
Jalan menuju kontrakan cukup ramai. Tinggal di tempat ini membuatku aman meski pulang malam. Banyak penjual yang masih buka sampai larut. Bapak-bapak main catur, anak-anak muda nongkrong sambil bermain gitar, juga bapak satpam yang ngopi di warung. Berbeda dengan kompleks perumahan elite tempatku dulu tinggal sepi, yang hanya ada satpam di pintu gerbang.
Ketika aku hampir sampai kontrakan, kulihat Alanta mengobrol dengan seorang bapak di depan rumah. Kenapa dia malam-malam begini datang ke kontrakanku.
"Alanta"
"Nah itu dia si eneng udah pulang, Bapak tinggal dulu ya" Kata di Bapak.
"Ros"
"Ada apa malam-malam kesini?"
"Tadi aku ke resto katanya kamu sudah pulang. Makanya aku kesini"
"Udah malem, aku capek, mau istirahat dulu"
"Gak papa, aku cuma mau ngasih ini" Alanta memberikan bungkusan padaku, yang menurutku isinya nasi bungkus.
"Makasih" Kataku
"Ya udah. Aku pulang"
Aku tidak menjawab. Sungguh rasanya aku tidak enak. Aku sudah memarahinya, tapi dia masih bersikap baik dan lembut seperti itu. Dia semakin menyiksaku dengan kebaikannya.
Kurebahkan tubuhku di atas kasur. Teringat semua yang kualami selama ini. Dibalik ketegaranku ada Alanta yabg menguatkan. Dibalik keberuntunganku ada Alanta yang ikut andil. Sungguh aku tidak ingin melihat dia jatuh. Dia tak perlu ikut jatuh bersamaku. Dia tak perlu bertindak sejauh itu. Aku sangat ingin melihat dia bersinar seperti sebelumnya. Kenapa dia tidak mengerti juga.
***
Setengah enam pagi aku sudah menunggu metromini di jalan raya. Jika lebih semenit saja aku bisa terlambat. Menuju sekolahku, aku harus berjalan dulu ke jalan raya, naik metromini sampai terminal, baru naik bus sampai depan sekolah. Pulangnya berbeda. Dari resto aku menyewa jasa ojek sampai di ujung gang.
Aku berdiri menunggu antrian metromini saat Alanta tiba-tiba datang di depanku. Dia membuka helmnya dan tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa.
"Ayo naik..." Kata Alanta.
"Alan...aku..."
"Naik..ntar aku jelasin"
Tak tega rasanya menolak berulang kali. Lagipula, berada di belakang tubuhnya adalah posisi yang paling kurindukan. Aku naik ke atas motornya. Dan seperti biasa Alanta memacu motornya dengan cukup kencang, membuat rambutku bergoyang karena diterpa angin. Aku berpegangan pinggang Alanta, sesekali aku melingkarkan tanganku di perutnya. Kali ini tidak akan ada yang memarahiku karena berangkat bersama Alanta, kecuali jika Clara juga ikut pindah ke Bintang Harapan.
Motor melaju ke arah yang berbeda. Ini buka jalan menuju Bintang Harapan. Aku masih berpikiran positif. Mungkin saja ada jalan lain yang lebih cepat menuju sekolah. Tetapi setelah melewati beberapa jalan yang kukenal, aku tahu ini jalan menuju luar kota.
"Alan ..kita mau ke mana sih? Ini udah jauh banget" Kataku.
Alanta tidak menjawab, dia hanya menarik tanganku agar berpegangan lebih kuat lagi karena setelah itu motor melaju lebih kencang dari sebelumnya. Sejenak aku berpikir apakah dia akan berbuat jahat padaku. Ah jika itu benar seharusnya dia tidak perlu menunggu hari ini.
Cukup lama berkendara kami sampai di sebuah tebing curam dengan pagar pembatas. Dari situ terlihat hamparan pantai yang luas. Indah sekali. Langit yang biru, matahari yang masih hangat, menyempurnakan suasana pagi ini. Aku berkeliling menikmati indahnya pemandangan di hadapanku sampai aku lupa ada Alanta di sampingku.
"Mau turun?" Alanta menawarkan.
