My Name Is Rose

My Name Is Rose
Penghuni Baru



Balon-balon berwarna warni terpasang di setiap sudut ruangan. Kursi-kursi tertata seperti stadion yang sudah terpasang permanen. Layar besar menyala dengan logo kampus. Para anggota panuan suara sidah berjajar rapi. Rangkaian bunga pun turut menambah meriahnya ruangan ini. Aku duduk di deretan tengah kira-kira urutan ke sebelas dari depan.


Hari ini adalah hari yang istimewa bagi teman sekamarku, Rebecca. Calon biarawati itu hari ini akan diwisuda. Ia akan memperoleh gelar Ph.D sesaat lagi. Dan kurasa setelah ini dia tidak tinggal lagi denganku. Ia akan pindah ke sebuah gereja untuk memulai pengabdiannya. Aku penasaran dengan biarawati yang merawatnya itu. Rebecca bilang hari ini beliau akan datang sebagai walinya.


Acara dimulai. Para wisudawan wisudawati sudah menempati kursinya masing-masing. Kulihat Rebecca berjalan dari kejauhan. Kulambaikan tanganku padanya entah dia tahu atau tidak. Kuakui dia sangat cantik. Andai dia bukan calon biarawati, dia pasti sudah punya pacar seperti Alice. Oh, baru saja aku membayangkannya dia sudah terlihat. Dia membawa putrinya. Anak ya sudah lahir. Didampingi oleh pacarnya, Jack. Oh, apakah akhirnya mereka menikah?


Suasana ruangan menjadi meriah ketika satu persatu wisudawan wisudawati dipanggil untuk menerima pengukuhan. Tepuk tangan penonton turut meriuhkan suasana.


"Rebecca Wingherman"


Nama Rebecca dipanggil. Tampak seorang biarawati berdiri memberikan tepuk tangan. Ia memakai busana khas biarawati lengkap dengan penutup kepala. Kurasa itulah ibu angkatnya. Postur tubuhnya sedikit gemuk, kulitnya putih dan memakai kacamata.


"Helo Rose..." Alice menghampiriku. Dia begitu bangga menunjukkan buah hatinya yang menggemaskan.


"Congratulation Alice" Ucapku.


Kuucapkan selamat atas kelulusannya juga atas kelahiran bayinya.


"Lihat, betapa lucunya dia" Puji Alice untuk putrinya.


Aku setuju dengannya. Bayi itu memang sangat lucu dan menggemaskan. Cantik, hidungnya mancung persis ibunya. Disaat kani sedang tertawa dengan senangnya, di belakang Alice sekitar tiga puluh meter kurang lebih, perempuan itu menatapku. Ini kali kedua aku bertemu perempuan itu. Aku tidak tahu siapa dia. Tapi dia menatapku. Jelas, pandangan itu diarahkan padaku. Aku tidak mengenalnya. Tapi dia seakan mengenalku.


Aku berjalan cepat menuju Rebecca untuk mengalihkan perhatian perempuan itu.


"Re...." Aku hendak bercerita tentang perempuan yang melihatku itu.


"Hay Rose. Kenalkan. Ini ibu angkatku. Mother Anne" Kata Rebecca mengenalkan ibunya.


Aku tidak jadi bercerita. Aku menyapa biarawati itu. Ya, benar dia yang kuduga tadi. Kami berbincang sebentar. Tapi rasanya pandangan ibu angkat Rebecca padaku juga tidak mengenakkan. Terbukti dengan dia buru-buru mengajak Rebecca pergi dariku. Dia juga tidak begitu menanggapi ucapanku.


Aku sendirian. Alice sudah pulang dengan Jack. Rebecca dengan Ibu angkatnya. Dan perempuan itu masih melihatku dengan tatapan tajam. Siapa dia.


Dari kejauhan kulihat Panji sedang berbincang dengan temannya. Aku berjalan cepat ke arahnya. Aku sedang mencari perlindungan. Jujur aku takut dengan perempuan itu yang sepertinya penuh dengan kebencian.


"Kak Panji" Kataku dengan nafas terengah-engah.


"Hay..temanku dari Indonesia" Panji mengenalkanku pada temannya.


"Oh Hay..." Aku berusaha menyembunyikan rasa takutku.


"Kak. Emergency" Bisikku.


Panji memberikan gestur bertanya.


"Ada seorang cewek lihatin aku tajam banget. Aku takut" Bisikku.


"Mana?"


"Di belakang...pakek singlet putih sama celana jeans item"


Panji mendongak ke arah belakangku.


"Jangan gitu kak ntar ketahuan" Kataku setengah berbisik sambil menarik jaket Panji.


"Mana sih?"


Aku menoleh ke belakang dan perempuan itu sudah tidak di sana.


