My Name Is Rose

My Name Is Rose
Bumi Perkemahan Bogor



Aku tak lagi tinggal di rumah peninggalan Papa. Rumah itu sudah diwariskan untuk Monica. Sepeserpun aku tidak menerima peninggalan Papa. Karena aku bukan anak kandungnya. Tak apa, aku masih bisa bekerja mencari uang. Setelah Papa meninggal, aku tidak lagi melihat Mama dan Monica. Tampaknya keduanya memang sudah pindah ke Semarang.


Aku masih bekerja di Pandan Resto. Mereka berbaik hati menerimaku kembali setelah aku vakum hampir satu bulan. Mereka tahu penyebabnya. Apalagi kalau bukan kasus penculikan itu. Mereka kasihan dan masih menerimaku bekerja secara part time.


"Ros...sudah dapat selebaran belum?" Tanya Clara.


"Belum. Selebaran apa?" Tanyaku balik.


"Nih, weekend depan ada camping di bukit Bogor. Kamu itu kan?"


Kupikir memang Clara sudah berubah. Dia sudah kembali seperti Rania yang dulu. Aku tahu, rasa sayang itu pasti masih tersimpan rapat di hatinya. Selama ini sikapnya tidak baik karena desakan orang tuanya. Sekarang dia tak lagi membenciku. Diapun mempengaruhi teman-temannya agar bersikap baik pula padaku.


"Tapi kerjaanku...."


"Ijin lah, sehari aja" Bujuk Clara.


Aku mengangguk. Dan dia begitu senang setelah kusetujui untuk ikut camping akhir pekan. Sesaat kemudian Alanta hadir di antara kami.


"Ros, ini untuk kamu, akhir pekan ini ada camping di Bogor. Ikut ya" Kata Alanta.


Alanta kemudian melihat selebaran yang diberikan Clara di tanganku.


"O ow....aku telat nih" Katanya sambil menggaruk kepala yang kuyakini sebenarnya tidak gatal.


Begini rasanya tidak punya musuh. Rasanya dunia menjadi cerah secerah lampu di mall. Akhirnya setelah sekian lama Clara kembali menjadi Rania. Tapi aku harus tetap ingat, dia sudah berbaik hati denganku, maka aku tidak akan merusak kebaikannya dengan membongkar masa lalunya. Biarlah orang lain tahu dia adalah Clara, putri kandung Nyonya Hamdani.


Hari yang ditentukan. Kami semua berangkat ke Bogor menggunakan sebuah bus. Aku duduk dengan Dinda sementara Clara berada di ujung depan dengan teman-temannya. Alanta meski mendapat tempat duduk paling depan, tetapi sebagai ketua panitia dia berjalan ke depan dan belakang memantau kondisi para peserta.


Sepanjang jalan anak-anak bernyanyi diiringi gitar yang dimainkan oleh salah satu siswa. Suasana seperti ini jarang sekali kualami. Bergurau saja aku jarang. Hidupku selalu dipenuhi suasana tegang. Entah apa jadinya jika Dinda tidak berteman denganku. Anak itu yang selalu membuatku tertawa dengan tingkah kocaknya.


Sekitar tiga jam perjalanan, kami sampai di lokasi bumi perkemahan disebuah bukit. Ada tiga bus yang ikut serta dalam acara ini. Ditambah beberapa mobil milik guru. Pertama-tama kami bersiap mendirikan tenda. Tenda itu bukan milik kami, tetapi lokasi buper yang menyediakan berikut perlengkapan kemah dan out bond nya. Jadi pengunjung tinggal membayar biaya sewa dan reservasi saja. Semua anak sibuk membangun tenda. Pantia memantau dan membantu pendirian tenda yang mengalami kendala.


"Ros, gimana, udah bisa?" Tanya Clara menghampiri.


"Iya ini dikit lagi tinggal matok satu aja" Jawabku.


"Oh oke aku tunggu di sana ya sama anak-anak, Hana bawa cemilan ala Korea" Kata Clara.


Dinda tentu saja terkejut dengan perubahan sikap Clara. Terlihat dari matanya yang terbelalak menyaksikan kami akrab.


"Sst...Ros....lagi ngelindur apa dia?"


"Gue juga gak tau tiba-tiba aja dia baik banget sama aku" Jawabku berbisik.


"Sejak kapan?"


"Sejak pemakaman Papa"


"Gue curiga deh jangan-jangan dia nyimpen rencana"


"Gue juga mikirnya gitu, tapi makin kesini dia makin baik aja loh"


"Tapi saran gue ya, tetep hati-hati sama dia"


"Hmm. Iya, tapi saran gue juga, lo coba buat positive thinking..."


