My Name Is Rose

My Name Is Rose
Dinner



"Akhirnya kalian datang juga" Bu Mariana menyambut kedatangan kami. Dia memandangku hangat dengan senyumnya yang ramah.


Aku melihat sekeliling. Rumah ini sepi, tidak ramai seperti dua hari yang lalu. Tampaknya Alanta kali ini tidak berbohong. Dia benar, memang hanya aku yang diundang ke rumah ini malam ini. Beberapa pembantu rumah tangga lalu lalang melakukan persiapan.


"Kamu cantik" Kata Bu Mariana.


Mendengar itu aku tersipu malu. Harus kuakui perempuan di depanku juga sangat cantik dengan rambutnya yang terurai rapi. Jika aku tak mengimbangi tentu aku kalah dengannya, ups. Bu Mariana lantas mendekatiku dan meraih kedua tanganku. Di Momen ini adalah momen tergugup yang pernah kurasakan.


"Ibu minta maaf atas kejadian tempo hari, Ibu minta maaf karena tidak mampu menghentikan apa yang terjadi, sehingga kamu tersakiti. Ibu tidak bisa membela kamu karena mereka orang-orang penting dalam Yayasan First. Ibu harus jaga sikap" Kata Bu Mariana.


Dijelaskan seratus kali pun tidak ada pengaruhnya. Aku paham yang mereka rasakan. Aku juga paham bahwa mereka berusaha membantu. Aku sudah memaafkan setiap jengkal langkah mereka.


"Malam ini semoga bisa mengobati malam itu" Lanjutnya.


Aku mengangguk dan tersenyum. Aku tidka bisa berkata apapun. Gugup meraja lela di benakku.


"Silahkan" Kata Bu Mariana.


Kami dibawa ke area dekat kolam renang. Suasana di tepi kolam renang indah oleh lampu-lampu yang dijajar rapi. Sebuah meja bundar besar terpasang di sana, lengkap dengan hidangan pembuka. Alanta menarik kursi untukku. Seperti itulah adegan dalam sinetron yang kutahu.


Kami duduk bertiga. Sesaat aku berkata dalam hati, kemana Ayah Alanta yang katanya ikut bergabung dengan kami. Apakah tak jadi pulang apa bagaimana. Namun masih beberapa detik, ada seseorang yang muncul dari dalam rumah. Pria itu berjaz hitam cokelat mirip yang dipakai Alanta, dan berkacamata. Wajahnya semakin berwibawa dengan jenggot tipis di dagunya. Kurasa dialah Ayah Alanta.


"Malam semuanya" Sapanya.


Kami bertiga berdiri untuk menghormati orang yang datang. Pria itu mencium kening Bu Mariana. Benar, sepertinya memang dia Ayah Alanta. Lalu pria itu berpelukan dengan Alanta. Dan ketika menghadap ke arahku, pria itu menelungkupkan kedua tangannya di depan dada. Tentu saja aku melakukan hal yang sama.


"Silahkan" Katanya.


Kami kemudian duduk hanya berempat. Canggung rasanya duduk sebagai tamu seorang diri. Rasanya semua perhatian akan berpusat padaku.


"Yah, ini temannya Alanta yang Bunda ceritakan waktu itu" Kata Bu Mariana.


"Cantik..." Komentar Ayah Alanta.


"Nama saya Rosa Pak" Kataku begitu Bu Mariana memperkenalkan.


"Oh jadi ini yang bikin Alanta nekat pindah sekolah" Kata Ayah Alanta dengan lirikan menggoda.


Alanta tersenyum mendengarnya. Lega aku, tidak dipandang negatif oleh beliau.


"Saya Ibrahim, panggil saja saya Om Ibra...Ayahnya Alanta yang bolak balik Jakarta Batam, sebab ada kerjaan di sana. Jadi saya jarang ada di rumah" Kata Beliau.


Aku mengangguk mengiyakan.


"Bagaimana anak saya di sekolah? Nakal nggak? Pacarnya banyak gak?" Tanya Om Ibra.


Bu Mariana lantas menyikut lengan Om Ibra mengingatkan bahwa di depannya ada aku uang mungkin tersinggung dengan pertanyaan itu.


"Ah...Om bercanda...anak Om ini orangnya alim kok..."


Lantas Alanta tertawa terkekeh dengan candaan Ayahnya.


"Rosa tinggal dimana?" Tanya Om Ibra.


"Di perumahan Jogobayu Om, saya tinggal sendiri di sana" Jawabku ragu apakah mereka bisa menerima kenyataan ini.


"Jadi Rosa ini Papanya sudah meninggal, dan Mamanya pulang ke Semarang, bukan begitu Rosa?" Tanya Bu Mariana.