***


Seminggu berlalu.


Dua hari setelah wisuda Rebecca pindah ke gereja tempat ia mengabdi. Dan sejak saat itu aku sendiri di kamar. Terkadang buku kudukku merinding karena merasa seseorang mengamatiku. Ini Jerman. Apakah ada hantu di Jerman?


Pagi ini aku bersiap berangkat kuliah. Semangkuk sereal dan secangkir teh hangat sudah kulahap habis . Saatnya mengerahkan tenaga u tuk mencari ilmu. Aku baru saja akan membuka pintu saat pintu diketuk dari luar.


"Halo. Guden morgen" Kata seseorang.


"Oh..helo" Jawabku.


"Maaf, ada penghuni baru untuk kamar ini. Jadi mulai sekarang anda tidak sendirian lagi" Katanya.


"Oh oke"


"Come" Kata orang itu memanggil seseorang yang lain lagi.


Perempuan itu. Perempuan rambut cokelat dengan kulit cokelat gelap dan mengkilap. Matanya. Matanya masih tajam seperti waktu itu. Perempuan itu kini sekamar denganku. Ini mengerikan. Sama mengerikannya dengan tinggal bersama lawan jenis.


"Helo" Sapa perempuan itu.


Aku tersenyum sebagai balasan walau hatiku bergidik, keringatku mulai mengembas, dan tenggorokanku mulai kering.


"Oh yeah. Semoga betah ya" Kata pengatur asrama.


Perempuan itu masuk dengan mengampluk tas punggungnya. Ia melihat kanan kiri mengamati seluruh ruangan.


"Oh ya, aku belum tahu namamu. Aku Rose. Kamu?" Aku mencoba mencairkan suasana. Tidak, bukan mencairkan suasana tetapi meredam rasa takutku sendiri.


Perempuan itu tidak menjawab. Ia masih asyik melihat beberapa foto yang terpajang di dinding.


"Oh. Kamarmu di sana ya. Jangan lupa dikunci kalau mau tidur" Kataku mengulangi, berharap ia akan memulai berbicara denganku.


"Laki-laki mantel cokelat itu....pacarmu?" Tanya perempuan itu.


Perempuan itu tidak menjawab pertanyaanku justru mengalihkan pembahasan. Dan siapa yang ia maksud? Laki-laki mantel cokelat. Siapa?"


"Panji" Lanjutnya.


"Oh. Bukan. Kamu kenal dia? Dia temanku sekolah di Indonesia"


Mendengar jawabanku, perempuan itu memandangku. Ia memperhatikanku dari bawah ke atas kembali ke bawah lagi.


"Claire" Dia menyebutkan namanya.


"Darimana kamu kenal Panji? Kalian satu jurusan?" Aku bertanya.


"Tidak. Aku hanya tahu saja. Dia cukup terkenal di kampus" katanya dengan sikap yang masih dingin.


Waktunya tidur. Aku ngantuk sekali, tapi aku tidak bisa pulas tertidur. Pintu ku kunci


rapat. Aku takut. Perempuan itu masih menatapku dengan kebencian. Meski aku tidak tahu kenapa dia membenciku, aku patut untuk waspada.


Pagi sudah tiba. Sehabis subuh aku tidur lagi. Ini di luar kebiasaanku. Semalam aku tidak bisa tidur karena terlalu waspada. Paginya aku mengantuk sekali sehingga tidur kembali setelah subuh. Kulihat Claire sedang mengaduk kopi di dapur. Baunya wangi.


"Kopi?" Claire menawarkan.


Kopi. Baunya seperti kopi Indonesia. Sangat khas. Bagaimana jika kopi itu diracuni? Aku tidak tahu alasannya tapi bisa saja itu terjadi.


"Oh tidak. Terima kasih" Jawabku.


"Aku sudah membuat dua" Katanya.


Ya, benar di depannya ada dua cangkir kopi. Jadi dia sudah menyiapkannya. Kenapa? Apakah memang direncanakan? Semua sudah dia atur, dari tinggal sekamar sampai membuatkan kopi? Bulu kudukku merinding.


"Kopi Indonesia? Kamu tidak mau?" Tanya Claire.


"Kamu dapat itu dari mana?" Aku penasaran.


"Panji"


Katanya dia tidak saling mengenal. Tapi sekarang dia bilang itu dari Panji. Mana yang benar.


"Ayo minum" Ajaknya.


"Maaf aku...."


"Kamu takut aku racuni?"


Darimana dia tahu pikiranku? Claire kemudian mengambil sendok dan mencoba kopiku.


"Ayo minum. Kalau ada racunnya aku juga akan mati" Katanya lagi.


Akupun mengambil secangkir kopi itu dengan gemetar sambil berdoa semoga benar tidak ada racunnya.


***