My Name Is Rose

My Name Is Rose
Guten Tag



Panji tidak berubah. Sorot matanya tetap teduh meski bertambah usia. Semakin ia dewasa semakin ia teduh. Entahlah apakah hanya aku yang merasakan ini atau semua orang akan merasakan hal yang sama tentang Panji. Yang jelas, Tuhan kembali mengirim malaikat untukku ketika Dia mencabut malaikatku yang lain.


Dengan tertatih-tatih dan sedikit pincang aku berjalan di antara kamar-kamar di hunian khusus pelajar dan mahasiswa ini. Sudah kukatakan keluhanku tentang sekamar dengan lawan jenis pada Panji. Dan dia bersedia membantu. Kali ini, dia mengantarku pulang. Dia memastikan aku pulang dengan selamat. Sebab ia tahu aku masih orang asing di negeri ini.


Aku baru saja menemukan kunci di dalam tas dan hendak memasukkannya pada lubang pintu. Tiba-tiba saja pintu terbuka dan seorang perempuan muncul di baliknya. Siapa dia? Ataukah aku yang keliru kamar? Aku menengok ke kamar sebelah dan memastikan apakah aku salah kamar atau tidak.


Perempuan itu berkulit cokelat tua, rambut hitam kecokelatan dan tipikal rambut ikal. Dikuncirnya rambut itu di bagian belakang persis karakter Yasmin pada film kartun Aladdin. Dengan mengenakan kaos pendek dan bagian perut sedikit terbuka, lalu rok denim yang pendek sepaha, sungguh seperti inilah yang sering kulihat pada film luar.


"Guten Tag!" Sapa perempuan itu.


"Oh Guten Tag" Jawab Panji.


Kemudian keduanya berbincang di depanku. Aku tidak tahu mereka sedang membicarakan apa. Tapi yang jelas aku tidak salah kamar. Mungkin perempuan itu yang salah kamar. Tapi bagaimana dia bisa masuk?


"Jadi dia ini pacarnya Jack yang tinggal sekamar dengan kamu" Kata Panji yang memang sudah mendengar keluhanku tentang tempat tinggalku ini.


"Hello...my name is Rose, im from Indonesia" Kataku memperkenalkan diri.


"Oh Hay... Im Alice" Jawabnya dengan senyum. Kami pun berjabat tangan seperti layaknya orang yang berkenalan.


"Oh...Kak, coba tawarkan dia untuk tinggal di sini" Bisikku dengan yang sudah sedikit lupa dengan sakit di kakiku.


Setelah berbicara sebentar, Panji kemudian memberikan kode bahwa usahanya berhasil. Perempuan itu bersedia tinggal di kamar ini bersamaku.


"Thank you" Ucapku pada perempuan itu.


Perempuan itu masuk ke dalam kamar, mengambil tas lalu keluar lagi dan mengunci pintu. Dari sini aku mulai tidak paham apa maksudnya. Toh aku juga tidak tahu pembicaraan perempuan itu dan Panji.


"Kita akan melihat kosnya Alice" Kata Panji.


"Untuk apa?"


"Kamu ini gimana sih. Katanya nyari tempat yang bisa tinggal sesama perempuan"


"Iya...memangnya Alice di kosnya sendirian?"


"Ada temannya perempuan juga. Bukannya itu yang kamu cari?"


"Oh paham aku sekarang. Jadi aku bertukar tempat dengan Alice?"


"Yeah"


Jadi aku menempati tempatnya Alice dan mengorbankan Alice untuk tinggal dengan Jack? Apa ini juga bisa kuterima dengan akal sehatku?


"No no no, aku pikir Alice akan tinggal di sini dengan aku"


Aku terdiam. Panji benar. Aku akan mengusir Jack jika demikian. Padahal dia lebih dulu tinggal di sini.


"Alice mau tinggal di sini karena mau tinggal serumah dengan kekasihnya. Kalau tidak karena itu buat apa dia pindah kos?" Lanjut Panji.


"Tapi akhirnya kita membiarkan laki-laki dan perempuan tinggal bareng dong"


"Ayolah Rose, ini Jerman. Hal seperti itu sudah biasa. Bukan hal tabu seperti di negeri kita"


"Tabu secara norma, juga tabu secara agama Kak. Berarti kita membiarkan hal yang tidak baik berjalan begitu saja. Kita membiarkan dosa bergulir di bumi ini"


Tampaknya Panji sudah mulai kesal. Ia kuwalahan menghadapi argumenku yang sejak SMP sulit ia bantah.


