My Name Is Rose

My Name Is Rose
Suara Deru Motor



Malam yang hening.


Jam dinding di kamarku serasa berbunyi kencang sebab tak ada yang menyaingi suaranya. Suasana sunyi senyap. Padahal ini masih jam sepuluh malam. Namun tak ada suara sama sekali kecuali detak jam dinding dan hembusan angin sesekali. Mbak Yanti, asisten rumah tangga kami sudah tertidur pulas. Sebab esok hari ia harus bangun jauh lebih pagi daripada kami.


Aku masih mengerjakan soal perbandingan. Ada banyak soal cerita yang harus kuselesaikan. Sebenarnya ini bukan tugas mendesak yang harus dikumpulkan besok. Bahkan guru tidak memerintahkan mengerjakan ini. Tapi aku tidak mau menunggu sampai ada tugas. Terlalu rugi bagiku membiarkan malamku hanya terisi dengan dengkuran dan mimpi-mimpi yang berperan hanya sebagai hiasan. Jam 10 malam masih terlalu sore. Karena aku sudah terbiasa tidur larut.


Sebwntar lagi Ujian Nasional dengan nilai standar kelulusan tertentu. Semboyan kami, lulus atau mengulang. Sebagai siswa kelas 6, aku harus bersiap dari sekarang. Matematika, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris menjadi mata pelajaran yang diujikan pada Ujian Nasional nanti. Hanya tiga mata pelajaran namun tentu menguras pikiran kami. Mata pelajaran IPA yang kufavoritkan, tidak masuk dalam ujian. Huft.


Prangg.....!!!


Ada suara benda jatuh. Dari karakter suaranya, sepertinya barang pecah belah. Mungkin piring, gelas atau kaca. Apakah kucing? Tikus? Atau apa? Aku segera turun ke bawah memeriksa apa yang terjadi. Menurutku, hanya aku yang masih melek malam ini. Sampai di tengah tangga, aku mendengar suara Mama dan Papa yang terdengar tidak menyenangkan.


"Terus saja Mas, banting semuanya, kalau perlu bakar rumah ini biar kamu puas!!!" Suara Mama terdengar marah.


Kurasa mereka bertengkar lagi.


"Aku sudah terlalu sabar ngadepin kamu Ma. Aku sedang usaha ini, hargain sedikit!!" Bentak Papa.


Baik, kalau begini terus lebih baik kita....." Suara Mama


"Apa? Kamu minta pisah? Silahkan!!" Suara Mama.


Belum ada jawaban dari Mama, terdengar suara Monica menangis. Kasihan anak itu, tidurnya terganggu oleh suara keras orang tuanya.


"Sst...Non, sini Non" Ada suara bisikan dari bawah. Aku menoleh, yah itu Mbak Yanti. Ternyata diapun belum tidur. Aku segera turun dan bergabung dengannya.


"Non, kok belum tidur?" Tanya Mbak Yanti tentunya dengan berbisik.


"Lagi ngerjain tugas Mbak. Papa...Mama..."


"Iya Non, mereka berantem lagi. Makanya jangan ikut-ikutan, di sini saja" Kata Mbak Yanti.


Aku mengangguk mengikuti perintah Mbak Yanti. Akupun sama takutnya dengan Mbak Yanti. Beberapa kali aku mengetahui mereka bertengkar. Kami duduk di sebelah utara pintu dapur. Posisi kami tertutup oleh tangga yang menuju kamarku, hingga kami dapat mendengar suara mereka tanpa mereka tahu keberadaan kami.


"Sebenarnya apa yang terjadi Mbak?" Kuberanikan diri bertanya.


"Mbak juga nggak tahu, mungkin karena mobil Tuan dijual kali ya" Kata Mbak Yanti datar.


"Mobil Papa dijual?"


"Iya, makanya Nyonya jadi stress, sering marah-marah"


"Mbak Yanti pernah kena marah Mama?"


"Oh sering. Mbak sering diancam potong gaji, diancam dipecat juga pernah. Tapi Mbak nyantai, biasa lah orang lagi stress wajar lah kayak gitu"


Oh, jadi Mama tidak hanya marah-.arah padaku, tapi juga pada orang lain. Itu artinya, Mama tidak membenciku. Syukurlah. Jadi Papa membelikan ku sepeda sebagai ganti dari mobilnya yang dijual. Agar kami masih punya kendaraan. Pertanyaannya, kenapa mobil itu dijual. Mungkinkah Papa punya hutang? Jika ya, apa semua ini karena aku? Karena keluarga ini mengadopsi ku?


Brakk!! Terdengar suara benturan keras. Aku dan Mbak Yanti terkejut dibuatnya. Mbak Yanti berdiri untuk memeriksa keadaan.


"Tuan keluar Non, sebaiknya Non pergi tidur, saya mau beresin gelas pecah di depan kamar Nyonya" Kata Mbak Yanti.


"Keluar? Kemana Mbak?" Tanyaku penasaran sekaligus khawatir.


