My Name Is Rose

My Name Is Rose
Monica



Tepat seperti dugaanku, Mama benar-benar hamil. Bahkan sebelum kuberikan alat tespek itu. Saat aku pulang sekolah, kulihat Mama sedang dikunjungi seorang petugas medis. Melihat kedatangan kami -aku dan Papa- Mama begitu antusias mengabarkan kehamilannya.


"Pa, sini deh, hasil pemeriksaannya positif" Kata Mama.


"Positif gimana Ma?" Tanya Papa.


"Aku hamil Pa" Jawab Mama.


"Apa Ma? Hamil? Alhamdulillah!!"


Papa memeluk mama dengan haru. Sampai mereka lupa ada dua orang di ruangan ini yang sedang melihat mereka. Aku dan petugas medis. Aku senang. Impian mereka terkabul. Aku sadar betul bahwa tujuan mereka mengadopsiku adalah sebagai pancingan. Banyak orang percaya bahwa untuk memiliki momongan harus dipancing dulu agar Tuhan percaya kita mampu diberi tanggung jawab seorang anak. Salah satunya adalah mengadopsi seorang anak dari panti asuhan.


Kehamilan itu membawa senyum di bibir Mama, tapi berbanding terbalik denganku. Ada sesuatu yang mengganjal di benakku. Sikap Mama. Dia berubah semenjak mengetahui kehamilannya. Kasih sayangnya yang dulu tercurah cukup untukku, kini berkurang sedikit demi sedikit. Dahulu, Mama akan menyambut kepulanganku dari sekolah, menanyakan berapa nilaiku hari ini, atau sekedar bertanya aku capek atau tidak. Sekarang, jangankan bertanya, menyambutku saja tidak. Mama selalu sibuk dengan perutnya yang kian hari kian membuncit.


Sampai saat itu tiba, saat lahirnya adikku. Aku seperti tidak ada. Benar-benar tidak ada. Kalau aku lapar aku akan mencari makan sendiri di dapur. Jika makanan habis, aku akan keluar cari makan di warung atau beli mie instan dengan sisa uang saku sekolah. Jangankan bertanya apa aku sudah makan atau belum, menyapaku saat pulang sekolah saja tidak.


Aku bersyukur Papa tidak demikian. Tetapi tentu saja perhatian seorang ayah tak ada separuhnya dari perhatian ibu. Aku beruntung karena Papa sering memberiku uang saku lebih agar aku bisa mencukupi kebutuhanku sendiri disaat Mama sedang repot mengurus adikku.


Bayi itu perempuan, Monica namanya. Aku dengar, itu nama favorit Mama. Sejak lama mama inginkan anak perempuan dan akan diberi nama Monica. Aku tidak terlalu wah dengan kehadiran seorang bayi. Di panti, hampir setiap hari aku berinteraksi dengan bayi, dan hampir tiap bulan ada bayi yang datang. Ada yang dibuang, ada yang diserahkan secara terang-terangan oleh ibunya yang tak sanggup mengurus bayi, ada pula yang diserahkan oleh polisi karena tidak ada yang menjemputnya di rumah sakit.


Aku teringat kala itu, memang sudah kebiasaanku menguping pembicaraan orang dewasa. Saat itu, aku tahu ada mobil hitam berhenti di halaman panti. Kupikir, pastilah ada bayi yang diserahkan ke panti lagi. Dugaanku benar, bayi perempuan yang tampak berbeda dari yang lain. Aku melihatnya dari lubang jendela kaca, bayi itu tampak tidak normal. Kepalanya lebih besar dari ukuran biasanya. Jari-jarinya juga tampak layu. Yang kudengar, si Ibu bayi menangis sesenggukan sambil membeberkan fakta bahwa bayi itu adalah hasil hubungan terlarang antara dirinya dengan kakak kandungnya. Sudah beberapa kali mencoba digugurkan namun gagal. Itulah hasilnya, bayi itu nyaris cacat.