Aku mengangguk. Ada tempat yang cukup datar di bawah sana. Jadi kami harus turun untuk mendapatkan view yang bagus. Alanta jalan terlebih dahulu, lalu ia ulurkan tangannya untuk membantuku. Ini memang bukan sebuah jalan. Tapi para petualang sering melewatinya sehingga menjadi sebuah jalan setapak. Jalan ini cukup terjal sehingga kami harus berhati-hati.
Menurut Alanta, tempat ini sering digunakan para fotografer untuk mengambil gambar. Memang tempat yang sangat indah. Ditambah lagi dengan hawa sejuknya, membuat semua orang betah berlama-lama di sini. Kami duduk tanpa alas menghadap ke laut.
"Gak papa kan sekali-kali kita bolos?" Tanya Alanta.
"Udah kejadian mau gimana lagi" Jawabku.
Alanta tertawa ringan. Selama beberapa saat kami terdiam tanpa ada yang memulia bicara. Hanya desiran angin yang berbicara pagi ini. Tiba-tiba saja Alanta meraih tanganku ke pangkuannya. Hal itu membuatku menoleh padanya.
"Aku minta maaf ya" Katanya kemudian.
"Untuk?"
"Aku membuat kamu kecewa"
Aku menunduk. Kupalingkan muka ke arah lain untuk menghindari kontak mata dengannya. Jujur saja kontak mata dengan Alanta akan membuatku tercebur lebih dalam lagi ke dalam perasaan tak menentu.
"Selama ini aku terikat janji dengan orang tuaku. Bahwa aku tidak akan pacaran sampai aku kuliah" Katanya lagi.
Kali ini aku melihatnya. Aku ingin tahu apalagi yang ingin ia katakan.
Benar. Dia pindah karena aku. Hal yang sangat kusayangkan.
"Aku tidak ingin jauh. Dan tak ingin melewatkan barang sedetikpun di hidupku tanpa kamu. Selama ini aku sudah banyak kehilangan. Banyak kecolongan, sampai akhirnya mereka berhasil mendorong kamu keluar dari First"
Dahiku berkerut. Aku tak habis pikir, apakah dia sudah kehilangan cara untuk melindungiku sampai dia harus ikut keluar dari First.
"I love you" Katanya lirih.
"Apa?"
"Maaf kalau kamu..."
"Nggak...nggak...ulangi lagi" Pintaku.
"Ha?"
"Ulangi lagi"
"I love you"
"Sekali lagi" Aku tidak bisa menahan. Mereka keluar begitu saja.
"I love you"
Aku menutup mukaku dengan kedua telapak tangan. Kutumpahkan segalanya di kedua telapakku. Sekian lama bersama akhirnya dia mengatakannya. Diraihnya kembali salah satu tanganku dan kubenamkan wajahku pada kedua lututku sambil sesenggukan. Malu rasanya menampakkan wajahku padanya.
Tampaknya Alanta memahami. Dia kemudian menenangkanku dengan beberapa tepukan di pundakku. Dipeluknya tubuhku beberapa saat. Lalu dia berdiri dan memintaku berdiri pula. Dipaksanya aku mengangkat kepala. Dipegangnya kepalaku dengan kedua tangannya. Dan diusapnya air mata yang membuat bedakku luntur.
"Nggak usah dijawab" Katanya lirih.
Alanta tersenyum.
"Yakin gak ingin denger jawabanku?"
"Nggak perlu"
"Kenapa?"
"Aku menyatakan, bukan bertanya. Jadi apapun jawabanmu tidak akan merubah sikapku ke kamu"
"Kalau begitu aku yang akan tanya"
"Hm?"
"Sejauh apa hubungan kamu dengan Clara?"
"Kenapa jadi Clara?"
"Kalian dekat, keluarga kalian dekat"
"Trus?"
"Clara bilang kalian...."
"Dijodohin?"
"Hm"
"Mungkin"
"Loh"
"Urusan orang tua hanya jodoh jodohin. Perkara nikahnya, urusan yang jalanin dong"
Aku tersenyum. Setidaknya aku tahu Alanta punya prinsip. Dia tidak akan mudah terombang ambing oleh keinginan banyak orang, termasuk orang tuanya. Dia kemudian mengajakku turun lebih dalam lagi ke dekat pantai. Disanalah kami menghempaskan lelah kami dengan berteriak sekencang-kencangnya pada ombak. Ombak seakan menyambut hangat sepasang kekasih yang baru saja menyatakan cinta.
Hari ini berjuta rasa. Sungguh. Rasa itu lebih dari sejuta.
***