"Mana Mbak tahu, sana gih Non, tidur"


Sebentar kemudian terdengar suara motor melaju kencang menjauh dari rumah. Disaat yang bersamaan, suara tangisan Monica semakin keras. Aku naik ke lantai atas, tempat dimana kamarku berada, saat Mbak Yanti membersihkan serpihan-serpihan beling yang berserakan. Ingin rasanya aku membantu Mama menenangkan Monica seperti waktu itu. Tapi aku takut. Takut disalahkan, takut memperburuk keadaan, takut menjadi sasaran, takut dituding sebagai biang permasalahan. Jadi kuputuskan untuk tetap naik ke kamarku, pura-pura tidur.


Dua jam kemudian.


Aku masih bersembunyi di balik selimut saat suara motor terdengar menderu di sekitar rumahku. Aku mengintip dari tirai kamar. Papa pulang entah darimana. Ia membuka pintu rumah. Aku segera turun untuk kembali mengintip dari balik tangga. Papa duduk di ruang tengah. Gelagatnya tampak normal saja. Bukan seperti habis mabuk, atau seperti sedang marah. Syukurlah. Hanya saja ia tampak lelah. Kepalanya bersandar di kursi, dan kakinya selonjor di atas meja. Perlahan matanya terpejam.


Kuambilkan bantal dan selimut di lemari setelah memastikan Papa benar-benar tidur. Kuberanikan diri mendekatinya. Entahlah aku meyakini dia tidak akan berbuat kasar padaku. Kuselimuti tubuhnya dan kuangkat kepalanya untuk kuletakkan bantal di bawahnya. Saat itulah Papa membuka matanya. Deg, aku terkejut. Apakah dia akan marah seperti marahnya pada Mama?


"Eh...kebangun Pa pas Papa buka pintu" Jawabku sekenanya.


"Oh, maaf ya, suara Papa mungkin bangunin kamu"


Aku diam saja. Papa kembali memejamkan mata.


"Papa darimana malam-malam begini?" Entah keberanian ini datang darimana, tiba-tiba saja aku bertanya begitu.


Papa membuka mata lagi dan duduk menghadap ke arahku. Deg, apalah ia akan marah dengan pertanyaanku tadi?


"Rosa...kamu tidak terbangun kan? Tapi memang belum tidur?"


Akhirnya Papa tahu juga. Aku menunduk.


"Kamu dengar apa yang terjadi tadi?" Tanya Papa serius.


Aku mengangguk.


"Hanya hari ini saja atau..."


"Beberapa kali Pa" Jawabku ragu.


Papa manggut-manggut. Syukurlah dia tidak marah.


"Maafkan Papa, tidak mampu memberikan keluarga yang kamu angan-angan dulu di panti"


"Rosa tidak menyalahkan Papa, terima kasih sudah berusaha menyembunyikannya dari Ros, saya tahu maksud Papa" Kataku.


Papa mengelus rambutku pelan. Kurasa dia bangga dengan jawabanku.


"Mau kubuatkan kopi Pa?" Tanyaku mencairkan suasana.


"Hmmm teh saja Nak"


Kuturuti permintaannya. Secangkir teh panas kusuguhkan untuk Papa.


"Mamamu marah sekali, karena mobil Papa jual, memang kesalahan Papa tidak ngomong dulu sama Mama, tapi yaa kalau ngomong dulu pasti nggak dibolehkan" Kata Papa membuka pembicaraan tanpa kutanya.


"Kenapa dijual Pa?" Tanyaku mengimbangi.


"Hmm....perusahaan Papa sedang diujung tanduk, Papa punya banyak hutang. Sehingga aset Papa satu-satunya harus dijual untuk nutup hutang...tapi jangan khawatir, Papa sedang usaha untuk bangkit. Papa sedang melamar pekerjaan di Jakarta. Doakan ya" Kata Papa.


"Jakarta?"


"Iya Nak, kenapa? Oh... Ya ampun, Papa lupa, dulu Papa pernah janji, liburan ngajak kamu ke Monas ya. Yaa sabar dulu ya Nak"


"Ehm...sebenernya..bukan Monasnya sih Pa, tapi..."


"Kenapa..kenapa? Cerita sama Papa" Kata Papa yang jauh lebih cerah dari sebelumnya.


Ini pertama kalinya kuceritakan perihal Rania pada Papa. Karena aku percaya, laki-alki di depanku ini adalah sosok yang bertanggung jawab. Kurasa dia bisa mengerti keadaanku. Dia mengerti perasaanku. Rinduku pada Rania, rasa kehilangan, rasa sakit ketika mengingatnya. Begitu besarnya keinginanku bertemu Rania, itulah alasan tersembunyi mengapa aku bersedia diadopsi.


"Oh ....jadi begitu, yang penting kamu belajar yang rajin, lulus dengan nilai yabg baik, nanti Papa usahakan kota ke Jakarta, Papa akan minta alamatnya ke panti" Kata Papa dengan senyum yang menenangkan.


"Beneran Pa?"


Papa mengangguk. Aku kegirangan sampai kupeluk Papa angkatku dan kugoncangkan tubuhnya yang berotot. Sebenarnya aku belum sepenuhnya percaya bahwa Papa bisa mengantarkanku kepada Rania. Setengah hati aku percaya karena bisa jadi dia diterima kerja di Jakarta, setengah hati yang lain aku ragu karena kondisi ekonomi kami yang berantakan seperti ini. Bukankah ke ibukota harus menyiapkan dana yang tak sedikit?


***