
"Kamu beneran dapetin itu? Gila...bener-bener gila...selamat ya" Komentar Alanta di seberang.
"Tapi kamu nggak mikir aku cewek serakah kan?" Tanyaku memanja.
"Ya mikir lah...hahaha"
"Ih...kok gitu"
"Serakah tapi di jalur yang benar...idih marahnya bikin candu"
Pagi ini kuawali dengan menelepon Alanta. Setidaknya dengan meneleponnya membuatku serasa didampingi. Teleponku berhenti saat salah seorang karyawan membunyikan musik cukup kencang di luar ruanganku. Aku keluar untuk memeriksa. Bahkan dia bersama karyawan lain berjoget riang meskipun hanya sebentar. Dan lainnya menikmati musik dengan anggukan kepala. Pemandangan yang jarang sekali kulihat. Hari-hari mereka selalu serius. Hanya sesekali mereka membunyikan musik, biasanya saat direksi tidak di tempat. Oh, berarti Nyonya Hamdani maupun suaminya tidak ada?
"Pak Agung... Pa Hamdani maupun Nyonya kok gak ada ya. Kemana? Tumben?" Tanyaku.
"Dia cuti seminggu ke depan. Mau liburan ke luar negeri. Orang kaya mah bebas" Komentar Pak Agung.
Cuti? Luar negeri? Itu bukan liburan, tapi semacam operasi wajah untuk Clara. Bukankah dia bilang semingguan lagu? Ini baru dua hari. Aku segera menenteng tas dan jaketku.
"Ros, mau kemana?" Pak Agung bertanya tapi aku tidak menggubris.
Aku tahu harus kemana. Semoga saja aku tidak terlambat. Butuh waktu sekitar dua puluh menit untuk sampai di sana. Itupun jika lancar. Ah tepat dugaanku, Jakarta tidak pernah sepi. Selalu ramai tanpa jeda. Tiga puluh menit masih belum sampai. Semoga saja keberangkatan mereka molor. Ah betapa bodohnya aku, bisa saja mereka sudah berangkat kemarin sore atau tadi malam? Aku tidak tahu. Tapi aku akan menyesal jika tidak memastikan pagi ini.
Bandara. Sejam kurang sedikit aku baru sampai. Aku berharap mereka belum berangkat. Setidaknya ada kalimat perpisahan yang bisa kuucapkan. Bandara yang luas dan selalu ramai membuatku sulit menemukan mereka. Aku berlari kesana kemari seperti orang panik. Orang lain mungkin akan mengira aku mengejar seorang pria seperti dalam film.
Korea. Aku mencari tujuan Korea. Setahuku orang akan melakukan operasi wajah di Korea. Banyak artis yang operasi plastik di sana. Oh tidak, kurasa Singapore, kebanyakan keluarga di Indonesia berobat ke sana. Aku mencari satu persatu namun belum juga ketemu. Ah kurasa mereka sudah terbang sehari sebelumnya.
Nafasku tersengal-sengal karena berlarian tadi. Aku berhenti sejenak untuk sekedar mengambil nafas. Dari kejauhan aku melihat beberapa orang sedang berpelukan. Kulihat tulisan di papan. Tujuan Sidney, Australia. Jadi Rania akan dirawat di sana.
Alih-alih menghampiri dan mengucapkan kata perpisahan juga doa terbaik, aku justru hanya berdiri bahkan bersembunyi di balik tiang penyangga. Aku hanya bisa melihat dari kejauhan. Begitu saja aku sudah bahagia. Rania akan pergi jauh untuk menyembuhkan luka bakarnya. Butuh waktu lama untuk bertemu dengannya lagi.
Kulihat Rania sudah masuk bersama Nyonya Hamdani. Tetapi Pak Hamdani tidak ikut serta. Selain itu ada beberapa orang lagi yang ikut masuk. Setelah beberapa saat aku baru sadar pesawat akan segera terbang. Aku yang sedari tadi berdiri di belakang tiang, berlari menuju lokasi yang dapat melihat pesawat dengan leluasa.
Benar saja, dari tempat ini aku bisa melihat dengan jelas pesawat yang membawa Rania terbang meninggalkan landasan. Rania ada di dalam pesawat itu. Ada sesuatu yang terlepas dari dalam jiwaku ketika pesawat itu menjauh. Dia akan jauh dariku dalam kirin waktu yang tak sebentar. Bagaimana jika ternyata dia akan kuliah di sana. Maka dalam waktu tahunan kami tidak akan bertemu.
Satu tetes air keluar dari mataku. Jantungku seakan diremas. Seakan separuhnya ikut terbang bersama pesawat itu. Seolah aku telah mengusirnya dari kota ini. Dia yang lebih dulu tinggal di siji, aku hanyalah pendatang. Rasanya seperti aku menempati tempatnya, menindihnya, dan bahkan menggesernya.
