My Name Is Rose

My Name Is Rose
Mbak Susi



Kantor cukup sepi, beberapa ijin dan yang lain ada survey lapangan bersama senior. Mungkin mereka belajar caranya survey nasabah. Masih ada dua atau tiga saja di kantor ini yang menyelesaikan data, termasuk aku.


Seorang perempuan memakai masker masuk ke dalam kantor. Dia berbincang dengan salah satu karyawan, sebentar kemudian karyawan itu mengarahkannya padaku.


"Selamat sore, ada yang bisa saya bantu?" Sapaku seperti biasa.


Ketika melihatku perempuan itu terbelalak. Sesaat kemudian ia melirik kanan dan kiri dengan dahi berkerut seakan menyimpan rasa takut. Akupun bingung dengan sikapnya. Perempuan itu kemudian berlari keluar sekonyong-konyong, membuat aku dan karyawan yang ada di kantor pun terkejut. Apa maksudnya, dia datang sesaat kemudian dia lari seperti pencuri yang melihat polisi.


"Kenapa sih Ros? Ada apa?" Tanya karyawan lain.


"Aku juga gak tahu tiba-tiba saja dia lari" Jawabku.


Aneh. Kenapa dia lari seperti itu. Ataukah dia sebenarnya punya penyakit sindrom apa gitu yang membuatnya lari tak menentu. Ah, aku tak ingin memikirkan itu terlalu dalam. Mungkin orang banyak pikiran saja.


Pada hari yang sama, dia kembali lagi menjelang maghrib. Tepat saat aku akan keluar kantor untuk melaksanakan kewajiban sebagai umat muslim. Kali ini aku sendiri yang menemuinya. Dia menatapku. Aku tidak bisa mengenalinya karena memakai masker.


"Selamat sore Bu, ada yang bisa saya bantu?" Ditengah rasa takutku aku masih tersenyum menyapanya.


Dia menunduk sebentar, lalu menunjukkan sebuah BPKB motor.


"Baik silahkan duduk dulu Ibu" Kataku.


Aku kembali ke meja untuk melayani perempuan itu. Dia masih menunduk seakan menutupi dirinya.


"Bisa pinjam KTP nya Bu?" Tanyaku.


"Saya kan sudah kasih BPKB?" Tanya perempuan itu.


"Iya tetapi data nasabah yang valid adalah KTP Bu" Jawabku.


Suara perempuan itu tidak asing di telingaku. Tapi aku tidak ingat itu suara siapa. Aku tidak ingin membuat nasabahku itu merasa tidak nyaman, sehingga aku berpura-pura tidak curiga dan tetap melanjutkan pekerjaanku.


"Ini" Perempuan itu menyerahkan KTP nya padaku.


Dewi Susianti, itu yang tertera. Aku mendongak dan kulihat perempuan itu melepas maskernya. Susi. Dia adalah kasir di Pandan resto, pantas saja suaranya tidak asing.


"Susi!" Aku terkejut


"Ros, aku minta maaf, aku nggak tahu apa-apa, tolong jangan jadiin itu alasan. Aku butuh banget duit buay berobat anakku Ros"


Kenapa dia berkata begitu? Apa yang dia maksud?


"Kenapa Mbak Susi sampai menjaminkan motor, apa tidak bisa pinjam resto?" Tanyaku.


Mbak Susi menggeleng dengan menunduk. Sepertinya dia hampir saja menangis. Mungkin masalah hidupnya sangat berat sehingga dia harus menjaminkan BPKB sepeda motor.


"Maaf Mbak...ada beberapa persyaratan yang belum terpenuhi" Kataku setelah memeriksa.


Mendengar itu Mbak Susi memegang tanganku.


"Ros, tolong. Aku benar-benar butuh duit itu, anakku harus dioperasi. Tolong bantu aku. Aku cuma punya motor itu. Aku mohon bantu aku, aku tahu aku sudah berbuat salah sama kamu. Tapi aku gak punya pilihan, aku disuruh Ros!!"


Aku berpikir sejenak. Tentang apa ini?


"Baik, saya akan bantu Mbak, tapi katakan duku yang sejujurnya" Aku memancing padahal aku tidak paha maksudnya. Aku berpura-pura agar Mbak Susi mau mengatakan semuanya dengan gamblang.


"Jadi...ada seorang cewek yang gak sengaja denger waktu aku nerima telepon. Dia tahu kalo aku lagi butuh duit buat berobat anakku. Lalu dia kasih aku kerjaan. Dia kasih aku duit banyak asal mau masukkan uang itu ke loker kamu" Katanya dengan menangis.


