My Name Is Rose

My Name Is Rose
Monas



Aku duduk tepekur tepat di depan meja telepon. Kupeluk erat kedua lututku. Sesekali kuletakkan janggutku di sela-selanya. Aku menunggu. Apa lagi kalau bukan telepon dari Rania. Seminggu lebih tak ada kabar. Padahal aku sudah memberikan nomer telepon rumah ini pada pembantunya. Jadi rasanya alasan tidak tahu nomer teleponku bukanlah alasan yang tepat.


Ah, bodohnya aku. Ini kan masih masa liburan. Bisa saja dia liburan ke luar negeri. Seperti layaknya keluarga konglomerat lainnya. Tapi jika begitu, kenapa pembantunya tidak mengatakan begitu. Kenapa mesti dengan alasan tidur. Ah, tidak, rasanya bukan karena liburan. Dugaanku semakin kuat. Rania sedang sakit.


Kring.....


Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari telepon berdering. Hatiku semakin kuat berdesir. Aku cepat-cepat mengangkat telepon karena takut akan berhenti berdering sebelum kuterima.


"Ha..halo...." Ucapku ragu.


"Halo...Non Rosa??" Suara pembantu di rumah Rania. Ya, aku ingat betul itu suara pembantu Rania. Suara medoknya terdengar khas.


"I...iya..betul"


"Anu Non, besok Minggu, kalau ada waktu Non Clara pengen ketemu Non"


"Oh, bisa..bisa...jam berapa ...di mana?" Aku begitu semangat sampai aku langsung mengiyakan padahal aku tidak tahu apakah diperbolehkan oleh Mama.


"Jam sepuluh pagi di Monas Non"


Monas. Rania mengajakku bertemu di Monas. Tempat yang pernah kami cita-citakan gara-gara membaca buku ensiklopedia. Akhirnya kami akan bertemu. Ini hari Jum'at. Dua hari lagi kami akan menikmati Monas bersama. Kabarnya, di Monas sudah ada lift menuju puncaknya sehingga kita bisa melihat seluruh wilayah Jakarta. Ah, aku tidak sabar menunggu hari Minggu.


Hari-hari menjadi begitu istimewa. Bertemu dengan saudara yang terpisah sekian tahun. Melepas rindu, tertawa, bersenda gurau, rasanya begitu istimewa. Ingatkah dia, bau pesing di kasur yang sering kami gunakan sebagai candaan. Gayung robek yang sering kami gunakan rebutan. Sepeda mini warna pink yang biasa kami gunakan boncengan. Ah, aku akan mengulas semua kenangan kami selama di panti.


Aku juga akan mengingatkan dia tentang janji kami untuk menjadi saudara selamanya. Untuk selalu bersama. Janji yang pernah Ia khianati. Tapi aku tidak ingin mengungkit pengkhianatan itu. Aku hanya akan mengingatkan yang manis saja. Yang pahit akan kukubur dalam.


Pagi begitu cepat datang. Papa sudah mem memakai jaz dengan rapi. Pekerjaan Papa tidak mengenal hari libur sekolah. Berangkatpun lebih pagi. Meskipun kantor masuk jam setengah sembilan pagi tapi jam tujuh Papa harus sudah bersiap. Jakarta macet memang benar adanya. Perjalanan pagi akan memakan waktu lebih lama.


Nasi goreng yang tersedia di meja adalah masakanku. Sehabis subuh aku memasak nasi goreng. Aku memang belum menguasai membuat bumbu. Tapi aku bisa menggunakan bumbu instan. Aku tidak mau ribet. Aku akan melakukan sesuatu yang aku bisa. Aku tidak perlu ngoyo lagi. Sebab aku tahu sehebat apapun aku jika hanya untuk mendapat perhatian Mama, percuma.


"Lah, itu dia. Ros sini Ros, gabung sini" Kata Papa begitu melihatku keluar dari dapur.


Aku duduk bersama mereka. Kupilih tempat duduk dekat Monica. Anak itu selalu menyenangkan di hadapanku.


"Besok Minggu kita ke Dufan. Pekerjaan Papa memang belum kelar tapi masih bisa lah ditinggal sebentar" Kata Papa mengumumkan dengan senang.


Minggu? Dufan? Seperti apa Dufan itu? Apakah seperti kebun binatang? Jatimpark? Atau apa? Kenapa hari Minggu? Padahal hari itu aku ada janji dengan Rania di Monas. Bagaimana aku harus menolak Papa. Rania sangat penting. Karena aku tidak bisa setiap hari bertemu dengannya. Tapi berlibur dengan Papa juga penting. Dia sudah susah payah menyempatkan waktu demi keluarga.


