
Pia-pia. Mendengar namanya, yang terlintas di benakku adalah bakpia. Yang kutahu, Jawa Tengah khas dengan bakpia yang memiliki banyak varian isi. Tapi ini sama sekali berbeda. Bakpia sejenis roti, sedang pia-pia sejenis gorengan. Hari ini aku membuat makanan ini dengan Bulik Farida.
"Kakek suka sekali cemilan ini, ini khas daerah Bulik" Kata Bulik sambil mengaduk adonan tepung.
"Memang Bulik dari mana?"
"Banyumas. Kamu pernah kesana?"
Aku menggeleng.
Bulik mulai menggoreng pia-pia. Dan aku menyiapkan piring saji.
"Walah Bulik, di daerahku ini namanya ote-ote" Kataku begitu pia-pia diletakkan di atas piring saji
Bahan, bentuk dan rasanya memang persis. Hanya saja pia-pia ini menggunakan udang sebagai toping.
"O ya? Di sana juga ada makanan seperti ini?" Tanya Bulik.
"Iya Bulik. Namanya ote-ote. Biasanya dijual di warung-warung, tapi gak segede ini sih"
"Ote-ote? Lah bukannya ote-ote itu yang gak pakek baju ya?"
"Hahaha itu juga ote-ote Bulik"
Pia-pia sudah tersaji menjadi beberapa piring, sangat cocok untuk menikmati sore ini. Sekonyong-konyong beberapa asisten rumah tangga datang untuk membereskan dapur yang berantakan selesai membuat pia-pia. Asisten yang lain membawa pirihg-piring berisi pia-pia ke bale ( ruang terbuka yang biasanya digunakan untuk menerima tamu atau sekedar santai keluarga). Aku dan Bulik masih mencicipi beberapa pia-pia yang lain.
"Enak?" Tanya Bulik.
"Enak Bulik. Gurih, ada sedikit manisnya" Jawabku.
Saat kami sedang menikmati pia-pia yang hangat ini, Mama muncul di pintu dapur. Dia melihat kami berdua yang asyik menikmati pia-pia.
"Rosa, temani adikmu, Mama ada perlu dengan Nenek" Kata Mama datar.
"Iya Ma"
Aku segera berdiri meninggalkan pia-pia yang masih tersisa. Kini aku berdampingan dengan Mama.
"Jangan terlalu dekat dengan Farida" Kata Mama tiba-tiba di perjalanan ke bale.
"Kenapa Ma? Bulik Farida baik sama Rosa, dia juga gak pernah aneh-aneh"
"Jangan banyak bertanya dan jangan membantah omongan Mama. Kamu masih terlalu kecil untuk menilai orang lain. Bisa saja dia baik sama kamu untuk memperoleh sesuatu. Ingat, kita di sini numpang" Kata Mama dengan nada tinggi namun berbisik.
Aku masih belum mengerti apa maksudnya. Aku bukan anak kecil lagi, tinggal beberapa minggu lagi aku akan menjadi anak SMP. Jadi aku bisa menilai orang dari sikapnya. Kenapa Mama bilang begitu. Kenapa dia membatasiku dengan siapa aku berteman. Bukankah selama ini dia tak peduli padaku.
Apa yang salah dengan Bulik Farida. Bukankah tidak adil melarang sesuatu tanpa memberitahu alasannya. Apakah hubungan mereka kurang baik selama ini? Jika memang begitu apa hubungannya denganku? Bukankah tidak adil menyeretku dalam masalah pribadinya?
"Satu lagi, jangan panggil aku Mama di sini. Panggil aku Tante. Mereka bisa curiga"
Tak adakah yang lebih menyakitkan dari ini? Kenapa tidak sekalian saja dia menyuruhku memanggilnya Nyonya? Leherku tercekat. Aku menelan ludah pahit. Hampir saja air mataku jatuh jika saja aku tidak segera bertemu Monica yang lucu. Dia menghiburku dengan tingkah polahnya yang menggemaskan. Kualihkan perhatianku pada Monica. Perlahan aku menyadari bahwa semua memang untuk keselamatan kami bertiga. Aku, Papa dan Mama.
***
"Ada kabar gembira yang perlu Bapak sampaikan malam ini" Kata Kakek tepat setelah kami selesai makan. Sebab ada aturan untuk tidak berbicara saat sedang makan.
"Menantu kedua saya, Farida sedang mengandung. Tadi pagi dia sudah matur ke Bapak" Lanjut Kakek.
