My Name Is Rose

My Name Is Rose
Malam Kemenangan



Gedung sedang riuh oleh tawa teman-temanku. Mereka begitu bahagia. Para siswa bahkan melepas kaosnya dan memutarnya persis seperti supporter sepak bola. Dinda yang sedari tadi menyaksikan lomba ini menghampiriku dan memelukku erat-erat. Tentu saja hal ini membuat bingung teman-temanku.


"E ..tenang...jadi Rosa ini dulunya memang sekolah di First. Jadi wajar kalo kenal anak-anak First" Bella membelaku.


Dan aku harus berterima kasih pada Bella, berkat pembelaannya, teman-temanku tak lagi memandang sinis pada Dinda yang memakai almamater First. Di saat yang bersamaan, Clara dan teman-teman satu genk nya menghampiri kami. Giliran mereka memandang sinis pada Dinda.


"Copot jaz lo!! Gak pantes lo jadi siswi First" Ujar Stella.


Dinda kali ini sungguh berani. Dia membuka jaz nya dan memasukkannya ke dalam tas. Tak hanya itu, dia kuga merangkulku dengan bebasnya untuk menunjukkan bahwa dia akan tetap mendukungku meski kami sudah beda sekolah.


"Pengkhianat!!" Sahut Jessie.


Clara hanya memandang tajam Dinda yang berdiri berdampingan denganku.


"Kamu akan membayar mahal atas kekalahanku ini" Clara berbisik di telingaku.


Aku diam tak menjawab. Dadaku sesak mendengar kalimatnya. Meskipun sering aku mendengar itu tapi rasanya tetap saja menyakitkan. Beberapa detik setelahnya barulah Alanta datang sekembali dari toilet. Dia melihat perubahan sikapku yang menjadi murung.


"Kenapa Ros?" Tanya Alanta


Aku menggeleng tapi dia tak percaya. Namun dia juga harus menjaga sikap di depan anak-anak yang lain. Dia hanya menggenggam tanganku untuk menguatkan meskipun dia sangat ingin memelukku.


Anak-anak yang lain sedang berkenalan dengan Dinda saat Bu Mariana menghampiri kami. Aku kembali gugup. Kali ini, tidak hanya melawan tapi kami mengalahkan. Bagaimana sekarang perasaan Bu Mariana? Apakah dia membenciku? Kini dia berada tepat di hadapanku.


"Akhirnya kamu menunjukkan taringmu" Kata Bu Mariana padaku.


Aku belum paham apa maksudnya dengan kalimat 'taring' yang dimaksud Bu Mariana. Aku hanya bisa diam menerima apapun yang beliau katakan.


"Dimanapun tempatmu, kamu tetap berkembang dengan baik" Lanjutnya.


Bu Mariana kemudian memegang kedua pundakku. Dia tersenyum seakan menahan tangis.


"Rosa...selamat ya... Im so proud of you" Lanjutnya lagi.


Aku tersenyum. Satu tetes air keluar dari mataku. Bu Mariana bukan orang yang gampang menunjukkan perasaannya. Sampai aku tak tahu sebenarnya beliau menyukaiku atau justru membenciku seperti Nyonya Hamdani. Namun hari ini ia menunjukkannya padaku. Dia adalah sosok yang netral selama ini. Kali ini dia menyatakan rasa bangganya padaku.


"Jika kamu berkenan kembali, pintu kami terbuka lebar" Katanya kemudian.


Bu Mariana kemudian melihat putranya.


"Hai...pak pelatih. Congratulation ya!!"


Bu Mariana kemudian meninggalkan kami dengan langkahnya yang anggun. Aku dan Alanta saling pandang beberapa saat. Kemudian Alanta berlari ke arah ibunya.


"Bunda!!" Panggil Alanta.


Bu Mariana menoleh dan Alanta menghambur di pelukannya. Entah apa yang mereka bicarakan tetapi dapat kulihat dari sorot mata keduanya. Dan terakhir, Bu Mariana mencium kening putranya.


***


Suasana kemenangan masih berlanjut selama beberapa hari di sekolah. Kami belum bisa move on dengan kejuaraan. Sepuluh juta rupiah hadiah untuk kami. Namun kami sepakat hadiah itu sebagian besar kami sumbangkan untuk kemajuan sekolah.


"Menurut saya Ac pak. Jakarta itu panas.....kita butuh Ac" Kata Roni.


"Gak usah pak. Saya bawakan kipas angin rancangan saya sendiri. Gak usah bayar. Gratis" Sahut Adi si anak reparasi.