Pendirian tenda selesai dilanjutkan dengan pembukaan. Pembukaan dihandle oleh Alanta dan dibuka langsung oleh Kepala Sekolah. Selepas membuka acara, kepala sekolah kemudian pulang untuk melaksanakan tugas yang lain.


"Aman?" Tanya Alanta.


Aku mengangguk.


"Jaket tebal nggak lupa?"


Aku memberikan kode lingkaran jari telunjuk dan jempol. Kembali dia mengelus rambutku. Hal yang paling suka dia lakukan dan yang paling membuatku terjerembab dalam angan-angan yang jauh.


Alanta mendirikan tenda tak jauh ari tendaku. Hanya jeda dua tenda lainnya. Itu upayanya untuk menjagaku. Dari kecil dia selalu begitu. Dari masih SD dia selalu menjagaku meski dari jauh. Dia memastikan aku bisa pulang, memastikan aku sampai rumah, memastikan aku tidak kelaparan.


Hari berikutnya.


Kegiatan hari ini adalah out bond. Kami semua digiring menuju hutan lebih dalam. Di sana sudah terpasang perlengkapan out bond. Kami akan melaksanakan kegiatan out bond di dalam hutan. Para siswa menyambut dengan sorak sorai. Ini pasti akan sangat seru. Dalam hal ini, Alanta sudah bukan lagu panitia, dia adalah peserta sama seperti kami.


"Silahkan membentuk kelompok masing-masing lima anak" Kata Panitia.


Alanta menggandeng tanganku, dan aku segera menggandeng Dinda, supaya tetap menjadi satu kelompok. Sekonyong-konyong Clara datang ke arah kami.


"Alan, kamu satu kelompok sama kita ya please...soalnya kelompok kita gak ada cowoknya" Katanya.


"Eh enak aja. Nggak...nggak....cari cowok lain aja" Jawab Dinda.


"Aduh masalahnya kan sama panitia emang suruh gabungan cewek cowok...nah kalian udah banyak cowoknya...ada tiga, aku gak ada loh" Kata Clara.


Jujur aku merasa ada sesuatu yang dia rencanakan. Oh, aku baru sadar. Jika cara Clara mendapatkan Alanta dengan cara kekerasan tidak berhasil maka harus berganti strategi. Clara berpura-pura baik untuk bisa meraih hati Alanta. Minimal seperti yang dia dapatkan hari ini. Perhatian Alanta. Alanta menjadi respect padanya setelah Clara berbuat baik padaku.


"Ya udah gak papa, Ros, kelompok kamu tetep di belakang aku ya, jangan misah" Kata Alanta.


Aku mengangguk.


"Kok lo biarin sih tuh cewek rebut Alanta" Kata Dinda kesal.


"Gak papa udah biarin aja. Lebih baik Alanta di kelompoknya dia daripada Clara yang satu kelompok dengan kita" Jawabku


"Iya juga. Bener tuh"


Kami membawa peralatan secukupnya. Untuk menuju tempat out bond yang ekstrim, kami harus berjalan menyusuri hutan sekitar tiga kilometer. Sungguh pengalaman yang luar biasa. Seru dan memacu adrenalin. Beberapa kali kulihat Alanta memantauku. Dasar cowok, pikirku.


Kami sampai di lokasi pos pertama. Di sana panitia sudah menyediakan sebuah tambang dan berbagai permainan lainnya. Kami berpencar tak lagi bersama kelompok masing-masing. Permainan dimulai. Semua bersorak sorai memberi support pada kelompoknya yang sedang berlaga di arena out bond.


Jessie dan Clara mendekatiku. Kulihat ekspresi Clara kesakitan. Tangannya memegang perut dan mukanya memicing menahan sakit.


"Ros, tolongin dong Clara sakit perut" Kata Jessie panik.


"Kenapa Cla? Masuk angin?" Tanyaku.


"Gak tahu aku mau ke tenda aja" Katanya sambil memegangi perut.


"Ya udah yuk kita ke tenda. Jess lo sebelah sana" Kataku bersiap membawa Clara kembali ke tenda.


"Duh, itu dia, gue dipanggil panitia. Makanya gue minta tolong sama lo" Kata Jessie.


Aku tak punya pilihan. Melihat Clara yang kesakitan, batinku pun terkoyak. Aku tak tega. Wajahnya pucat pasi. Perkiraanku dia masuk angin sampai mual. Belum pernah aku melihatnya seperti itu semenjak keluar dari panti. Clara, bertahan, di tanganku kamu akan kurawat.


***