"Kamu kenapa Ros, murung gitu? Gak cocok ke Dufan. Atau kita ganti saja. Oh iya, kamu kan pengen banget ke Monas. Kita ke sana saja gimana?" Tanya Papa seolah menangkap kebingunganku.


Wah itu ide bagus. Selain berlibur bersama keluarga, aku juga bisa bertemu Rania.


"Papa!! Ke Dufan itu keinginan Monica. Masak Papa mau hancurin impiannya Monica" Kata Mama tidak menyetujui.


"Enggak Pa. Sebenarnya, hari Minggu besok Ros ada janji sama teman" Aku mencoba menjelaskan sebelum dua orang dewasa di depanku ini beradu pendapat. Sebab ujung-ujungnya tetaplah aku yang jadi sasaran.


"Teman?? Hebat ya anak angkat Papa ini. Baru juga dua minggu di Jakarta sudah punya teman" Sindir Mama.


Memang tidak logis. Tapi aku harus tetap jaga rahasia. Jangan sampai mereka tahu siapa temanku ini, atau karir yang baru Papa bangun akan hancur.


"Eh, anu Ma, teman waktu di panti. Kebetulan diadopsi oleh orang Jakarta"


"O ya? Cewek cowok?"


"Cewek kok Ma"


"Gak yakin aku" Sambung Mama sambil menyendok nasi goreng buatanku.


"Boleh kan Pa?" Aku mengulangi permintaan ijinku.


"Oh ... Ok ..gak papa, boleh..." Jawab Papa.


Begitulah akhirnya. Aku benar-benar akan bertemu dengan Rania ketiga kalinya setelah bertemu di rumah Tuan Hamdani, ayah angkatnya. Tak hanya lewat suara, nanti aku akan menatap wajahnya yang sekarang jauh lebih cantik. Tentu saja karena terawat dengan baik. Hal pertama yang akan kutanyakan adalah, dimana dia bersekolah. Itu penting. Satu sekolah dengan Rania berarti kami akan bertemu setiap hari. Bisa jadi kami sekelas, atau bahkan sebangku. Bukankah itu menyenangkan?


Hari Minggu yang disepakati tiba. Aku sudah berada di sebuah taksi yang dipesankan Papa untukku. Dan ini pertama kalinya aku naik taksi. Kendaraan terkeren di jamanku. Tak sabar rasanya menunggu sampai di Monas. Bagaimana rupanya sekarang? Masih seperti waktu pertama bertemu? Atau justru lebih cantik lagi?


Aku sudah sampai di pelataran Monas. Mataku menyapu sekeliling mencari keberadaan Rania alisa Clara. Jakarta sepeti yang dikatakan banyak orang. Panas. Ini masih jam sepuluh pagi tetapi panasnya seperti membakar ubun-ubun. Mataku memicing menajamkan pandangan. Barangkali di depan sana Rania muncul.


Aku menuju pintu Monas. Di sana ada loket masuk ke dalam Monas. Seseorang mengarahkanku untuk membeli tiket dahulu, tetapi aku menolak karena menunggu kedatangan Rania. Ya, aku memang berencana naik ke atas, ke puncak Monas bersama Rania. Karena itu, aku harus menunggunya.


Kulihat dari kejauhan, seorang gadis remaja berkulit putih, rambutnya panjang hitam kecoklatan dan lurus. Dia memakai celana jeans dan kaos yang sederhana namun elegan. Tas kecil slempangnya membuat penampilannya sempurna. Ya, aku kenal betul, dia Rania. Akhirnya dia datang. Aku tahu dia akan menepati janjinya. Sesekali dia berlari untuk mengejar waktu, kurasa bukan hanya karena waktu tapi karena panasnya pelataran Monas yang luar biasa.


"Ran!! Eh....Clara!!!" Teriakku memanggilnya. Aku hampir lupa menjaga rahasia kami. Untung saja segera kuganti panggilanku dari Rania ke Clara.


"Hai..." Rania menyapaku.


"Hai...apa kabar?" Tanyaku basa-basi.


"Baik, sudah lama?" Rani bertanya lagi.


"Lumayan" Jawabku.


Dia menatapku. Entah kenapa pandangannya berbeda kali ini. Mungkin ia begitu merindukanku, atau mungkin mengalami masalah di rumahnya. Hatiku bertanya-tanya. Ada apa sebenarnya. Beberapa hari ini sangat berbeda. Ada apa dengan Rania.


***