My Name Is Rose

My Name Is Rose
Hari Kelima



Hari kelima.


Masih dalam tahap pemeriksaan. Hanya ada tiga polisi di ruangan ini. Selama ini pemeriksaan dilakukan di gedung First, bukan di kantor polisi atas permintaan Bu Mariana. Dan kali ini kepala sekolah turut hadir. Yang selalu hadir adalah Nyonya Hamdani dan teman-teman Clara. Seakan mereka begitu niat menjatuhkanku.


"Bunuh diri" Kataku memberikan keterangan.


"Bunuh diri bagaimana maksud saudara?"


"Saya tidak yakin. Mungkin karena kesal dia mengobrak abrik kelas lalu terjadi kebakaran, atau justru sengaja bunuh diri"


"Kurang ajar kamu ya!!!! Anak saya tidak mungkin berniat bunuh diri. Untuk apa? Dia hidup bahagia, yang pantas bunuh diri itu kamu" Teriak Nyonya Hamdani.


"Nyonya...tolong jangan mengganggu pemeriksaan" Kata seorang polisi.


Teman-teman Clara mencoba menenangkan Nyonya Hamdani. Berkat mereka, kini Nyonya Hamdani duduk dengan tenang.


"Jika mungkin bunuh diri, saudara tahu alasannya?"


"Karena...." Aku tidak meneruskan ucapanku. Tidak mungkin aku menceritakan persaingan kami karena seorang cowok.


"Hidupnya tertekan karena banyak kegiatan" Ucapku akhirnya.


"Kamu mau bilang kalau saya dan suami saya menekan dia?" Nyonya Hamdani memang tidak pernah sabar.


"Percaya atau tidak, dia mengatakan itu. Pelajarannya terlalu berat baginya, itulah sebabnya dia merokok" Aku memberanikan diri mengatakan apa yang kulihat dan apa yang kudengar.


"Tidak masuk akal" Gerutu Nyonya Hamdani.


Tak berapa lama setelah itu pintu terbuka, dan tampak yang datang adalah suami Nyonya Hamdani, Papanya Clara. Wajahnya yang seram membuatku bergidik. Teringat olehku bagaimana orang suruhannya menabrak Papa sampai lumpuh. Orang berduit yang berkuasa atas segala hal.


"Saya ingin ini diperjelas. Ini sudah masuk ke ranah kriminal. Upaya pembunuhan untuk anak remaja bukankah itu mengerikan bagi bangsa ini.... Saya paham betul anak saya memang bermusuhan dengan anak ini. Saya juga dengar bahwa dia dikeluarkan dari sekolah setelah melakukan penganiayaan pada salah satu temannya. Jika ini dibiarkan, akan ada berapa korban lagi?" Jelas Pak Hamdani.


Begitu jelas dia menuduhku. Dia bahkan tidak merasa bahwa putrinya sendiri mencoba membuangku ke jurang. Jika dia paham betul mestinya dia tahu alasan sebenarnya aku keluar. Mestinya dia juga tahu bahwa putrinya merokok. Sangat mudah diketahui hal sekecil itu.


"Saya sebagai ketua Yayasan sangat setuju, namun mari kita serahkan pada pihak yang berwajib untuk mengusut tuntas kejadian ini. Tetapi sekali lagi saya mohon untuk tidak terekspose keluar sebelum jelas semuanya. Meski kita menyerahkan pada polisi. Ini menyangkut nama baik sekolah kami" Jelas Bu Mariana.


"Dugaan sementara, pembakaran melalui rokok ini. Sebab tidak ada konsueting pada waktu itu" Kata polisi.


"Dan setelah membakar, pelaku langsung turun ke bawah" Sahut yang lain.


"Dan bertemu dengan kami" Kata Stella sambil menyikut sampingnya.


"Iya betul" Hana membenarkan.


Sukses semua memojokkanku.


"Saksi kunci ada di korban. Apa tidak sebaiknya kita menunggu korban sadarkan diri?" Tanya Bu Sarah.


"Mau sampai kapan? Anak saya sedang berjuang untuk hidup perlu waktu lama untuk menunggu dia sadar" Sahut Nyonya Hamdani.


"Selamat siang semuanya!!" Pintu terbuka dan apa yang kulihat ini? Alanta datang bersama Dinda, dan dia sedang mendorong kursi roda. Siapa yang duduk di sana? Rania.


"Sayang??? Kamu sudah kuat??? Alan...kenapa terburu-buru sayang....kasihan Clara" Kata Nyonya Hamdani dengan berjongkok memeriksa kondisi putrinya.


"Tenang saja Tante, dia memang pengen kesini. Ya kan Cla?" Tanya Alanta.


Clara tampak datar memandang sekeliling. Apa yang ia rasakan? Apakah masih merasakan sakit di sekujur tubuhnya? Atau dia terpaksa?


