
"Jadi itu sebabnya Clara membenci kamu?" Kata Dinda.
Pulang sekolah Dinda membawaku ke rumahnya. Aku menurut saja sebab dia yang menyelamatkanku tadi. Lagipula ada tugas matematika yang cukup banyak. Dinda ingin belajar bersama. Aku pun menyetujui karena hanya itu yang bisa kulakukan untuknya demi membalas budi baiknya selama ini.
"Jadi dia takut kalau teman-temannya menjauhi dia karena pernah dekat dengan anak bekas panti asuhan?" Lanjut Dinda.
Aku hanya mengangguk lemas. Aku tidak membeberkan semuanya. Aku mengaku jika aku memang jebolan panti asuhan. Tapi aku tidak membeberkan identitas Rania yang sekarang berubah menjadi Clara.
"Tapi kenapa Mamanya baik banget sama kamu?" Dinda masih penasaran kurasa.
"Mamanya itu ngira kalau aku teman baiknya Clara. Lagian mereka mungkin benar. Mamanya kepincut sama jam tangan kita yang bermerk sehingga Mamanya berpikir aku anak orang kaya"
"Seperti itu orang kaya Ros. Maunya anaknya bergaul sama yang kaya juga yang pinter juga yang sekelas dengan mereka" Komentar Dinda.
Pertanyaannya, apakah orang tua Dinda juga begitu? Apa mereka juga berpikir aku sekelas dengan mereka?
"Eit kau mikirin apa? Kamu mikir jangan-jangan Mama Papaku juga gitu yaaa" Dinda meledekku.
Aku mengangguk.
"Hahaha...mereka nggak kayak gitu Ros. Mereka ngebebasin aku untuk berteman sama siapa saja asal nggak bawa pengaruh buruk. Cuma, mereka pengen banget aku punya teman yang bisa jadi teman belajar. Udah gitu aja"
"Kamu beneran bisa baca pikiran aku Din" Kucubit hidungnya dengan gemas.
Kami tertawa cekikikan. Bersamanya aku merasa sangat damai. Sedamai saat bersama Rania dulu. Tapi aku tidak bisa membohongi perasaanku. Aku dibesarkan di tempat yang sama dengan Rania. Hubungan persaudaraan kami begitu erat. Aku tentu masih merindukan kehadirannya. Masih. Sangat.
***
"Non...sudah pulang?" Kata Bik Sul dengan raut wajah sedikit takut. Dia bahkan tidak membuka pintu dengan lebar justru hanya menampakkan kepalanya dan terkesan menutupi dari sesuatu.
"Buka pintunya Bik, aku sudah lapar" Kataku.
"Eh ..anu Non...eh...sebaiknya..."
Belum selesai Bik Sul bicara, terdengar suara keras dari dalam.
"Siapa Bik? Rosa? Suruh masuk!" Suara Mama berteriak dari dalam.
Pintu dibuka lebih lebar. Bik Sul memandangku dengan takut, sesekali juga memandang Mama. Dia menunduk bingung.
"Bik, masuk kamar!" Kata Mama.
Suasana seperti ini kembali terjadi. Dulu sering sekali. Setelah ada Bik Sul, ini kali pertama suasana seperti ini terjadi. Biasanya hanya menyindir atau sekedar menyerutuk. Aku berusaha tenang meski dadaku berdebar kencang.
Plakk...Mama menamparku.
"Kamu nyuri??" Mama bertanya dengan kasar.
"E...enggak Ma..." Jawabku dengan takut.
"Ini hape Mama temukan di kasur kamu. Dapat uang dari mana? Kamu masih SMP, belum perlu punya hape. Oh, saya tahu kamu minta Papanya Monica buat beliin??"
"What??? Papa belum tahu? Ah yang benar saja. Jangan-jangan bener firasatku ya, kamu memang jalan dengan pria hidung belang ha??"
"Enggak Ma ... Demi Allah tidak"
"Trus jam tangan ini. Ini mahal lo, kamu beli pakek uang siapa??"
"Semua ini dikasih Ma"
"Dikasih siapa ha???? Laki-laki hidung belang??"
"Bukan Ma...sahabat Rosa yang kasih" Alu berusaha membela diri.
Plak...kembali dia menamparku. Seketika Mama menyeret tanganku. Aku berusaha bertahan namun Mama lebih kuat dari yang kukira.
"Beraninya kamu berbohong sama Mama. Beraninya kamu menyembunyikan sesuatu dariku!!" Teriak Mama.