Oh aku paham sekarang. Ini tentang pencurian di Pandan Resto waktu itu. Pencurian yang akhirnya mengeluarkan aku dengan tidak terhormat. Jadi Mbak Susi tahu siapa pelakunya tetapi mulutnya dibungkam karena duit. Atau justru Mbak Susi lah pelakunya.


"Jadi Mbak Susi yang menaruh uang itu di loker saya?" Tanyaku mulai tegas.


"Aku gak punya pilihan Ros, aku butuh duit, dan cewek itu ngasih duit lumayan banyak ke aku"


"Sepertinya iya"


"Rambutnya lurus dan sedikit berwarna cokelat?"


"Iya"


"Kulitnya putih dan mulus, badannya tinggi langsing?"


"Iya Ros"


Oke, aku tahu, Clara. Benar dugaanku, dia pelakunya dengan memperalat Mbak Susi. Perempuan di depanku ini sedang dalam kesulitan. Masalah yang berjubel di otaknya membuatnya tak bisa membedakan mana yang boleh dan tidak boleh dilalukan. Yang dipikirannya adalah keselamatan anaknya. Aku paham situasinya.


"Maaf Mbak Susi....tapi untuk proses pinjaman Mbak harus membuat surat...." Kataku.


"Aku mohon Ros...aku kepepet. Aku sudah buntu gak ada jalan lain" Mbak Susi menangis.


"Oke, saya akan bantu...tapi dengan satu syarat" Kataku akhirnya.


"Apa Ros? Apapun yang kamu perintahkan pasti akan kuturuti asal aku bisa dapatin uang itu untuk operasi anak saya" Kata Mbak Susi mengiba.


Aku mengeluarkan kamera video genggam milik kantor. Dan kusodorkan padanya.


"Buat pengakuan, dengan kamera ini. Sekarang. Saya tunggu" Kataku tegas.


"Maksud kamu?"


"Saya tidak akan menuntut Mbak Susi ataupun cewek yang nyuruh Mbak melakukan itu. Saya hanya ingin mengembalikan nama baik saya"


Awalnya Mbak Susi ragu-ragu, namun kemudian dia menerimanya. Dengan langkah penuh takut ia kemudian masuk dalam sebuah ruangan. Kusiapkan kamera berikut tripodnya. Dan kubiarkan dia mengungkapkan pengakuannya sendiri. Sementara itu aku melaksanakan sholat maghrib.


Mbak Susi keluar ruangan tepat setelah aku selesai sholat maghrib. Bahkan mukenaku masih menempel di badan.


"Sudah Mbak?" Tanyaku.


Mbak Susi mengangguk.


"Mau .... Sholat juga?" Aku bertanya ragu karena tidak semua orang melaksanakan kewajibannya. Aku juga tidak mau dianggap sok alim karena menawari sholat.


"Iya" Jawab Mbak Susi.


Aku tidak ingin memeriksa rekaman itu langsung. Setidaknya tidak di hadapan Mbak Susi. Aku menunggunya di meja pendataan. Tak berapa lama Mbak Susi datang setelah menunaikan kewajibannya.


"Bagaimana Mbak? Ada yang ingin disampaikan?" Tanyaku.


Mbak Susi menunduk sebentar, kemudian dia mendongakkan kepalanya.


"Rasanya lega Ros, setelah aku bikin video" Katanya.


"Terima kasih"


"Selama ini...aku dikejar rasa bersalah. Aku tahu kondisimu kayak gimana. Tanpa orang tua, tinggal sendirian, kerja banting tulang dan harus kehilangan pekerjaan. Tapi anakku butuh biaya besar untuk berobat. Aku bingung saat itu Ros" Mbak Susi kembali menangis.


"Saya akan proses pengajuan pinjaman Mbak Susi. Tapi saya sarankan, Mbak Susi juga mengurus asuransi kesehatan. Saya akan carikan info tentang itu. Supaya biayanya lebih ringan" Kataku.


Mbak Susi menunduk dan kembali menangis untuk kesekian kalinya. Dia benar-benar berada dalam situasi yang sulit, baik sekarang maupun waktu itu. Aku memang tidak berwenang untuk menyetujui pinjaman, tapi setidaknya aku bisa mengusahakannya melalui Afrizal.


Mbak Susi menghela nafas lega setelah aku menginput datanya. Kujanjikan padanya, esok pagi uang itu bisa ia ambil untuk keperluan pengobatan anaknya.


***