My Name Is Rose

My Name Is Rose
Hujan



Ujian Nasional semakin dekat. Praktis waktu kami terkuras habis untuk belajar. Setiap hari kami pulang lebih sore dari kelas lainnya. Disaat masyarakat baru bangun dari tidur siangnya, kami baru pulang dari sekolah.


Aku melajukan sepedaku menuruni turunan tajam yang pernah membuatku terjatuh. Udara hari ini lebih dingin dari biasanya. Langit juga tidak secerah hari kemarin. Tampaknya akan turun hujan sore ini. Aku mengayuh sepeda lebih kencang agar cepat sampai di rumah. Kuharap hujan turun saat aku sudah masuk ke rumah.


Sekuat apapun aku mengayuh, hujan turun lebih cepat dari kayuhanku. Hujan turun mengguyur bumi, membuat tubuhku basah kuyup seketika. Satu yang kutakutkan. Bukuku. Jika bukuku basah akan butuh waktu lama untuk mengeringkannya, tentunya tidak akan mampu mengembalikan ke kondisi semula dengan sempurna.


Aku berhenti di sebuah pos keamanan tepat di jalan tikungan. Rumahku masih jauh, kukayuh dengan tenaga ekstra pun tidak akan cukup waktu. Jadi kuputuskan berteduh di sebuah pos bambu. Kuperiksa tasku yang juga basah. Huft, untunglah bukuku masih kering karena tasku berlapis plastik.


Cukup lama aku berteduh. Hampir satu jam lamanya. Hujan kali ini tidak terlalu lebat, hanya saja durasi waktunya yang cukup lama. Dan ditengah hujan ada sedikit badai berhembus namun masih dalam batas wajar. Hujan turun cukup lama sampai bajuku yang basah kini setengah kering.


Hujan sudah berhenti, tapi tubuhku masih menggigil. Ujung jariku mengkerut. Katanya itu tanda tangan mati. Aku benar-benar mengira tanganku mati sampai aku mendapat pelajaran tentang ini di sekolah. Aku mengayuh sepeda pelan-pelan. Tak ada yang harus kukejar. Hujan sudah reda, tak perlu cepat-cepat sampai rumah. Bukan hanya itu, badanku cukup dingin karena kehujanan. Jika kukayuh dengan kencang, angin akan menerpa tubuhku lebih kencang pula.


Sampai di rumah.


"Mbak Yanti, tolong tasku dijemur ya, " Pintaku pada Mbak Yanti.


"Ya Allah gusti, kehujanan Non? Kok nggak ngiyub?" Kata Mbak Yanti keheranan karena di sekitar rumah sama sekali tidak hujan.


"Telat Mbak, hujannya turun baru ngiyub" Jawabku sambil menahan dingin.


Mbak Yanti menyiapkan air hangat untukku mandi. Benar-benar dingin. Sampai bibirku berwarna biru, ujung jari kisut, dan dari mulutku keluar uap saat bicara. Aki segera mandi dengan air hangat yang disiapkan oleh Mbak Yanti. Selesai mandi aku menuju kamarku untuk istirahat. Rasanya badanku ngilu semua. Hawa dingin masih merasuk di tulang-tulangku. Telapak kakiku dingin sehingga harus kukenakan kaos kaki agar sedikit hangat.


Aku hampir saja tertidur saat kudengar suara seseorang yang familiar.


"Ros, ah masak gitu aja sakit. Ah cemen" Suara seseorang di sampingku.


"Ih kamu ngatain aku mulu. Kemana aja kamu?" Protesku.


"Aku gak kemana-mana, kamu aja yang gak nyamperin aku" Kata seseorang itu.


"Gimana di sana? Seneng?"


"Ah gak enak gak ada kamu, kamu nyusul kesini dong"


"Ogah, kamu dong jemput aku"


"Gak ah kamu kan lebih milih Rania daripada aku"


"Nggak kok, aku juga milih kamu. Kalian berdua itu berharga banget buat aku"


"Ah masak"


"Iya"


"Kalo gitu, jawab dulu. Kami kangen gak sama aku"


"Enggak, biasa aja"


"Tuh kan kamu lebih milih Rania dari aku"


"Nggak Alan, kalian berdua penting"


"Ah aku nggak percaya"


"Jangan gitu dong Alan"


"Ya udah aku nggak mau lagi temenan sama kamu"


"Alan...jangan gitu dong...Alan....Alantaaa"


Alanta keluar kamarku tidak lewat pintu melainkan lewat jendela. Membuatku khawatir karena kupikir ia akan bunuh diri.


"Alan....Alanta.....jangan Alanta...Alantaaaa!!!"


Lalu terdengar suara lain di sampingku.


"Sayang....bangun sayang....Ros...sayang" Itu suara Papa.


Aku membuka mataku dan benar saja, kulihat Papa di depanku. Ia membangunkanku dengan cara yabg tak biasa. Ia menggoyangkan tubuhku dan menepuk pipiku beberapa kali.


"Kenapa Pa?" Tanyaku heran sambil melihat sekeliling mencari keberadaan Alanta yang baru saja datang padaku.


"Syukurlah Nak, kamu ngigau" Kata Papa.


Ngigau? Jadi dari tadi aku tidur? Semua itu hanya mimpi? Bertemu Alanta hanyalah mimpi? Ah aku lupa. Alanta sudah di Bandung. Dia tidak ada di kota ini lagi. Tapi kenapa aku memimpikan Alanta. Kenapa bukan Rania. Padahal aku begitu merindukannya.