Aku melihat Bik Sul mengintip dari balik pintu kamarnya tetapi ia tak berani menampakkan diri. Aku pun tak ingin membawa Bik Sul pada masalahku sendiri.
Bruk...gudang. Untuk kedua kalinya Mama mengurungku di gudang.
"Renungi kesalahanmu sampai kamu mengakui kebohonganmu!!" Kata Mama.
Dia tidak akan pernah mendengar penjelasan apapun dariku. Apapun itu, hanya akan membakar kebenciannya padaku. Aku duduk tersungkur memeluk lututku sendori. Aku lapar. Ku berharap Papa segera pulang dan membebaskanku dari gudang ini. Aku tidak setakut dulu. Papa ada bersama kami. Dia pulang setiap hari. Jadi aku hanya akan terkurung beberapa jam saja.
Aku pikir dengan hadirnya Bik Sul membuat pikiran Mama lebih tenang. Tentu saja pekerjaan rumah tangga akan lebih sempurna jika dikerjakan oleh tangan-tangan ahli orang dewasa dibanding tangan mungil remaja sepertiku. Yah, aku lupa. Mama akan selalu mencari kesalahanku sampai dia punya alasan jitu untuk melemparku kembali ke panti.
Ruangan ini gelap. Tidak ada sambungan listrik untuk menyalakan lampu. Ada satu jendela namun tak bisa dibuka. Hanya sedikit cahaya lampu ruang dapur masuk ke ruangan ini melalui celah-celah ventilasi kecil. Aku lapar. Sejak siang dari rumah Dinda aku belum makan lagi. Oh aku teringat sesuatu. Dinda membawakanku snack di tas. Segera kuambil snack itu untuk mengganjal perutku.
Berapa jam lagi Papa akan pulang? Ayolah Pa jangan lembur. Bisikku. Aku bersandar pada kayu-kayu besar bekas almari. Sesekali kudengar suara tikus berbunyi dari pojokan ruangan. Tak apa, aku tak takut asal jangan menghampiriku.
Kreek...pintu terbuka pelan. Papa? Syukurlah akhirnya penyelamatku datang. Seperti sebelum-sebelumnya.
"Non, teh anget Non, nasi goreng tinggal sedikit. Cepet Non. Kalau sudah selesai ketuk-ketuk ya"
Ternyata Bik Sul. Dia memberikan segelas teh hangat dan sepiring kecil nasi goreng. Cukup untuk makan malamku hari ini. Aku segera meneguk teh hangat minuman favoritku. Untunglah ada Bik Sul. Tambah satu orang penyelamatku.
Aku tahu Bik Sul pun bekerja dalam tekanan. Satu sisi dia kasihan padaku. Sisi lain dia takut dengan Mama. Orang seperti Mama tidak menutup kemungkinan suatu ketika akan berbuat kasar pada Bik Sul. Kehilangan pekerjaan juga menjadi salah satu kekhawatiran.
Dok..dok...aku mengetuk pintu seperti yang sudah dikatakan Bik Sul. Dia segera membuka pintu dan mengambil piring dan gelas yang kupakai. Setelah itu tak ada suara. Bik Sul pandai mencari kesempatan. Mungkin Bik Sul mengingat anaknya atau cucunya yang seusia denganku. Miris rasanya seorang anak dikurung seperti ini. Di dunia ini mungkin hanya sekian persen yang mengalami seperti yang kurasakan.
Krekkkk
Pintu kembali dibuka. Tetapi bukan Bik Sul yang berdiri di sana. Juga bukan Papa. Mama ada di sana. Ada apa lagi? Tidak puas dia menamparku dan mengurungku di sini? Apa yang akan dia lakukan? Dia akan menghukumku lagi?
"Keluar, Nyonya Hamdani menelepon. Ternyata dia yang memberikan hape itu? Apa itu? Grand prize. Tuhan mungkin sedang berbaik hati sampai kamu yang kejatuhan duren dapat grand prize" Kata Mama.
Nyonya Hamdani? Menelepon? Apakah Mama sempat menyebut namaku? Apakah akhirnya Nyonya Hamdani tahu siapa aku? Aku memang keluar dari kurungan gelap. Namun ancaman yang lebih besar siap menerkamku. Bagaimana nasibku selanjutnya? Apa yang akan Nyonya Hamdani lakukan padaku? Setelah dia berbuat begitu baik, apakah selanjutnya justru sebaliknya? Bagaimana pula nasib Papa? Akankah dia kehilangan pekerjaannya. Dia baru saja memulai, apakah dia akan kehilangan semuanya?
***