"Clara akan memberikan kesaksiannya pak, dia adalah saksi kunci. Jadi apa uang dia sampaikan saya rasa itulah yang valid" Kata Alanta.


"Saya...bertemu dengan Rosa sebelum kebakaran" Kata Clara terbata-bata. Sesekali ia memandang sekeliling. Memandang Alanta, melirikku, lalu melihat Ibunya, kemudian menunduk.


"Kami berantem...."


"Kemudian?"


"Rosa menggulingkan kue tart dan membuang rokok sehingga semua ruangan terbakar. Di pojokan kelas ada gas bekas menyemprot semut sehingga api cepat menyebar" Kata Clara dengan menggebu-gebu.


"Nah...." Sahut Nyonya Hamdani


"Clara!!! Kamu sudah janji menceritakan yang sebenarnya. Kok jadi gini?" Tanya Alanta.


"Bohong Pak. Clara bohong. Rosa tidak seperti itu" Sambung Dinda.


Alanta dan Dinda tampak terkejut. Sepertinya Clara memberikan janji nun tidak ditepati.


"Rokok itu bukan punya saya" Aku menyahut.


"Oya?" Tanya polisi.


"Itu milik Clara. Saya saksinya. Beberapa kali daya melihat Clara merokok. Saya juga lihat waktu prom night sebelum maghrib, dia ngerokok di kebun belakang, tapi buru-buru dia buang pas ketahuan saya" Kata Dinda dengan berani.


"Eh kamu. Jangan ngarang ya. Kamu temannya Rosa pasti berupaya melindungi dia kan?" Sela Nyonya Hamdani.


"Itu bisa saya tuntut sebagai pencemaran nama baik" Sambung Pak Hamdani dengan sangat yakin.


Dinda kemudian membuka hapenya lalu menunjukkannya pada polisi.


"Ini bisa Bapak lihat. Saya sedang selfie, dan di belakang saya, Clara sedang merokok. Ini kejadian sebelum ujian nasional" Dinda pun tegas berkata.


Polisi menunjukkan gambar itu satu sama lain. Kemudian mereka manggut-manggut.


"Maka jika ada yang membuang rokok sampai menimbulkan kebakaran, yang paling memungkinkan justru Clara" Sambungnya.


"Saya juga melihat Rosa menggendong Clara saat turun ke lantai satu. Saat itu saya bersama beberapa petugas tetapi memang para petugas itu sangat sibuk sehingga mungkin tidak ingat kejadian itu. Saya melihat sendiri Clara dalam keadaan lemas tetapi masih sadar" Alanta menambahkan.


Polisi terlihat menelisik. Kulihat Clara menunduk karena tidka bisa mengelak lagi. Nyonya Hamdani tampak berbisik-bisik dengan Pak Hamdani. Mereka tampak tidak menerima bukti-bukti yang ditunjukkan.


"Rosa dan Clara memang tidak pernah akur sejak awal. Tapi saya sebagai sahabatnya Rosa bersaksi bahwa Rosa tidak pernah sedikitpun berusaha mencelakai Clara. Justru sebaliknya. Saya punya buktinya" Lanjut Dinda.


Dinda kemudian melepas jam tangan ungunya dan memencet sebuah tombol. Diletakkannya jam itu di atas meja sehingga semua yang ada di ruangan ini bisa mendengar dengan jelas.


"Ahhh..tolong....!!! Clara tolong aku!!! ..... Enak saja. Mati saja kami di bawah sana....aaawwww. .sakit Clara jangan injak....sakit .... Salah sendiri berurusan denganku.....kamu harus mati!!! ....awwww...akhhhhhhh" Suara itu sangat jelas.


"Kok bisa sih...kan udah...." Aku mendengar Hana berbisik demikian pada temannya.


"Clara pasti masih ingat. Itu dua tahun lalu di Bogor" Kata Alanta.


Clara menunduk, lalu memandang sekeliling dengan rasa takut.


"Aaakhh..ah..ah .ah...." Tiba-tiba saja Clara seakan kesakitan..nafasnya tersengal-sengal mungkin ia sesak nafas.


"Clara....Clara kamu kenapa sayang?? Mana yang sakit nak?" Nyonya Hamdani segera mendekati putrinya.


"Ma, bawa ke rumah sakit sekarang!!" Pinta Pak Hamdani.


Mereka bertiga kemudian keluar ruangan untuk menuju rumah sakit.


"Seharusnya kita fokus pada penyembuhan korban. Di sini bukan hanya Clara korbannya. Tapi juga Rosa. Dia trauma akan kebakaran itu. Berhari-hari dia tidak bisa tidur bahkan makan pun tidak teratur.Mencari penyebab dan mencari siapa yang salah tidak akan ada habisnya. Siapapun tidak akan mau mengalami hal semacam ini. Jadi saya mohon kepada pihak yayasan maupun kepolisian untuk berhenti mencari kesalahan. Lebih baik kita fokus pada pembenahan" Tukas Alanta.


***