Mendengar itu, Nenek langsung beranjak dan menghampiri Farida.
"Bener nduk?" Tanya Nenek.
Bulik Farida mengangguk. Nenek serta merta langsung memeluk Bulik Farida dengan girangnya seakan mendapat sebuah hadiah.
"Alhamdulillah...selamat yo Nduk. Jaga kandunganmu, jaga juga kesehatanmu" Lanjut Nenek.
Kulihat raut wajah Mama yang tampak tidak senang. Jadi jelas, ada jarak pemisah diantara keduanya.
"Puguh sudah kau hubungi?" Tanya Nenek sambil kembali ke kursinya.
"Sudah Bu" Jawab Bulik.
"Bilang sama suamimu untuk mengambil cuti saat kelahiran cucuku nanti" Kata Kakek.
"Inggih Pak"
"Bapak sudah siapkan nama untuk cucuku kelak. Nama kesatria kerajaan Mataram Kuno. Kebun sawit di Palembang, juga akan kuhadiahkan untuk masa depannya" Kata Kakek mengakhiri.
Begitu kayanya keluarga ini. Kelahiran Monica mendapat sebidang tanah. Kandungan bulik Farida masih muda namun sudah mendapatkan perkebunan. Keluarga ini kaya raya. Tapi mengapa tidak bisa mengentaskan kesulitan ekonomi Papa? Bukankah Mama adalah anak kandungnya yang seharusnya dibantu ketika mengalami kesulitan? Apakah mereka tidak menyayangi Mama? Atau Mama juga sama sepertiku? Anak angkat?
"Apa yang kamu butuhkan Nduk? Ngidam apa? Ojo diempet, gak baik buat bayimu. Ayo katakan, kamu butuh opo, pengen opo?" Tanya Nenek begitu lembut.
"Emmm....jika diperbolehkan, saya ini tinggal di Banyumas sementara waktu" Jawab Bulik ragu-ragu.
Pernyataan itu membuat Kakek dan Nenek saling pandang.
"Loh kenapa? Apa ada yang ndak nyaman? Kurang opo? Bisa lah dibicarakan baik-baik" Bujuk Nenek.
"Mboten Bu, mungkin ini bawaan jabang bayi, rasanya kangen sama Ibu di Banyumas" Jawab Bulik.
"Tapi Nduk, apa kata orang, kenapa kamu sampek pulang ke Banyumas. Disangkanya ada masalah Nduk" Nenek masih berusaha membujuk.
"Tidak Bu, saya cuma kangen sama keluarga Banyumas. Apalagi Mas Puguh masih bertugas di Sumatera. Ini kesempatan saya untuk berkunjung ke Banyumas"
Setelah berpikir beberapa saat, Kakek pada akhirnya memberi ijin Bulik untuk ke Banyumas beberapa hari lagi. Jujur saja aku berharap mereka melarang Bulik ke Banyumas. Aku tidak ingin berpisah dengannya. Selain Papa, dialah yang baik padaku di sini. Aku tidak akrab dengan Kakek dan Nenek. Aku hanyalah keponakan yang numpang di sini. Aku bukan siapa-siapa.
Bagaimana hari-hariku tanpa Bulik Farida nanti. Siapa yang mau ngobrol denganku. Siapa yang mau menemaniku menikmati waktu-waktu membosankan di sini. Siapa yang akan menyapaku kala pagi. Siapa yang akan mengajakku menikmati makanan unik di sini. Siapa?
Kulihat Mama, matanya sayu. Terlihat jelas dia tidak nyaman di meja makan bersama kami. Ada sesuatu yang ia pendam. Wajahnya memang tak lagi manis setelah kelahiran Monica yang kebetulan bersamaan dengan keterpurukan ekonomi keluarga kami. Tapi malam ini jauh lebih muram. Tentu ada sesuatu yang tidak menyenangkan malam ini. Dan aku menduga bahwa itu tentang kehamilan Bulik Farida.
Mama buru-buru meninggalkan meja makan disaat Kakek dan Nenek sedang membahas keberangkatan Bulik ke Banyumas. Alasannya adalah Monica yabg sudah mengantuk. Tapi aku tahu itu hanya pura-pura. Aku yakin ada sesuatu yang dipendamnya. Aku menunduk. Tak ingin menjadi perhatian bahkan tak ingin dianggap ada. Aku muram. Aku sedih. Aku tak mau berpisah.
***