
Tempat pemakaman umum penuh sesak dengan para rekan Papa. Dan baru kutahu bahwa Papa tidak memiliki keluarga. Faktanya tidak ada keluarga yang datang menghadiri pemakaman Papa. Dia sama sepertiku, seorang anak yang terbuang dan dibesarkan di panti asuhan. Kurasa itulah kenapa Papa begitu menyayangiku. Melihatku seperti melihat dirinya di masa lalu.
Aku masih duduk bersimpuh dekat dengan pusara Papa. Alanta di belakangku berjaga-jaga seandainya aku tidak kuat dan kemudian tumbang. Para pelayat menaburkan bunga-bunga di atas makam Papa. Kudengar Monica menangis tersedu-sedu. Dia menjadi yatim sekarang. Sementara Mama todak mampu lagi mengeluarkan air mata. Sumbernya sudah habis sekarang. Dia hanya duduk lesu sama sepertiku.
Satu di antara pelayat adalah orang yang paling bertanggung jawab atas apa yang menimpa Papa. Setidaknya itu yang kuyakini, namun aku tidak punya bukti. Tian dan Nyonya Hamdani. Entah apakah mereka bersekongkol atau hanya Nyonya Hamdani.
"Kami turut berduka cita" Kata Nyonya Hamdani pada Mama. Mama mengangguk dan kemudian mereka berpelukan sebagai sesama seorang perempuan. Di situlah Mama sesenggukan. Bagaimanapun, Nyonya Hamdani adalah atasan suaminya dulu dan telah memberikan banyak materi termasuk gaji yang besar sehingga bisa membeli rumah di perumahan elite. Sementara Tuan Hamdani sedang mengobrol dengan paman-paman.
Satu persatu para pelayat berpamitan. Hanya tersisa beberapa selain keluarga besar. Ibu Ketua Yayasan juga hadir dalam pemakaman ini meski tidak dari awal.
"Alanta, kamu mau pulang bareng Bunda atau...." Tanya Bunda Alanta.
"Bunda duluan saja, Alan masih mau temenin Rosa" Jawab Alanta.
Sesaat setelah Bu Mariana, Ibunda Alanta, meninggalkan tempat, Dinda dan Mamanya datang. Aku bersyukur Tante Santi bersedia hadir di pemakaman Papa. Setidaknya itu menghapus sedikit kemarahannya padaku soal dukunganku tentang hobi Dinda.
"Rosa, kami turut berduka cita ya" Kata Tante Santi.
Aku mengangguk. Begitu berat rasanya mengeluarkan lafad dari mulutku. Tante Santi kemudian menemui Mama dan mengobrol. Dinda memelukku. Saat ini hanya Dinda dan Alanta yang kumiliki. Meski mereka tidak berbuat banyak, tapi mereka selalu ada disaat aku terpuruk. Dinda, meskipun harus sembunyi-sembunyi, dia menyempatkan diri menemuiku. Aku senang kali ini Mamanya datang. Rasanya aku begitu merindukan Tante Santi yang dulu.
Pemakaman selesai. Seluruh tamu sudah pulang, paman-paman juga sebagian sudah pulang. Aku dan Mama yang paling akhir. Kami berdua begitu kehilangan sosok Papa. Kami berdua mencintainya meski berbeda cara. Monica sudah pulang terlebih dahulu dengan Nenek.
"Arini, sudah Nak, ayo pulang" Kata Kakek.
Kakek bahkan tidak bertanya padaku. Untung ada Alanta. Jika tidak, bagaimana aku pulang nanti. Sesaat setelah Mama masuk ke mobil untuk pulang, Alanta membujukku untuk pulang pula. Aku sadar, berdiam diri terus di sini tidak akan merubah apapun. Papa akan tetap di dalam sana. Semuanya akan tetap sama. Aku bersedia pulang. Alanta dengan telaten mendampingiku yang berjalan sempoyongan. Saat itulah Clara terlihat keluar dari mobil diikuti teman-temannya. Melihat kehadiran Clara jantungku berdegup. Dia melihatku bersama Alanta tentu kebenciannya akan semakin membara.
"Cla...ini bukan waktu yang tepat, lebih baik kalian pulang...." Alanta mencegah.
"Apaan sih Alan...." Clara mengibaskan tangan Alanta dan tetap mendekatiku.
Tiba-tiba saja Clara memelukku. Aneh. Ini aneh tapi aku senang. Sahabatku, saudaraku, setelah sekian lama akhirnya memelukku.
"Aku turut berduka cita ya Ros" Katanya.
Aku menatap matanya mencari kebenaran di dalam sana. Apakah dia tulus atau ada sesuatu yang ia rencanakan.
"Kita juga ya Ros" Kata Stella.
