
"Halo...ya..." Suara Alanta masih malas, terdengar seperti bangun tidur.
"Bangun tidur ya?" Tanyaku peka.
"Iya nih, siang nggak tidur, banyak tugas, jadi masih sore sudah tidur"
"Sorry ya"
"Enggak emang waktunya bangun. Gimana sayang?"
"Aku boleh minta tolong lagi gak?"
Ragu-ragu sebenarnya aku bertanya begini, tetapi masih ia uang bisa menuntaskan masalahku yang ini. Terbersit dalam benakku, apakah aku mengganggu studinya jika aku minta bantuan? Ah semoga tidak.
"Mungkin kamu punya channel, aku butuh kerjaan baru"
"Loh kenapa? Memang di kerjaan lama kenapa?"
Wajar jika Alanta bertanya demikian.
"Aku bosan. Pengen ganti yang baru" Kataku ngawur.
"Hah? Tumben kamu bosan"
Sebenarnya bukan itu. Aku berbohong. Aku tidak ingin membuat Alanta kepikiran.
"Iya. Pengen suasana baru" Jawabku masih berbohong.
"Benar??"
Apa aku akan terus membohongi Alanta? Ah aku sudah berjanji untuk tidak menyembunyikan apapun lagi darinya.
"Aku dipecat lagi" kataku dengan mata terpejam. Setitik air keluar dari kelopak mataku. Sedih rasanya mengingat peristiwa itu. Tuduhan yang begitu memalukan.
"Kok bisa? Kamu sudah lama kan kerja di sana? Masak resto nya bangkrut?"
"Enggak, jadi aku dituduh nyolong duit"
"Apa? Wah gak bener ini. Kamu gak nyangkal?"
"Udah dong. Tapi kayaknya memang ada yang ngejebak aku gitu. Ah udahlah Alan percuma kita ngomongin itu, yang jelas sekarang aku butuh kerjaan baru"
Alanta diam beberapa saat.
"Ok aku coba ya"
"Eh sayang, tapi kamu jangan pulang. Kami cukup kasih aku info saja ntar biar aku yang ngelamar sendiri"
"Hm..."
Pada akhirnya aku meminta bantuan Alanta yang berada di negeri jiran. Pertama karena pikiranku sudah buntu. Aku sudah mencoba mencari lowongan tapi belum juga ketemu. Kerja part time selama liburan, yang ditawarkan oleh teman-temanku pun sudah penuh. Aku terlambat beberapa menit saja sebelum tutup. Alasan kedua, memang saatnya aku harus jujur dengan Alanta. Saat menjalin hubungan jarak jauh, hal terpenting yang harus dijaga adalah kejujuran, hal berikutnya adalah kepercayaan.
***
Hari pertama masuk semester genap. Hampir semua sekolah masih belum berjalan efektif di hari pertama masuk, termasuk Bintang Harapan. Apalagi tanpa kehadiran idola keren seperti Alanta, semua tampak malas-malasan. Tapi tak ada yang membosankan di Bintang Harapan. Ada saja ulah mereka yang membuat ruangan kelas menjadi riuh.
Samar-samar kulihat Eni membawa tasnya bersiap untuk pulang.
"Eni!! Mau kemana?" Tanyaku spontan.
Aku menoleh kanan dan kiri berharap ada yang memberiku jawaban atas rasa penasaranku.
"Kamu mau pulang juga kayak Eni? Pulang aja sono" Kata Bella.
"Emang boleh?"
"Gerbang kagak dijaga, lagian juga kagak ada yang nyegah. Toh belum beneran aktif" Lanjutnya.
Aku tidak mau menyia-nyiakan waktu. Aku segera mengambil tasku dan keluar dari kelas. Benar saja, tidak ada yang menjaga dan guru yang lalu lalang juga tidak mencegahku yang keluar gerbang. Benar-benar bebas sekolah ini.
Aku akan mencari lowongan. Uang pesangon yang kudapatkan dari resto tidak boleh berkurang banyak. Masa depanku masih panjang. Aku harus cari kerja. Ada sebuah alamat yang akan kutuju. Sebuah kantor yang memerlukan tenaga kebersihan. Tak apa berkotor-kotor yang penting dapat kerja.
