
Sore sekitar pukul empat lebih beberapa menit, aku sudah bersiap untuk pulang. Bajuku sudah berganti dan Mbak Susi sudah datang untuk berganti shift denganku. Ketika kulangkahkan kaki keluar pintu outlet, rupanya Alanta sudah menunggu di luar sambil membaca buku.
"Sejak kapan kamu di situ Alan?" Tanyaku.
Alanta melihat jam di tangannya lalu menjawab.
"Satu jam kayaknya ada deh" Jawabnya.
"Lama juga, kok aku gak tahu ya kami dari tadi duduk di situ?"
"Kamunya terlalu sibuk layani cowok-cowok di sana" Jawab Alanta sambil menunjuk segerombolan anak sekolahan yang lagi nongkrong. Aku mencibir. Dan dia terlihat begitu senang dengan wajahku yabg cemberut.
Seperti sebelum-sebelumnya, kami tidak langsung pulang. Hari ini aku traktir Alanta makan batagor pedas. Yah, sebagai rasa terima kasihku karena tempo hari sudah membantuku memantau Mama yang sedang bertemu seorang mafia, Jacob. Sebungkus batagor lima ribu perak, cukup untuk mewarnai suasana sore ini. Saat senja sudah mulai menampakkan diri. Burung-burung dara di sekitar taman sudah mulai menuju kandang masing-masing. Sebungkus batagor pedas menjadi hidangan yang pas bagi remaja seperti kami.
"Kamu sudah pikirin?" Alanta masih saja memikirkan sekolahku.
"Alan ..please dong. Kenapa mesti itu mulu yang dibahas" Komentarku.
Kali ini Alanta diam. Dia tidak menanggapi lagi. Tak seperti biasanya yang terus nerocos, kali ini dia diam. Dengan diamnya dia, justru aku merasa tidak enak. Aku seperti sedang membentaknya atau membantah argumentasinya. Dengan diamnya seolah dia kecewa atas sesuatu. Rasanya aku begitu kasar padanya.
"Aku...masih mikir masalah yang nimpa keluargaku Alan"
Barulah Alan menoleh padaku dan tertarik dengan kalimatku.
"Dulu kami serba kecukupan. Sampai aku sekolah di SMP Insan Mulia. Kamu pasti tahu sekolah di situ mahal"
"Ya, Bunda kenal baik dengan ketua Yayasannya" Kaya Alanta.
"Sampai akhirnya Papaku mengalami kecelakaan dan lumpuh"
"Inna lillahi ..."
Alanta memang belum mengetahui akan hal ini. Aku belum pernah bercerita ini dan Alanta sendiri belum pernah bertemu Papa.
"Mamaku kerja jadi model tapi entah kemana hasilnya sampai sekarang keluarga kami masih sulit ekonomi. Mungkin karena Mama berhubungan dengan Jacob itu"
"Yah aku pikir juga begitu"
Selama beberapa saat kami terdiam satu sama lain.
"Tapi jujur,. Kamu sendiri sebenarnya gimana? Pengen ngelanjutin sekolah atau ..."
"Entahlah Alan...aku sendiri bingung. Masalah satu belum kelar muncul lagi masalah lain...biar ini selesai dulu baru akan kupikirkan lagi"
"Ros...hidup itu adalah masalah. Kalau kamu nunggu masalah ini kelar...di ujung sana sudah nunggu masalah lain. Jadi gak akan ada habisnya. Lalu mau sampai kapan lagi?"
Aku tercengang. Alanta benar. Mau ditunggu sampai kapanpun masalah akan terus datang dnegan berganti-ganti rupa. Lalu aku menunggu apa?
"Jawabannya ada di sana. Yuk!!"
Kami berjalan beriringan. Ya, aku meyakini itu. Jawabannya ada di dalam sana. Saat yang bersamaan, adzan pun berkumandang. Hari sudah berganti menjadi malam. Ditandai dengan gerakan ibadah para hamba yang bersembahyang.
Pukul tujuh malam kami sampai di depan rumah. Untuk ke sekian kalinya Alanta mengantarku pulang. Bukan aku yang mau, dia sendiri yang bersedia mengantarkan pulang. Katanya sebagai permintaan maaf atas janjinya yang belum terpenuhi dulu. Di saat yang sama, sebuah taksi berhenti tepat di depan rumah. Dari dalam taksi keluarlah Mama. Kurasa dia baru saja pulang kerja. Mama melihatku. Ia juga melihat ada Alanta bersamaku. Dibukanya kacamata hitamnya lalu memandang kami dengan pandangan menyelidik.