Bagaimana denganku? Siapa orang tua kandungku? Siapa yang membawaku ke panti? Ibuku? Atau Ayahku? Atau tidak keduanya, tapi polisi yang menemukanku terbuang di selokan seperti Rania? Ya, Rania dibuang di persawahan, hampir saja nyawanya tak tertolong. Dia beruntung diselamatkan oleh warga yang kemudian membawanya ke rumah sakit. Sambil menunggu hasil penyidikan, polisi menitipkannya di panti. Namun hingga dia diadopsi oleh sebuah keluarga, tak ada yang datang menjemputnya. Aku tahu hal ini dari Kak Muna, senior kami sesama anak panti yang punya hobi sama persis denganku, menguping.


Lantas aku? Apakah aku juga sema dengan Rania? Kata Kak Muna, tidak ada yang tahu kapan tepatnya aku tiba di panti, dan siapa yang membawaku ke panti. Menurutnya, aku tiba di panti saat anak-anak panti sedang tertidur. Itulah kenapa tidak ada yang tahu tentang asal usulku selain para bunda panti yang tentu akan menutup mulut rapat-rapat.


Selain Rania, terbesit dalam hatiku untuk mencari keberadaan orangtua kandungku jika aku dewasa nanti. Tapi sayangnya aku tidak punya petunjuk apapun tentang mereka. Jadi aku lebih mudah menemukan Rania ketimbang orangtua kandungku. Meski demikian mencari Rania terlampau sulit bagi anak SD sepertiku.


Monica menangis di tengah malam, saat Papa sudah tidur, Mbak Yanti juga sudah pulas. Aku terbangun, tentu saja karena tangisan Monica. Aku hampir saja tertidur kembali saat kudengar tangisan Monica lebih keras. Ada apa dengan Monica? Apakah Mama sudah mengurusnya? Kenapa tangisnya tak juga berhenti? Penasaran, aku turun ke lantai bawah tempat dimana Monica berada. Pelan-pelan kulangkahkan kakiku di tangga, agar tidak menimbulkan suara.


"Ma, mau aku bantuin?" Kuberanikan diri menawarkan bantuan walau sedikit ragu.


Mama memandangku. Antara yakin dan tidak. Aku masih berdiri mematung di depan pintu menunggu jawaban. Ayolah, beri aku keputusan. Jika tak mau aku akan pergi dengan senang hati.


" Kamu bisa?" Tanya Mama.


Aku mengangguk, dan Mama menyerahkan Monica padaku, gadis berusia sebelas tahun, yang masih duduk di kelas 5 SD. Aku bisa. Aku sudah biasa menggendong bayi baru lahir selama di panti. Kutimang dengan halus, kunyanyikan lagu tidur pada umumnya, dan sedikit kubuka selimut yabg membungkus tubuhnya. Perlahan-lahan Monica tertidur di pelukanku.


"Sudah tidur?" Tanya Mama lirih.


" Baru saja" Jawabku.


Kubaringkan Monica di box bayi. Kugoyangkan sebentar agar dia tetap tidur.


"Monica gerah Ma" Kataku percaya diri.


" Kok tahu?" Tanya Mama tak percaya.


" Kamar Mama terlalu panas, karena gak ada jendelanya, selimut Monica juga terlalu tebal"


" Ah, masak, bukannya itu bagus untuk bayi? Ah sudahlah, kembali ke kamarmu, besok sekolah" Komentar Mama.


Alu bergegas meninggalkan kamar Mama menuju kamarku sendiri, sebelum Mama marah. Karena Mama yang sekarang benar-bebar menjadi Ibu, sudah bukan Mama yang menerima kehadiranku pertama kali di rumah ini. Aki berharap, bantuanku tadi mampu melunakkan hati Mama. Aku harap dia membalas dengan perlakuan yang lebih baik lagi. Entahlah, aku merasa, Mama ingin membuangku setelah mendapatkan Monica. Semoga hanya perasaanku. Tapi aku harus siap-siap, seandainya firasatku benar, suatu hari Mama akan membuangku, aku harus siap akan hal itu bukan?


Aku masih terpaku dalam sepi. Aku tidak bisa semudah itu kembali tidur. Ketika mulai sepi begini, segala kegundahan muncul begitu saja di hadapanku. Tentang Rania, orangtuaku, Mama, Monica. Aku tidak bisa tidur, meski kututup rapat-rapat kedua mataku.


***