"Kalo gitu gitar pak. Biar Adun gak pinjem saya terus" Sahut yang lain.


Pak Yogi pun kewalahan menuruti keinginan para siswa.


"Tenang..tenang...gimana kalo kita dengar pendapat Rosa, yang sudah membawa sekolah kita pada kejuaraan" Kata Pak Yogi.


"Nah bener itu. Oke saya akan sampaikan ke kepala sekolah" Kata Pak Yogi.


Selepas Pak Yogi keluar kelas, Alanta masuk ke kelasku. Ini membuat seluruh cewek riuh dnegan kehadirannya.


"Sorry saya ganggu sebentar, saya cuma menyampaikan amanah dari kepala sekolah. Ada sedikit apresiasi untuk kota semua uang masuk dalam tim olimpiade baik yang maju bertanding maupun di balik layar"


"Huuuuuu" Semua bersorak kegirangan.


"Tempatnya sudah gue booking. Ntar malam datang jam 7 ya"


"Huuuuuu......" Mereka semakin bersorak dengan gembira.


Kemenangan ini benar-benar kurasakan. Belum pernah aku merasakan segembira ini. Aku sudah sering memenangkan kejuaraan akademik, namun belum pernah kurasakan sepuas ini. Mungkin karena sekolah ini baru pertama meraih prestasi sehingga semua orang berbahagia begini. Lain halnya dengan SMP Cendekia, SMP Insan Mulia maupun First. Kejuaraan adalah hal biasa sehingga ditanggapi dengan biasa pula.


Sesuai waktu yang ditentukan, aku datang ke tempat nongkrong yang sudah dibooking oleh Alanta. Tentu saja aku berangkat bersama Alanta..aku tak punya kendaraan. Lagipula biasanya memang begitu. Untung hari ini adalah hari Senin, Resto memberikanku libur di hari Senin. Dan kurasa Alanta memang memilihkan hari Senin agar aku tak perlu ijin dan memotong gajiku sekian persen.


Saat kami sampai, sudah banyak yang datang. Rupanya kami terlambat sepuluh menit. Kalo soal nongkrong, mereka sangat tepat waktu.


"Halo semuanya sorry saya telat. Tapi gak papa kan?" Kata Alanta.


"Okee" Sahut beberapa.


"Eh tunggu...tunggu...Kak Alanta berangkat bareng...Rosa?" Tanya Eni.


"Eh..ini...anu..." Aku bingung menjawab.


"Ya iya lah, mereka kan pacaran" Bella keceplosan.


Segera setelah ia sadar sudah keceplosan, Bella pun menutup mulutnya dengan kedua tangan. Tentu saja yang lain langsung melongo tak percaya.


"Pantesan kalian sering bareng" Ujar Dafa.


"Gua gak nyangka" Kata seorang siswi.


"Tapi cocok banget" Sahut lainnya.


Ditengah sunyi nya rasa terkejut mereka, tiba-tiba saja Bella berkelakar.


"Selamat jadian!!!! Traktir traktir traktir!!" Bella bertepuk tangan sendiri awalnya, namun setelah itu ia menyenggol teman di sampingnya sehingga semua pun mengikuti tepuk tangan.


"Traktir..traktir...traktir!!" Teriak mereka.


"Okey....disamping menu yang udah gue pesen dan udah gue bayar, kalian boleh pesen lainnya gue yang traktir" Kata Alanta.


Suasana kembali hangat setelah mereka akhirnya menerima hubungan kami. Memang pasti ada yang kecewa dengan kenyataan ini apalagi mungkin mereka sudah banyak berharap pada Alanta, atau mereka merasa paling cocok dengan Alanta. Tapi mereka juga harus bisa menerima kenyataan karena mereka toh sudah dewasa.


Alanta pun tak canggung merangkul pundakku di depan umum. Dia begitu bahagia kali ini. Bahagia itu bukan hanya karena kami akhirnya diterima, tapi juga Ibundanya yang kemudian merestui dia sekolah di sini, juga kemenangan ini yang membuatnya mampu membawa kami sampai titik ini.


"Kak Alan, starbucks nya jadi kan?" Tagih Bella.


"Kan lo udah keceplosan tadi" Jawab Alanta.


"What??? Tahu gitu dari kemarin gue tagih Kak..hiiihhhh" Bella kesal dan kembali ke tempat duduknya. Anak itu semakin lucu kalau cemberut.


Malam ini adalah kemenangan kami. Malam yang penuh bintang, penuh tawa, penuh kebahagiaan.


***