My Name Is Rose

My Name Is Rose
Mama Jessie



Sehari setelah peristiwa itu semuanya tampak baik-baik saja. Tapi aku tidak bisa tenang sebelum menerima kabar bahwa Jessie baik-baik saja. Clara juga tampak biasa saja. Dia belajar seperti tak ada apa-apa.


"Maaf Pak, saya manggil anak" Kata seorang Guru.


Pak Guru mempersilahkan.


"Rosa Nirwasita!!"


Akhirnya aku dipanggil. Dinda kaget saat aku dipanggil. Dinda tak menyangka jika benar aku pelaku yang membuat Jessie terluka sampai haris dibawa ke rumah sakit terdekat.


"Ros?" Dinda menatapku.


Aku mengangguk menenangkannya agar tidak perlu mengkhawatirkanku meskipun dadaku bergemuruh hebat.


Aku dibawa ke ruang Waka Kesiswaan. Bukan ke ruang BP. Aku senang, sebab di ruang BP aku masih menjadi kambing hita atas segala masalah. Benar salah tetap dihukumi salah. Aku berharap di ruang Waka Kesiswaan akan berbeda. Setidaknya meeka masih mau mendengarkan kronologi dari sisiku.


"Silahkan duduk Rosa" Bu Sarah mempersilahkanku duduk.


Di dalam ruang itu sudah ada Guru BP dan salah seorang perempuan ibu-ibu yang aku belum pernah lihat. Aku duduk menunduk di sudut kursi. Aku tahu apa yabg membuatku dipanggil ke sini. Itulah kenapa aku menunduk untuk menunjukkan penyesalanku.


"Kamu tahu kenapa kamu dipanggil kesini?" Tanya Bu Sarah.


Aku mengangguk pelan.


"Ibu ini adalah Mamanya Jessie. Hari ini dia melaporkan apa yang terjadi pada putrinya kemarin" Kata Bu Sarah.


"Kemarin Jessie dibawa ke rumah sakit karena luka di keningnya. Empat jahitan. Karena perbuatan kamu" Kata Mama Jessie dengan nada marah.


"Bisa kamu ceritakan kejadiannya?" Tanya Bu Sarah.


Belum sempat aku menjawab, pintu diketuk dari luar. Aku terkejut karena Mama juga dihadirkan di ruangan ini. Entah kapan Mama mendapat panggilan dari sekolah. Kemarin di rumah tidak ada surat datang. Mama juga tidak bicara apapun. Tiba-tiba saja Mama ikut hadir.


"Jadi begini Bu, anak Ibu ini sudah mendorong anak saya hingga jatuh sampai keningnya terluka robek. Empat jahitan ia terima Bu. Bagaimana Ibu mempertanggungjawabkan ini" Mama Jessie masih emosi.


"Oh Maaf, saya masih belum tahu titik permasalahannya, jadi...." Mama berbicara.


"Dan lagi perlu kami sampaikan pada Ibu, bahwa anak Ibu ini sering membuat keributan di sekolah Bu" Guru BP ikut berbicara.


"Oh ya?" Mama heran.


"Pokoknya saya mau anak ini dihukum seberat-beratnya atas kesalahannya, jika tidak, saya akan bawa masalah ini ke polisi" Mama Jessie masih tersulut emosi.


"Tunggu dulu Bu, jangan terburu-buru. Rosa juga berhak untuk membela diri. Kita semua di sini tidak tahu kejadian yang sebenarnya. Ada baiknya kita dengarkan dari kedua belah pihak" Bu Sarah menengahi.


"Ayo Rosa, silahkan" Kata Guru BP.


"Kami berantem Bu, dia mendorong saya, saya juga demikian" Kataku lirih.


"Berantem? Wah Bu Sarah, ini sudah keterlaluan. Anak saya anak baik-baik. Dia sudah belajar sekolah kepribadian jadi rasanya tidak mungkin anak saya berantem. Dia pasti yang menyerang duluan" Kata Mama Jessie menggebu-gebu.


"Ee...begini Bu, saya minta maaf atas kelakuan anak saya. Perlu kami jelaskan, bahwa Rosa memang bukan anak kandung saya. Dia anak angkat dari panti asuhan. Mungkin karena kurang didikan jadi....eh ..liar" Kata Mama.


Remuk redam hatiku mendengar itu. Tidakkah dia sadar dia tidak pernah mendidik ku sama sekali. Sekarang dia membongkar masa laluku semua orang yang hadir di ruangan itu pun terkejut. Mungkin mereka baru tahu bahwa aku anak angkat, bukan anak kandung.