"Ros, kamu di sini?" Ada seseorang yang menyapaku.
Aku menoleh, ternyata Bu Mariana.
"Kenapa tidak menemuinya dan memberi ucapan selamat tinggal?" Tanya beliau.
"Aku takut, mereka akan salah paham Bu, saya rasa ibu paham maksud saya" Jawabku ragu-ragu.
"Mari breakfast" Ajak beliau.
Tidak jauh dari bandara, kami sarapan sepotong roti dan segelas susu ditambah semangkuk kecil bubur ayam. Bu Mariana selalu menyempatkan ke kedai ini setiap kali dari bandara. Alanta pun demikian katanya.
"Bagaimana rasanya jadi pegawai kantoran? Pasti banyak tantangannya bukan?" Tanya Bu Mariana sambil menyeruput teh panas.
"Iya Bu, antara senang dan repot"
"Wah sekarang saya tidak bisa meremehkan gadis di depan saya ini dong ya, gajinya sudah gede sekarang" Canda beliau.
Aku tersipu. Beliau adalah alah satu orang yang sangat kusegani. Bukan karena dia adalah ibunya Alanta, tapi karena sikapnya yang selalu mengagumkan. Perempuan mandiri yang hebat, kelak aku ingin menjadi seperti dia. Tangguh, dan berani mengambil keputusan sendiri meskipun keputusan itu terkadang kontroversial.
"Tapi Rosa, pendidikanmu harus tetap jalan. Jangan terlena dengan apa yang kamu peroleh sekarang. Sebab bisa jadi itu menjadi boomerang di kemudian hari" Kata beliau dengan menggenggam tanganku. Katakan, siapa lagi yang bisa sepeduli itu pada orang lain, yang bahkan tidak lagi bersekolah di tempatnya membangun pendidikan.
Kalimat itu terus terngiang di telingaku sepanjang hari. Aku tidak bisa tidur. Keinginanku untuk berpindah dari kantor ke Luxurious belum diputuskan. Jika tidak disetujui, maka aku harus memutuskan, apakah aku akan tetap bekerja dan kuliah di tahun berikutnya, atau memutuskan untuk kuliah dan berhenti bekerja di akhir bulan ini. Tetapi jika disetujui, apakah aku masih bisa menjalani keduanya dengan lancar?
Sementara hubunganku dengan Alanta juga sangat bergantung pada pendidikanku. Jika aku bukan orang berpendidikan, bagaimana keluarga besarnya bisa menerimaku. Meskipun mereka bukan tipe pemilih dan bukan tipe membeda-bedakan apalagi dalam hal materi, tapi setidaknya bukankah aku harus mengimbangi?
Dua hari lagi pendaftaran kuliah ditutup, tetapi Nyonya Hamdani masih ada di Australia dengan Clara. Mungkin saja dia akan kembali setelah Clara benar-benar pulih. Artinya masih lama, bisa sebulan atau bahkan lebih. Maka aku tidak bisa hanya menunggu jawaban dari Nyonya Hamdani saja. Aku harus mengambil keputusan.
Pagi itu aku mendengar suara musik meski tak terlalu keras. Seorang karyawan membunyikan lagu pop di mejanya. Dan sepertinya karyawan lainnya ikut menikmati. Aku tersenyum saat melewati mereka. Bagaimanapun usia mereka jauh di atasku. Rasanya memang kurang sopan jika anak semuda diriku berada di ruangan yang jauh lebih baik dari mereka ang sudah lama bekerja di sini. Aku mengangguk untuk memberi hormat. Mereka membalas dengan hal yang sama.
Aku sudah memutuskan, untuk resign dari kantor ini mulai tanggal pertama bulan berikutnya. Aku akan menyelesaikan tugasku sampai akhir bulan ini dan keluar dengan baik-baik. Aku tidak ingin menunggu Nyonya Hamdani kembali dari Australia. Karena belum pasti juga waktunya. Kurasa tabunganku cukup untuk bertahan meski aku harus banting tulang lagi setelah ini.
"Mbak Wenny, saya mau ngajukan ini" Kataku sambil menyodorkan map yang berisi pengajuan resign. Selain mengurus gaji karyawan, Mbak Wenny juga mengurus penerimaan dan pemberhentian karyawan. Semua tentang karyawan, dia yang mengatur. Karena itulah langkah pertamaku adalah mengajukan resign melakui Mbak Wenny.
"Ah, pas kamu datang, silahkan tandatangani ini" Mbak Wenny tidak menggubris map yabg kusodorkan, dia justru memintaku menandatangani sesuatu.
Kubuka isi map itu dengan menyiapkan pulpen di tangan. Perpindahanku ke Luxurious disetujui. Oh, di luar dugaan. Kapan dia menyiapkan ini. Apakah sebelum berangkat ke Australia? Ah, Tuhan. Jalan yang kau pilihkan memang selalu indah.
***