"Kalau kita berpaku pada satu sudut pandang saja, maka kamu tidak akan punya tempat tinggal. Pikirkan nasibmu sendiri sebelum kamu memikirkan orang lain"


Aku lemas. Aku sadar, aku begitu lemah. Mengatasi hal kecil saja aku tidak bisa. Saat ini aku hanya bisa memikirkan diriku sendiri. Itu pun harus dengan bantuan Panji. Aku tidak ingin melibatkan Panji pada sudut pandangku sendiri. Panji juga orang asing di negeri ini. Dia juga sedang memperjuangkan nasibnya sendiri. Aku harus ingat itu.


Kami tersadar akan Alice yang menunggu sedari tadi. Meski dia tidak tahu kamu membicarakan apa, rasanya tidak etis membiarkan dia menunggu dua teman yang sedang berdebat.


Tempat tinggal Alice tak jauh berbeda dengan tempat tinggalku. Terdiri dari tiga lantai dengan cat warna merah bata. Tiap kamar diisi oleh dua orang. Entah beda jenis kelamin atau tidak. Memang tak seunik tempatku sebelumnya, tapi aku menyukai suasana di sini. Sebab tempat ini khusus perempuan. Aku masih belum paham ternyata ada apartemen mahasiswa khusus perempuan. Kenapa Miss Rachel tidak menempatkanku di sini sewaktu aku memprotes. Ternyata ada tempat seperti ini. Tapi aku yakin tidak banyak yang seperti ini.


"Bitte komm herein" Kata Alice begitu membuka pintu.


Tempat ini sederhana, namun rapi. Ada kulkas kecil, dapur kecil, kursi sofa juga kecil, dan televisi yang tidak semewah tempatku sebelumnya. Tapi semua ditata dengan rapi.


"Rose, Alice bertanya apa kamu suka tempat ini" Kata Panji.


"Iya, aku suka. Oh ya, teman sekamarnya Alice dimana?" Tanyaku penasaran, tapi sebenarnya aku memastikan bahwa teman sekamarku adalah perempuan.


Kemudian Panji menanyakan itu pada Alice. Tak lama kemudian seseorang keluar muncul dari luar. Perempuan. Aku bersyukur dalam hati. Tetapi perempuan itu mengenakan pakaian yang khas, lengkap dengan kain yang menutup rambutnya.


"This is Rebecca, she is a nun" Kata Alice memperkenalkan.


Rebecca tersenyum pada kami semua. Ada beberapa rambut warna pirang yang terlihat di sekitar dahinya, menambah cantiknya wajahnya. Jadi Rebecca adalah seorang biarawati. Dia kuliah jurusan theology, dia satu kampus denganku. Tak apa aku tinggal dengan yang berbeda agama asal tidak berbeda jenis kelamin.


Begitulah. Akhirnya aku bertukar tempat dengan Alice. Kini Alice tinggal sekamar dengan kekasihnya, Jack. Dan hal ini yang beberapa hari menghantuiku. Aku memikirkan nasib Alice yang belum tentu perlu dikasihani. Bisa jadi Alice justru bahagia dengan kondisi seperti ini.


Dan aku tinggal dengan Rebecca yang sebelumnya tinggal dengan Alice. Tinggal sekamar dengan biarawati adalah hal baru bagiku. Semoga kami bisa berteman baik tanpa menyentuh ranah aqidah yang kami miliki. Semoga Rebecca nyaman denganku. Apalagi hubungan kami terkendala bahasa. Rebecca tidak begitu lancar berbahasa inggris, sementara aku sama sekali tidak bisa berbahasa Jerman. Alhasil, bahasa isyaratlah yang sering kami pakai.


Aku menjatuhkan sesuatu saat menata buku-bukuku. Foto kami berdua. Aku dan Alanta. Rasanya jantungku diremas-remas melihat itu. Aku merindukan dia, padahal baru beberapa hari aku berpisah dengannya. Oh iya, bagaimana dia ketika tahu aku berangkat di hari sebelum hari yang kukatakan padanya. Apakah ia akan kecewa padaku?


***