Semakin remuk jantungku mendengar ini. Mereka tidak pernah mempedulikan perasaanku. Mereka tidak pernah belajar psikologi. Tidakkah mereka sadar bahwa aku juga manusia sama seperti mereka. Bukankah mereka selalu mengajarkan bahwa manusia di hadapan Tuhan sama saja.


"Bagaimana Bu Sarah? Apakah anak ini masih pantas sekolah di SMA terhormat ini? Apalagi saya dengar dia menerima beasiswa juga?" Tanya Mama Jessie.


"Sebentar Bu, saya ingin berbicara dengan Jessie. Saya ingin mendengar pendapatnya" Jawab Bu Sarah.


"Apa tidka cukup aya wakili? Saya tahu bagaimana menderitanya anak saya karena ketemu sama anak nakal ini" Sahut Mama Jessie


"Benar Bu Sarah, anak ini harus dihukum, supaya menjadikan efek jera" Sambung Guru BP.


"Saya...ikut saja apa keputusan sekolah" Kata Mama.


Mama terlihat senang dengan kondisi ini. Mungkin ini adalah jalan baginya untuk mengusirku dari rumah. Ini adalah kesempatan emas untuknya, itulah kenapa dia sudi datang ke sekolah untukku.


"Ya, semua sudah setuju. Skorsing sepertinya cukup. Dan cabut juga beasiswanya" Usul Mama Jessie.


Cabut beasiswa? Oh tidak. Jangan. Aku tidak bisa sekolah lagi tanpa beasiswa itu. Sekolah di sini terlalu mahal. Meski aku bekerja 24 jam pun tidak akan mampu membayar biaya sekolah di sini.


Tok...tok...tok...pintu di ketuk. Seorang petugas keamanan memohon ijin untuk menghadirkan seseorang. Cukup surprise karena yang masuk adalah Silvi dan Alanta. Mereka berdua dihadirkan. Untuk apa?


"Bu, ini adalah saksi kunci kejadian kemarin" Kata Alanta.


"Ya Bu, saya melihat bahkan merekam kejadian itu" Kata Silvi.


Merekam? Kapan?


"Awalnya saya ingin memendam saja kasus ini. Tapi jiwa saya menolak, ada orang yang tidak bersalah terseret kasus ini. Saya lalu meminta bantuan Alanta untuk menemani saya kesini" Jelas Silvi.


Silvi kemudian menyerahkan hapenya. Di sana terekam adegan kami berantem. Adegan saling tampar, saling dorong sampai akhirnya Jessie jatuh dan terluka. Di sana juga terekam bagaimana Jessi dan tiga teman yang lain mengeroyokku sampai aku tertantang untuk melawan mereka.


"Silahkan Anda lihat, Jessie yang Anda bilang lulus sekolah kepribadian, ternyata memulai pertengkaran dengan seorang anak. Bahkan dia mengeluarkan kata-kata yang sungguh berani Bu" Kata Bu Sarah.


Guru BP pun ikut menyaksikan rekaman di hape itu. Keduanya saling pandang.


"Sebentar, kenapa kamu merekam kejadian itu, bukannya melerai" Kata Guru BP.


"Jika saya melerai,. Saya tidka akan punya bukti Bu. Saya tim jurnalistik sekolah. Saya punya trik untuk membuktikan seseorang tidak bersalah" Jawab Silvi.


Mendengar itu, Mama Jessi terlihat sangat kecewa. Dia tidak bisa menghukumku karena terbukti anaknya lah yang menyulut emosi. Begitupun Guru BP yang tampak malu dengan tuduhannya. Dan Mama bersikap datar saja sebab tidak ada hubungannya dengannya. Entah aku jatuh atau bangkit bukan urusannya lagi.


"Rosa, saya selalu percaya dengan kamu..." Kata Bu sarah begitu semua keluar sari ruangan.


"Tapi saya ingatkan sekali lagi. Hati-hatilah dalam bertindak. Apalagi berhubungan dengan Jessie dan kawan-kawannya. Orang tua mereka memiliki pengaruh yang kuat bukan hanya dia sekolah ini, tapi juga Kota ini. Karena itu, ibu minta kamu hati-hati. Jangan gegabah" Kata Bu Sarah.


Aku memgangguk.


"Untung ada Silvi yang punya bukti, jika tidak entahlah apa yang akan terjadi padamu"


***