Menuju kantor itu aku melewati First. Aku berhenti di sana. Entah kenapa aku merindukan sekolah ini. Jelek-jelek begini aku pernah menjadi bagian dari sekolah ini. Setelah membayar upah ojek yang kutumpangi, aku duduk di samping gerbang. Aku menunggu mereka pulang. Alih-alih ingin bertemu Dinda, aku justru ingin menemui Clara.
Cukup lama aku menunggu, akhirnya lonceng berbunyi tanda waktu sudah habis. Aku masih ingat betul suara lonceng itu. Terdengar halus namun tegas. Para siswa berhamburan keluar. Ada yang sudah dijemput, ada pula yang sedang menunggu angkot. Aku berdiri dan memanjangkan leher demi meneliti siapa yang keluar gerbang.
Tepat sasaran. Clara keluar dari gerbang bersama Hana. Tetapi Jessie dan Stella tidak ada. Aku mendekat menghampirinya. Seragamku yang berbeda membuat perhatian banyak siswa tertuju padaku. Tentu saja Clara terkejut dengan kehadiranku yang tiba-tiba.
"Hai...lama gak ketemu ya" Kataku basa basi dnegan senyum yang dipaksakan.
"Rosa, kok bisa di sini?" Tanya Clara.
"Lagi kangen aja sama sekolahku yang dulu. Sekolah yang udah kasih aku beasiswa atas prestasiku yang real, bukan prestasi abal-abal yang diperoleh dari nyogok" Kataku sesantai mungkin.
"Oh iya, sekolah yang mengeluarkan kamu karena kamu gak pantas berada di sini" Tukas Hana.
Aku sudah menyangka pasti Hana yang akan komentar lebih dulu, karena sejatinya ara begitu lemah. Kebenciannya lah yang kuat.
"Oh hohoho... Memang benar aku tidak pantas di tempat ini, karena sekarang tepat ini dipenuhi oleh tikus-tikus yang licik. Yang selalu menggunakan cara murahan untuk mematikan lawannya. Termasuk membuat lawannya kehilangan pekerjaan. Cih, lihat saja suatu saat akan terbukti, aku tidak akan diam begitu saja" Kataku sinis.
Kali ini mereka diam tidak bisa membalas dengan sepatah katapun.
"Kamu pikir dengan menutup satu pintu rejekiku, akan membuat aku lemah dan tunduk begitu saja? No!! Justru aku semakin kuat dan semakin tegak berdiri"
Clara mengepalkan tangannya kuat-kuat tanda sebuah dendam yang membumbung tinggi. Dadaku bergemuruh ketika menyadari itu. Saudaraku yang berubah menjadi musuh.
"Oh Hana belum paham ya? Jadi Han, sahabat lo ini, ngejebak gue, dia punya kong kalikong orang dalam di tempat gue kerja biar naruh duit di loker gue sehingga gue dituduh nyolong. Tapi dia lupa ada kamera cctv yang bakal jadi bukti nantinya. Yaaa sekarang belum...tapi lama kelamaan pasti bakalan ketemu"
Hana memandang Clara seakan tak percaya. Clara tidak bergeming ketika Hana memandangnya. Mungkin dia masih punya malu dengan temannya. Perihal cctv itu aku hanya menggertak. Aku tidak akan kembali ke resto hanya untuk membuktikan itu. Percuma. Lagipula semua pasti sudah dipersiapkan secara matang. Kamera cctv mungkin sudah dimatikan atau peristiwa itu memang tak terekam cctv. Jika ada, tentu sudah terkuak sebelum aku dituduh.
Clara maju beberapa langkah ke arahku hingga kami berdua hanya sebatas beberapa jari.
"Itu adalah balasan bagi orang yang sudah merusak acaraku" Katanya tegas dan lirih.
Kali ini aku kembali menatap matanya yang tajam. Dia memang terlihat begitu garang namun jauh di dalam matanya tampak begitu jelas rasa takut yang luar biasa. Seakan ia hidup di bawah tekanan.
"Rosa!!" Teriak Dinda dari kejauhan.
Aku melirik Dinda sebentar kemudian kembali menatap Clara.
"Aneh ya, orang kaya tapi hatinya miskin. Bergelimang harta, tapi sepi cinta"
Aku berlari pada Dinda seusai berbicara demikian. Kutinggalkan dia yang menyimpan berbagai perasaan tak menentu. Aku berhak melakukan itu. Tentu saja aku kecewa dan marah atas apa yang menimpaku. Jadi aku pantas melakukan itu padanya.
***