
"Tolong ya Din...cabut laporan itu" Kataku pada Dinda
"Lo yakin? Tapi apakah Alanta membiarkan begitu saja? Dia pasti bakal marahin gue kalau gue turutin lo" Jawab Dinda.
"Yakin. Gue punya cara sendiri, lo cabut laporannya, biar gue yang ngomong sama Alanta"
Dinda akhirnya mengerti meskipun harus dengan panjang lebar kujelaskan. Satu-satunya alasanku untuk tidak melapor adalah, karena Rania. Aku berharap ini kali terakhir mereka berbuat seperti itu. Aku lemah, seperti yang orang pikirkan. Aku bahkan tidak sanggup membalas kepedihanku selama ini hanya karena janji di masa lalu yang bahkan sudah dianggap tidak ada. Janjiku, akan selalu melindunginya.
***
"Silahkan" Kata seorang karyawati.
Aku masuk ke dalam ruangan ber ac itu. Di dalam ruangan ini ada beberapa karyawan lagi namun hanya ada sekitar lima kursi. Salah satunya adalah untukku.
"Barang-barang Pak Har juga masih tersimpan di lemari ini. Anda bisa menggunakannya untuk mempelajari tugas anda" Kata karyawati itu.
Ya, aku memang meminta posisi Papa sebagai ganti rugi. Itu alternatif yang kutawarkan selain mengakui perbuatan di kantor polisi. Aku hanya lulusan SMA, tentu awalnya dipertanyakan kemampuanku. Pak Hamdani pun awalnya menolak. Tentu saja. Sebab posisi Papa sebelum dipecat cukup tinggi dengan gaji yang tinggi pula. Dan hari ini akan dipegang oleh seorang gadis lulusan SMA. Tapi mereka tak punya pilihan. Nama baik keluarganya dipertaruhkan dalam hal ini.
Salah satu tugas ku adalah membuat program pemasaran dengan berbagai event. Yah, Papa memang pernah bercerita tentang pekerjaannya. Jadi sedikit banyak aku punya gambaran tentang pekerjaan ini. Usiaku yang masih muda mungkin akan sangat membantu dalam pemasaran melalui teknologi. Tentu aku harus banyak belajar dari karyawan senior.
Aku bermaksud merayakan ini dengan Dinda. Akhirnya orang yang membuatku kehilangan pekerjaan kini memberikanku pekerjaan baru dengan posisi yang bagus. Dinda pasti tertawa puas mendengar ini. Terkadang aneh juga. Dinda yabg dulu pendiam, sulit beradaptasi apalagi mecari teman baru, kini menjadi lebih berani dari sebelumnya. Dia bahkan membongkar sesuatu yang belum tentu bisa kulakukan. Dia pasti puas banget mendengar berita yang akan kubawa.
Tepat hari Minggu aku ke rumah Dinda. Tak seperti biasa, jalan menuju rumah Dinda ramai orang berkerumun. Apakah karena hari Minggu sehingga ramai begini? Aku terus berjalan sambil melihat sekeliling untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku terkejut melihat pemadam kebakaran ada di sekitar ini.
Aku mencoba menelepon Dinda tetapi tidak aktif. Aku akan bertanya rumah siapa yang kebakaran, apakah sampai ke rumah Dinda atau tidak. Aku terus berjalan melewati orang-orang yang lalu lalang bahkan haya menonton. Aku melihat lurus ke depan. Makin pekat asapnya makin gelap suasananya. Oh Gusti!!! Itu rumah Dinda. Pantas saja dia tidak bisa kuhubungi.
Aku berlari menerobos orang-orang yang berupaya memadamkan api.
"Permisi...permisi" Kataku membelah lautan manusia. Tentu saja orang-orang merasa kesal karena aku menerobos jalan begitu saja. Tapi aku tak peduli. Aku sedang mencari Dinda dan Mama nya. Aku memastikan mereka baik-baik saja.
"Din....!!! Dinda!!!!" Aku berteriak mencari keberadaan Dinda. Orang-orang memperhatikanku yang sedang panik mencari Dinda. Mungkin ada beberapa yang berbisik-bisik mengatakan aku orang aneh. Samar-samar kudengar itu.
Syukurlah api cepat padam berkat bantuan warga sekitar. Jika hanya pemadam kebakaran saja tentu tidak akan pada secepat ini.