"Benar Om"


"Hidup sendiri, di tengah kota metropolitan, luar biasa"


"O ya Rosa, bagaimana tawaran Ibu waktu itu? Jika kanu bersedia, kamu bisa kembali ke First, Ibu akan bantu, dan Ibu pastikan kamu akan diterima dengan tangan terbuka, tanpa tes, karena kualitas kamu sudah tidak diragukan lagi" Kata Bu Mariana.


Aku menunduk untuk berpikir. Apakah karena ini Bu Mariana mengundangku kesini? Apakah dia tidak tulus?


"Bunda ini...jangan rusak suasana dong..." Komentar Om Ibra.


"Oh hehehe....jangan khawatir Rosa, Ibu tidak memaksa. Semua keputusan ada di tanganmu" Lanjut Bu Mariana


"Sudah..sudah...Ayah sudah lapar, yok kita makan sambil lanjut ngobrol" Kata Om Ibra.


Sesaat kemudian beberapa pelayan membawakan hidangan bermacam-macam hingga penuh satu meja. Sesaat aku khawatir jika cara makanku berbeda di hadapan mereka.


"Ayo..silahkan...Rosa ..makan yang banyak..."


Om Ibra ini berbeda dengan dugaanku. Aku pikir dia begitu perfectionis seperti dugaanku pada Bu Mariana. Dengan apa yang mereka punya, kupikir mereka adalah orang yang berselera tinggi, laki-laki yang garang, perempuan yang serba glamour. Melihat perlakuan mereka kurasa mereka justru orang yang sederhana. Mereka begitu menikmati hidup dan yang penting, menghargai orang lain.


"Rosa, ayo...silahkan...jangan terlalu kurus, gak baik" Kata Bu Mariana.


Oh aku tersadar dari lamunanku. Alanta kemudian mengambilkanku beberapa sendok nasi, sesat aku salah tingkah.


"Mau yang mana?" Tanya Alanta.


"Yang itu saja" Jawabku menunjuk sebuah lauk.


"Nah, itu masakan Ibu, cobain" Kata Bu Mariana menunjuk lauk yang ku pilih tadi.


Kami ngobrol-ngobrol ringan, tak ada yang serius dalam obrolan kami, hanya seputar referensi makanan, kegiatan sehari-hari, hobi, dan hiburan. Aku pun larut dalam obrolan mereka. Sesekali kulirik Alanta begitu bahagia kali ini. Dia tertawa lepas dengan Ayahnya. Sepertinya dia juga dekat dengan Ayahnya. Hubungan keduanya seperti teman. Hampir sama dengan hubunganku dan Papa.


Beberapa saat setelah makan malam usai. Seorang pelayan kembali membawakan kie tart. Siapa yang ulang tahun? Ayahnya? Bu Mariana? Atau siapa? Yang jelas bukan ulang tahunku.


"Tuh kue nya sudah datang" Kata Bu Mariana.


Kulihat angkanya 18. Berarti itu Alanta. Tidak mungkin Bu Mariana berusia semida itu.


"Kemarin kayaknya kamu gak happy sama ultah kejutannya Tante Hamdani. Makanya Bunda bikin lagi. Kali ini pasti happy, kan ditemenin yang spesial" Kata Bu Mariana.


Aku menunduk malu. Ah, kenapa jadi kepedean gini. Yang spesial itu Ayahnya karena jarang bertemu.


Lagu ulang tahun dinyanyikan ringan, dan tiup lilin dijalankan. Aku menunggu saat yang tepat untuk memberikan kado ulang tahun. Kadoku tak seberapa, jadi aku ragu mengeluarkannya.


"Maaf Ayah gak persiapan, memburu tiket pesawat sampai gak sempat siapkan kado. Cuma ini yang Ayah berikan" Kata Om ibra sambil memberikan sebuah amplop.


Alanta membuka isi amplop itu. Kurasa isinya bukan uang. Sebab isinya tipis sekai


"Makasih Yah, ini berarti banget buat masa depan Alan...thanks ya Yah" Alanta tersenyum.


Duh, bagaimana aku akan memberikan kado ini. Tidak. Kadoku tidak pantas. Seharusnya aku konsultasi dulu sebelum membeli kado. Tapi konsultasi sama siapa?


"Sst...kamu gak kasih aku kado? Tadi sudah aku kasih tahu kan?" Alanta berbisik padaku.


Aku mengangguk ragu. Harapanku, malam ini segera berakhir, Alanta segera mengantarku pulang, dan di perjalanan akan kuberikan kado ini. Setidaknya jangan di depan orang tua Alanta.


"Ssst...bawa gak?" Tanya Alanta mengulangi.


"Hmm lihat anak kita Bun...udah berani bisik-bisik depan kita" Komentar Om Ibra.


Kami pun salah tingkah. Duh gusti, tolonglah aku.


***