
Nasi goreng sudah kulahap habis, berikutnya minum susu. Dan cepat-cepat kuhabiskan satu gelas penuh. Pagi ini harus cepat. Aku tidak akan naik sepeda untuk menghemat energi. Naik angkot sepertinya membantu.
"Ros" Panggil Mama saat aku hendak keluar rumah.
"Ya Ma" Jawabku dengan deg degan.
Mama melihat jam tangan lalu kembali menatapku seperti biasa.
"Mau kemana jam segini?"Tanya Mama sinis.
"Kan kemarin Rosa sudah bilang ke Mama, hari ini Rosa lomba di Kota, berangkat pagi banget, jadi cuciannya nanti pulangnya Rosa beresin" Kataku dengan terbata-bata.
"Mama gak bilang ngebolehin kan"
"Ya, Rosa pikir..."
"Gak ada cerita. Beresin cucian baru boleh berangkat"
"Ma...please...sekali ini saja"
"Sudah berapa kali Mama bilang, ikut lomba itu nggak ada untungnya. Kamu lomba menang kalah gak dapet apa-apa. Paling-paling cuma piagam sama piala. Yang dapat nama tuh sekolahan kamu, yang dapat penghargaan, dapat hadiah, dapat duit, bukan kamu. Ngerti!!"
Astaghfirulloh, begitu kerdilnya pemikiran Mama. Yang ada di pikirannya hanyalah materi, duit. Dia tidak pernah berpikir betapa berharganya sebuah pengalaman. Aku hanya diam terpaku mendengar penuturan Mama. Aku terbengong sampai tidak tahu lagi harus membalas dengan kalimat seperti apa.
"Oke...berikutnya Rosa tidak akan ikut lomba lagi. Tapi please kali ini saja, karena Rosa sudah ditunggu di sekolah" Pintaku dengan berat.
"No!!"
"Maa"
"No....bereskan cucian baru berangkat"
Ya Tuhan, terbuat dari apa hati orang di depanku ini. Kenapa sulit sekali ditembus. Dia tidak mampu melihat segala sesuatu dari sisi orang lain. Dia hanya mementingkan egonya sendiri. Tak punya belas kasih, tak punya toleransi, bahkan tak punya perasaan.
"Sebenarnya kenapa sih kita tidak mengambil pembantu rumah tangga saja. Aku masih SMP Ma, mana mungkin aku bisa mengerjakan semua urusan rumah tangga yang seharusnya jadi tanggung jawab Mama?" Kuberanikan diri berargumen.
"Oh kamu keberatan?? Silahkan...angkat kaki dari rumah ini. Gampang kan?"
Tidak kusangka jawaban Mama begitu menusuk hatiku.
"Jangan bilang Papa nggak mampu sewa pembantu Ma. Papa sudah naik pangkat. Gajinya cukup besar kalau hanya untuk menyewa pembantu rumah tangga" Aku masih mencoba berkilah.
"Eh, anak ingusan. Ingat kita belum punya rumah. Kita ini masih nyewa. Apalagi sebentar lagi kita pindah ke Jakarta. Jadi kita masih butuh duit yang banyak"
"Oke! Kalau memang kita tidak menyewa pembantu, maka kita harus bagi tugas. Rosa akan mengerjakan tugas sesuai porsi anak remaja seusia Rosa. Menyapu, cuci piring, angkat jemuran, dan jagain Monica. Selebihnya tugas Mama"
"Heh!!! Kamu anak kecil, ngajarin Mama????" Mama mulai murka.
Plakkk. Mama menamparku untuk kesekian kalinya. Pipi kiriku terasa panas, sepanas hatiku sekarang ini. Cepat-cepat kumasukkan baju-baju kotor ini ke dalam tas besar sembari kutahan air mataku agar tidak jatuh.
"Eh, mau kamu apain baju-baju itu?" Tanya Mama.
"Kamu pikir laundry gak bayar??"
"Rosa yang bayar" Jawabku datar.
"Gak boleh. Kamu harus irit. Kamu pikir uang dari mana yang mau kamu pakek. Gak..gak bisa. Cuci di rumah"
Aku pura-pura tidak mendengarkan dan tetap memasukkan baju-baju kotor ke dalam tas.
"Eh eh mau kemana? Gak boleh" Mama menghalangiku tepat di pintu keluar saat aku hendak nyelonong pergi.
