk buat ngirim kembang ke Bandung. Abang jual buat berobat. Lah ini, anaknya sehat wal afiat ini, malah ditaruh di panti asuhan"


"Jangan pasang muka sedih gitu dong...." Kata si Abang.


"Mang...bakso satu...." Abang berbicara dengan tukang bakso tak jauh dari tempat kami berada.


"Lu pedes kagak?" Abang kemudian bertanya padaku.


"Aku?"


"Iya, masak orang lain, ini Abang ngomong sama siapa?"


"Eh..anu..eh...pedes Bang"


Sambil menikmati bakso sambil kami ngobrol santai. Abang tukang ojek menceritakan keluarganya, dan aku mau tak mau menanggapi meski sedikit. Bagaimanapun dia tetaplah orang lain yang kebetulan akrab denganku. Tidak bisa kuhamburkan semuanya kepadanya.


Bertemu dengan Abang tukang ojek seperti sedang bertemu dengan family. Aku tak tahu bagaimana rasanya punya keluarga besar yang sesungguhnya. Sekali aku punya, keluarga besar itu tidak mengakuiku. Abang tukang ojek ini seperti sedang memberikan peluang bagiku untuk sekedar mempunyai saudara.


***


"Iyo...sabar nanti tak kirimi, sudah dulu yo" Kudengar Bik Sul berbicara di telepon berbisik-bisik. Seolah tak ingin ada yang mendengar.


Perasaanku tidak enak. Sepertinya ada yang disembunyikan. Bukan perkara jahat menurutku. Tetapi aku tidak bisa menebaknya. Bisa jadi yang telepon itu Mama. Bisa jadi juga keluarga di desa.


"Bik Sul, adakah yang Bik Sul ingin bilang ke aku?" Aku memberanikan diri berbicara. Aku tahu dia orang tua. Kadang-kadang aku canggung berbicara dengan orang tua. Aku takut dinilai tidak sopan. Tapi situasi sekarang ini, mau tak mau aku menjadi kepala keluarga ini, di saat kepala keluarga yang asli sedang bergelut dengan fisiknya.


"Ehm ..anu Non....saya....ditelepon anak saya di kampung...sudah dua bulan ndak saya kirimi Non, anu....saya ...."


"Iya Bik, paham. Saya minta maaf ya... Kasih saya waktu sehari saja"


Bik Sul kemudian berlalu. Tampak sekali dia tidak enak mengungkapkan itu denganku. Apalagi aku masih remaja, sangat mungkin jika aku tidak bisa mengambil tindakan. Tapi aku harus bertindak tak peduli berapapun usiaku.


Aku ingat masih menyimpan uang yang seharusnya kugunakan registrasi semester genap, dan ternyata sudah dibayar oleh Clara. Aku mengambil uang itu di laci kamarku. Aku juga masih menyimpan tabungan sedikit. Tabungan itu untuk persiapan kontrol Papa bulan depan. Keduanya kukumpulkan. Alhamdulillah cukup untuk membayar gaji Bik Sul. Seharunya kami memberi lebih karena Bik Sul juga merawat orang sakit yaitu Papa. Tapi apa daya, hanya ini yang kupunya.


"Bik, ini masih kurang. Nanti kalau Mama sudah pulang, akan kami kasih lagi" Kataku dengan menyerahkan uang itu.


Bik Sul menerima uang itu dengan ragu-ragu. Aku tahu bagaimana perasaannya. Satu sisi dia tidak enak padaku karena keluarga kami sedang mengalami masalah finansial. Tapi sisi lain, dia membutuhkan uang itu, dan itu adalah haknya.


"Bik... Itu uang terakhir saya. Bulan depan, saya tidak tahu apakah masih bisa menggaji Bibik"


"Iya Non, trus?"


"Bibik habiskan bulan ini, sambil saya bersiap-siap. Bulan depan, Bibik bisa pulang kampung"


Mendengar itu Bik Sul menangis. Aku tahu dia menangis bukan karena kehilangan pekerjaan. Tapi karena tidak tega meninggalkanku yang masih belia mengurus orang lumpuh. Tapi bagaimanapun dia juga punya kepentingan lain.


"Ya Allah Non" Bik Sul memelukku erat. Akupun menyambut pelukannya. Disadari atau tidak, dia begitu banyak membantuku. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana bulan depan aku menjalani hidupku. Bagaimana aku bisa merawat Papa tanpa Bik Sul.


"Maafin Rosa kalau selama Bik Sul di sini Rosa punya salah" Akupun menangis mengatakan ini.


Aku tidak bisa membendung air mataku. Bik Sul sudah seperti ibu kedua bagiku. Dia mengurus semua kebutuhanku selama ini. Seringkali aku membawa bekal buatan Bik Sul. Dia akan membuatkan makanan apapun yang kuminta. Kepergiannya tentu membuatku kehilangan. Sangat kehilangan. Siapa yang nanti membantuku, siapa yang nanti memasakkan sayur lodeh, siapa yang nanti mengepel lantai. Bik Sul, dia pergi karena keadaan. Masih ada sekitar seminggu lagi. Dan selama seminggu itu aku harus siap. Aku harus mempersiapkan diri. Aku harus belajar membagi waktu. Yang lebih penting, Papa harus sedikit lebih mandiri dari sebelumnya. Setidaknya bisa mengurus diri selama aku sekolah nanti.