"Pak...gimana Pak? Tidak ada korban jiwa kan Pak? Penghuninya gimana? Sudah dievakuasi kan?" Tanyaku panik.
"Waduh saya kurang paham mbak, tanya bapak baju hijau itu saja Mbak, dia ketua RT" Jawabnya.
Aku segera menuju bapak-bapak berbaju hijau itu.
"Itu rumah kosong Mbak, penghuninya sudah pindah, jadi tidak ada korban jiwa" Jawab beliau.
Pindah? Kosong? Kemana? Kenapa dia tidak memberitahuku? Aku kembali mencoba menelepon Dinda tetapi tetap tak ada hasil. Setidaknya dia sudah aman meski rumahnya terbakar.
"Kebakaran???" Alanta terkejut ketika aku memberitahukan kebakaran di rumah Dinda.
"Coba cek sosmed nya, coba inbox, DM atau email" Usul Alanta.
"Sudah, tapi kayaknya setelah beberapa hari yang lalu udah gak on deh. Gak posting apa-apa soalnya. Tapi coba ntar aku DM dia"
Seperti yang disarankan Alanta, aku mencoba menghubungi melalui sosial media milik Dinda. Tapi tetap belum ada pergerakan sama sekali. DM, inbox, email tak satupun dibaca. Entah apakah masih aktif atau tidak. Ada apa lagi dengan Dinda.
Aku mengingat-ingat peristiwa beberapa hari ini. Apakah Dinda ada masalah, hendak memberitahuku tapi aku yang nggak ngeh, atau bagaimana. Atau karena kebakaran di sekolah waktu itu, sehingga dia terancam oleh seseorang karena telah membantuku? Atau memang dia kuliah di luar negeri? Ah kenapa tak ada jejak sama sekali?
Suatu pagi di kantor.
"Mbak Rosa, dipanggil Bu Bos" Kata seorang karyawati.
"Oh oke" Kataku.
Bagaimanapun dia adalah atasanku, oh tidak, istri dari atasanku. Sejatinya dia tidak bekerja. Dia pemegang saham, namun hanya sesekali dia dayang ke kantor untuk mengecek ini dan itu.
"Bagaimana? Kamu nyaman? Duduk di kursi Pak Hartono?" Tanya Nyonya Hamdani yang berdiri menghadap jendela di ruangannya. Ruangan dimana dia memanggilku waktu itu.
"Ya, saya rasa itu setimpal...seandainya Papa masih hidup, saya janji akan mengembalikan dia ke kursi itu. Anggap saja aku sedang meminjam dari Papa" Kataku.
"Percayalah, kamu hanya sementara di kursi itu. Jadi sebelum semua berakhir, manfaatkan baik-baik" Katanya.
"Ya, mungkin hanya sementara, sepuluh tahun cukup lah" Jawabku.
Mendengar jawabanku, Nyonya Hamdani menoleh dengan terkejut.
"Sepuluh tahun? Kamu sudah gila? Kamu hanya lulusan SMA, menempatkanmu di posisi itu saja sudah mempertaruhkan nama saya dan suami saya, keluarga besar Hamdani menolak posisi itu untuk kamu!!"
"Hm...itu hanya karena mereka belum tahu saja. Setelah tahu saya yakin mereka menahan saya di perusahaan ini"
"Hm....sombong!"
Aku tersenyum sinis. Memang kedengarannya sombong. Biarlah aku memberi nama yang berbeda. Percaya diri. Kurasa itu cukup untuk menggertak perempuan di hadapanku ini.
"Silahkan di periksa. Ini program yang saya buat bersama satu tim dalam ruangan itu. Silahkan di cek" Kataku sambil menyodorkan proposal program sebuah event pengenalan kain batik untuk anak muda. Aku telah merancangnya bersama orang-orang di ruangan itu. Mereka sudah senior. Aku banyak belajar dari mereka.
"Batik for adults??" Nyonya Hamdani membaca judul proposal itu.
"Saya akan mempresentasikannya di meeting besok pagi. Jadi sebelum itu sebaiknya anda memeriksa dan mencari setiap detail kesalahan dan kekurangan proposal itu. Supaya bisa menjatuhkan saya" Aku berlagak sambil keluar dari ruangan Nyonya Hamdani.
***