Dan kemudian ketiga teman Clara satu persatu memelukku sebagai rasa bela sungkawa. Mereka berubah drastis. Mendadak mereka baik padaku. Apa yang sedang mereka rencanakan di balik kebaikannya. Ah, pikiranku terlalu kotor. Siapa tahu mereka memang kasihan padaku. Terutama karena kasus penculikan itu. Dan sekarang aku kehilangan seorang ayah. Mungkin saja mereka iba dan sadar atas perbuatannya selama ini. Seseorang yang sudah jatuh, tidak etis jika disiksa lagi.
***
Keluarga besar Mama sedang berkumpul di rumah Papa. Kami mengadakan tahlil untuk Papa. Di sini kami masih merasa damai karena semua sedang berkumpul. Rasa kehilangan itu tidak terlalu terasa karena kehadiran keluarga besar. Selama tujuh hari ke depan kami akan menyelenggarakan tahlil. Setelah tujuh hari entah bagaimana kami menjalani hidup tanpa Papa.
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Semua berkumpul di ruang tengah. Pintu dikunci, korden ditutup rapat. Semua mata tertuju padaku. Pandangan mereka tajam. Jelas mereka akan menyidangku.
"Semua ini salahmu, sudah jelas Papamu itu sakit bukannya dirawat di rumah sakit malah ngumpet di perkampungan" Kata Nenek.
Aku hanya bisa menunduk. Jika ini adalah salahku, kenapa Nenek tidak bertanya apa yang seharusnya dilakukan Mama dalam situasi genting itu.
"Kenapa kamu tidak memberitahu kami dimana Papamu tinggal. Sombong!! Menurutmu bisa kamu urus sendiri Papamu!!" Nenek marah-marah.
"Kenapa kamu bunuh Papa Ros....kenapa.....????" Mama emosi.
"Anak nggak tahu diri... Dirawat disekolahkan malah begini balasannya" Sambung Nenek.
"Jawab Ros!!! Kamu orang yang paling bertanggung jawab atas kematian suami saya!!"
Aku tidak mampu menjawab. Meski banyak jawaban yang bisa kulontarkan tapi aku tak sanggup. Lidahku kelu untuk berbicara. Aku hanya bisa menangis dan menunduk. Angan-anganku jauh melayang pada kenangan Papa. Aku menangis dan menunduk bukan karena mereka memarahiku tapi karena sedihku kehilangan Papa.
"Ingat itu, kamu yang paling bertanggung jawab atas kematian Papanya Monica" Kata Nenek.
"Kasihan Monica sekarang tidak punya ayah" Yang lain menyahut.
Masih banyak kesalahan yang mereka timpakan padaku sampai aku tidak bisa mengingat semuanya.
"Ngomongo....ojo meneng wae.... Pertanggung jawabkan perbuatanmu!!" Bentak Nenek.
"Mas Har....Mas Har ...!!" Mama menangis meratapi kepergian Papa.
"Bocah cilik bukan hanya membawa sial tapi juga membawa petaka" Nenek masih terus berbicara.
"Sudah cukup. Semuanya cukup!!" Bulik Farida berbicara.
Sungguh baru kali ini aku melihat Bulik Farida berani berbicara ditengah marahnya Nenek.
"Tolong kita semua bersikap seperti manusia yang bermartabat" Kata Bulik Farida.
"Maksudmu kami semua ini kurang bermartabat?" Tanya Kakek dengan nada rendah namun bermakna tajam.
" Manusia bermartabat mana yang mengeroyok anak gadis secara bersama-sama? Manusia bermartabat mana yang di hari kematian seseorang justru mewarnainya dnegan situasi tidak menyenangkan? Manusia bermartabat mana yang menyalahkan seseorang atas suatu kematian? Seolah keimanan sudah hilang" Kata Bulik Farida dengan berani.
"Farida...." Cegah Om Puguh, suaminya.
"Tolong jangan hentikan aku kali ini Mas. Kamu sendiri kenapa diam saja. Padahal di hati kecilmu kamu tahu Rosa tidak pernah salah, tetapi selalu dipersalahkan. Itu kan yang pernah kamu bilang ke aku Mas"
Om Puguh diam saja dengan apa yang dikatakan Bulik Farida. Sementara Nenek semakin geram dengan situasi yabg tidak mendukungnya.
"Kenapa tidak ada yang bertanya, apakah benar Mbak Arini menggulingkan kursi roda Mas Har sampai Mas Har mengalami koma?"
Sungguh Bulik begitu berbeda malam ini. Dia berani bersuara setelah sekian lama bungkam. Bulik yang penurut, lemah lembut, sekarang menunjukkan kekuatannya.
"Dan kenapa Mbak Arini tidak menolong suaminya yang sudah terjatuh. Apa itu namnya cinta?"
Semua diam. Bahkan Kakek pun tak bergeming.
"Anak ini sudah kehilangan Papa angkatnya, dia sama sedihnya dnegan kita semua. Menghujatnya habis-habisan tidka akan membangunkan kembali Mas Har"
Lalu Bulik membawaku ke kamar. Kami membiarkan mereka semua bergosip di belakang kami. Kami tidak peduli. Semua yang telah kurasakan terwakilkan oleh Bulik. Terima kasih, Bulik.
***