"Coba buka mulitnya Nak" Seseorang berjaz putih berkata padaku.


Aku masih melihatnya tanpa memenuhi perintahnya.


"Ini dokter Fandi Nak, ayo nurut apa kata dokter" Kata Papa.


Aku menurut. Sebuah senter kecil diarahkan ke mulutku, lalu ke bola mataku. Sebentar kemudian dokter memeriksa tekanan darahku dan suhu badan dengan alat kecil yang diselipkan di ketiakku.


"Saya rasa hanya demam saja. Mungkin Rosa baru kehujanan atau minum minuman dingin?"


"I...iya dok, Non Rosa memang tadi siang kehujanan" Sela Mbak Yanti.


"Nah itu penyebabnya, jika dalam tiga hari panasnya tidak turun, segera di cek laboratorium, sebab ini sedang musim DB, kita harus cepat dalam bertindak" Kata dokter.


Badanku demam. Itulah kenyataannya. Pantas saja sejak pulang sekolah tubuhku menggigil dan kepala sedikit pusing.


"Tadi aku ngigau apa Mbak?" Tanyaku pada Mbak Yanti sesaat setelah dokter dan Papa keluar dari kamarku.


"Alan....Alan...Alantaa gitu Non, pacaranya ya hayoo" Ledek Mbak Yanti.


"Apaan sih, ada-ada saja masih kecil jiga" Kilahku.


Mimpi itu begitu nyata, Alanta datang di sampingku, dia meledekku seperti biasanya. Dia begitu nyata. Oh Alanta, aku rindu dia. Tapi Rania, kenapa tidak muncul di mimpiku. Dia yang lebih kurindukan dari Alanta, justru tidak datang. Oh.


***


Malam kedua.


Badanku sudah tidak demam, kepalaku juga sudah enteng. Hanya saja masih terasa lemas. Mbak Yanti membawakanku di makan malam. Soto daging dan teh hangat tersedia di meja kamar. Mbak Yanti duduk di sampingku, memeriksa suhu tubuhku dengan punggung tangannya.


"Syukurlah Non, sudah gak panas" Kata Mbak Yanti


Aku tersenyum.


"Makan dulu Non" Kata Mbak Yanti lagi.


Baru saja Mbak Yanti menyendokkan nasi, tiba-tiba pintu terbuka. Mama muncul di sana.


"Yanti, kamu jagain Monica, dia sedang main di bawah, Rosa biar saya yang urus" Kata Mama.


Tumben. Kenapa Mama tiba-tiba menghendaki mengurusku. Bukankah dia tidak peduli denganku. Aku takut. Jangan-jangan Mama akan memarahiku karena merepotkan keluarga sebab sakitku. Aku toh tidak ingin dipanggilkan dokter. Biasanya minum obat dari toko saja sembuh.


"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Mama sambil duduk di tepi kasur.


"Su...sudah lumayan Ma" Jawabku ragu-ragu.


Mama manggut-manggut.


"Ada yang harus Mama katakan Ros..." Kata Mama kemudian.


Aku menunduk mendengarkan sekaligus penasaran apa yang akan dia katakan sekarang.


"Mama...minta maaf, akhir-akhir ini hubungan kita kurang baik"


Apa? Akhir-akhir ini? Bukankah hampir tiga tahun Mama sudah tidak mempedulikanku?


"Mama tidak membencimu, juga tidak membenci anak panti pada umumnya seperti anggapan Ibuku"


Aku masih menunduk mendengarkan.


"Mama juga tidak percaya bahwa anak panti akan membawa petaka dalam keluarga"


Mama menyuapiku.


"Dulu, sebelum memutuskan mengadopsimu, aku dan Papamu ada kesepakatan, bahwa kami akan mengadopsimu hanya sementara waktu. Setelah aku hamil, kami akan mengembalikanmu ke panti"


Benar dugaanku, aku hanya alat untuk memancing keberuntungan.


"Namun Papamu berubah pikiran, dia ingin mengadopsimu selamanya, karena mungkin dia sudah terlanjur menyayangimu seperti anak kandungnya sendiri, tapi ... Bagaimana jika orangtuaku tahu tentang kamu, pasti akan sangat marah"


Mama menyuapiku lagi.


"Sekarang, kamu tahu kan, mobil Papa sudah dijual, Papa sudah tidak kerja seperti dulu"


Tidak kerja? Bukannya Papa bilang sedang merintis usaha?


"Jadi intinya, ekonomi kami sedang down. Kami sedang dalam keadaan terpuruk secara finansial. Karena itu...."


Mama melihatku sebelum melanjutkan ucapannya.


"Kami mungkin tidak sanggup lagi membiayai kamu. Kalau Monica, sudah ada jatah dari eyangnya, Ibuku memberi sebidang tanah untuk masa depannya. Tanpa itu kami mungkin juga tidak sanggup merawat Monica"


Oh jadi itu yang diberikan Nenek dengan bisik-bisik waktu itu.


"Jadi maafkan Mama jika harus mengatakan ini. Setelah lulus SD, kami akan mengembalikanmu ke panti"


Seperti petir di siang bolong. Mereka akan mengembalikanku seperti barang yabg baru saja dipinjam. Aku tidak terlalu bangga menjadi bagian dari keluarga ini, tapi aku punya harapan dari sini. Aku akan mencari Rania dengan bantuan Papa asuhku. Baru saja Papa memberiku harapan besar. Sekarang aku seperti sedang dijatuhkan dari langit. Aku menunduk. Pasrah.


***