Aku tidak menjawab apa-apa. Mama tetap saja mengomel tak menjurus. Ucapannya sudah kemana-mana. Terlihat jelas dia sedang mengada-ada. Saking jengkelnya aku, kuinjak kakinya hingga Mama kesakitan. Aku tak peduli. Sementara Mama memegangi kakinya, aku berlalu pergi.
Mama tak membiarkanku pergi begitu saja. Dia membawa sapu dan mengancamku.
"Sampai kamu buka gerbang aku pukul kamu hah!!"
Aku tetap tak peduli. Aku tetap melangkah menuju gerbang sambil membawa baju kotor dalam tas besar yang menghambat langkahku.
Tok!!
Aw, ada sesuatu yang dilempar ke kepalaku. Bakiak. Sampai hati Mama melempar bakiak ke arahku. Keningku berdarah. Ada darah segar yang mengalir dari kepalaku. Ah, tidak sakit. Aku tetap melangkah sampai akhirnya aku membuka pintu gerbang. Dan dari kejauhan Mama mengejarku dengan membawa sapu ijuk.
Aku berlari,. Mama sudah sampai gerbang hendak mengejarku. Tetapi langkahnya terhenti karena ada seseorang. Seorang siswa mengendarai sepeda motor berada di sekitar rumah kami. Kak Panji. Dia melihatku yang sedang dikejar Mama. Raut wajahnya memandangku nanar. Dia memperhatikan luka di kepalaku. Aku menghampiri Kak Panji yang kuyakini sedang menjemputku.
"Ayo Kak" Ajakku.
Kak Panji mengeluarkan tisu dari sakunya. Kuletakkan tisu itu dibagian kepalaku uang luka dan kutekan agar darahnya berhenti. Motor melaju meninggalkan rumahku.
"Kita ke laundry ya kak, naruh baju ini dulu" Kataku.
Kak Panji mengiyakan. Sepanjang perjalanan kami diam satu sama lain. Ada perasaan canggung meyelimuti kami hari ini. Sampai di laundry aku segera turun dan menyerahkan tas besar pada pemiliknya. Saat aku keluar, Kak Panji memberiku handsaplast untuk kurekatkan pada lukaku.
Motor melaju lagi, dan lagi-lagi kami terdiam sampai kami memasuki gerbang sekolah.
"Akhirnya datang juga" Kata Bu Ratih, pembina KIR.
"Maaf Bu , telat" Kataku.
"Ayo..ayo, masuk ke mobil keburu telat" Lanjut Bu Ratih.
Kami sembilan orang masuk ke mobil elp bersama dengan beberapa guru yang lain. Aku duduk tepat di belakang sopir, dan Kak Panji duduk di depan. Sesekali ia melirikku. Aku hanya menunduk. Aku sudah tidak bisa menyembunyikan apapun lagi sekarang. Kak Panji menyaksikan sendiri bagaimana Mama mengejarku. Dia juga yang membantuku mengobati luka. Untung saja darahnya tidak sampai mengenai baju. Jika itu terjadi, semua orang akan bertanya macam-macam.
Aku menenangkan diri dengan bacaan-bacaan semampuku. Ayat kursi, Sholawat, al insyiroh. Aku emohin ketenanga saat lomba berlangsung. Aku berharap selama lomba Kak Panji tidak membahas ini. Aku berharap dia melupakan kejadian ini. Atau dia tidaj ngeh denga apa yang terjadi tadi pagi. Aku senang jika ada yang peduli denganku. Tapi aku tidak ingin menyeret orang lain dalam masalahku. Sebab aku sendiri harus berhati-hati dalam bertindak. Bagaimana mungkin orang lain mampu seperti itu. Bisa saja mereka berusaha menolongku tetapi justru menimbulkan masalah baru di hidupku.
Kami sampai di tujuan. Balai kota Semarang. Semua orang turun dari mobil. Begitupun aku. Saat aku turun dari mobil, Kak Panji membantuku. Dia melihat lukaku yang sudah dibalut oleh plaster yang ia berikan tadi. Dia seperti ingin mengucapkan sesuatu tapi ditahan sedalam-dalamnya. Aku juga tidak ingin memberi kesempatan terlalu lebar untuknya mengatakan sesuatu. Aku menunduk dan berlalu. Aku segera menghampiri siswi lain dan bergabung dengan mereka.
Sesakali kami beradu pandang dan sesekali kami menunduk. Sungguh pikiranku berkecamuk. Aku tidak ingin ia melibatkan diri dalam urusanku. Tapi di sisi lain aku membutuhkan seseorang yang bisa membantuku. Aku menunduk. Aku terpaku dalam diam. Mencoba menguasai diriku sendiri.
***