"Aku pulang ya" Kata Alanta segera
Aku mengangguk. Aku berjalan mendekati pagar rumah dengan langkah ragu. Di ujung sana, di dekat pagar, Mama masih berdiri menungguku. Dia berdiri tegak sambil memainkan kacamata hitamnya. Selang beberapa saat kami sudah berhadapan satu sama lain.
"Siapa cowok itu?" Tanya Mama penasaran.
"Teman Ma" Jawabku ragu.
"Teman apa? Sekolah?" Tanya Mama lagi.
"Teman waktu di Malang dulu Ma" Jawabku jujur.
"Hebat juga ya kamu, kecil-kecil pinter cari gebetan" Komentar Mama sambil membuka pintu pagar.
Aku hanya menunduk tak menimpali apa-apa.
"Dilihat dari motornya, jaketnya, helmnya, kayaknya dia anak orang kaya" Kata Mama lagi. Dan lagi-lagi aku hanya bisa diam.
Mama berbalik badan ke arahku, jadilah kami saling berhadapan.
"Aku semakin yakin, kayaknya Ibu kamu dulu juga begitu. Ibu kamu orang miskin, Bapak kamu orang kaya, trus cinta mereka tidak direstui, lalu mereka nekad, dan lahirlah kamu. Makanya kamu di buang ke panti asuhan"
Analisis yang hebat. Persis cerita dalam novel, sinetron, atau film. Dia pantas menjadi seorang penulis skrip. Aku masih menunduk dan diam meski batinku terkoyak. Begitu santai Mama mengucapkan hal seberat itu. Dia tidak mempedulikan bagaimana perasaanku mendengar itu.
"Pantas jika kamu sehebat ini cari cowok. Pepatah bilang, buah jatuh tak jauh dari pohonnya" Mama tersenyum sinis lalu dia masuk ke dalam rumah.
Ah, aku tak peduli dengan ucapan Mama. Semua yang dia ucapkan berasal dari jati uang benci. Jadi kuanggap semua itu hanya bualan. Aku membuka kembali formulir pendaftaran First Internasional School. Di situ jelas tertera tanggal pendaftaran. Dan ini sudah telat. Bagaimana mungkin Alanta masih membujukku untuk sekolah di sana.
Kemudian kubuka rapot yang kuambil dari tangan Adit waktu itu. Stella, teman satu genk Clara menyuruh Adit untuk membuang rapor milikku. Tetapi Adit tak berani. Ia kemudian menyimpan rapor itu di rumahnya. Sekarang raporku a
Sudah di tangan. Rapor ini bisa untuk dijadikan pertimbangan beasiswa, atau minimal pertimbangan masuk sekolah. Tapi sekali lagi, pendaftaran sudah ditutup. Aku tidak ada kesempatan mendaftar lagi.
Aku duduk di dekat jendela. Sesekali kulihat rembulan yang tampak lebih besar dari sebelumnya. Dulu waktu kecil kupikir ibuku ada di sina. Orang-orang dewasa selalu bilang, bahwa di dalam rembulan bersemayamlah sesosok bidadari. Dan menurutku ibuku lah bidadari itu.
Saat bulan sedang besar begini, kupikir ibuku sedang melihatku. Ibuku sedang memberitahuku akan hal rumit yang kuhadapi. Dia akan memberikan jawabannya untukku. Seperti saat ini, ali sedang dilanda dilema. Antata diriku sendiri, dan keluarga angkatku. Apakah aku harus memikirkan diriku sendiri ataukah harus mendahulukan keluarga yang sudah mengurusku selama ini. Tak terasa pipiku sudah basah oleh kerinduan. Aku merindukan sosok yang belum pernah kulihat. Rindu sampai tak tahu bagaimana mengobatinya.
Aku duduk sendiri, aku beralih memandang gadis kecil yang sedang tertidur pulas. Apa bedanya dia dengan aku. Dia bisa sekolah, dia bisa makan enak, dia tidak pernah dibentak, tapi dia belum pernah mendapatkan curahan kasih sayang ibu kandungnya. Meskipun ibunya ada di dekatnya. Jadi apa bedanya dia dengan aku? Dia juga anak malang sepertiku.
***