
Aku memandang lurus ke depan. Seseorang di kejauhan sana menarik perhatianku. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri bahwa aku tak akan mengganggunya. Kupastikan aku tidak akan masuk dalam kehidupannya lagi. Melihatnya dari kejauhan saja sudah membuatku senang. Setidaknya aku tahu dia baik-baik saja.
"Sst...Ros...Ros..." Dinda melambaikan tangannya padaku.
"Eh, sorry" Kataku.
"Lagi liatin apaan sih?" Tanya Dinda penasaran.
Dinda lantas memeriksa ke arah obyek yang kulihat.
"Kamu kenal?" Tanya Dinda tiba-tiba.
"Eh, enggak" Jawabku segera. Aku tidak bisa keceplosan. Tidak ada yang boleh tahu tentang masa lalu kami.
"Itu Clara, anak konglomerat. Paling kaya satu sekolah ini. Nyokabnya udah nyumbang banyak buat pembangunan sekolah. Kalo ada acara, nyokab bokapnya pasti jadi tamu kehormatan" Jelas Dinda.
Yah, aku tahu itu. Tak perlu dijelaskan aku sudah mengerti sebelumnya. Aku hanya mengangguk dan pura-pura tak tahu.
"Tapi sayang..." Lanjut Dinda.
"Sayang kenapa?" Aku penasaran.
"Otaknya nggak sebanyak duitnya"
"Ha?"
"Dia itu kemampuannya standar, masih dibawahku nilainya. Kamu tahu kan nilaiku seperti apa. Itu masih dibawahnya lagi"
Dia tetap seperti dulu. Kupikir dengan banyak bimbingan yang dia terima membuatnya menjadi brillian. Ternyata tetap sama. Ah, dia saudaraku. Andai saja dia masih bersamaku, akan kuajari dia sampai menjadi brillian. Bahkan sampai mampu mengalahkanku jika perlu.
Pulang sekolah, aku menunggu bus di halte depan sekolah. Untung saja rumahku kali ini dekat dengan jalur kendaraan umum, jadi aku tidak perlu mengayuh sepeda sejauh belasan kilometer. Aku juga tidak perlu nebeng mobil Papa. Aku lebih suka begini. Mandiri. Bebas.
Aku masih berdiri menunggu datangnya bus. Aku sendirian. Tak banyak siswa yang menggunakan bus umum sebagai sarana transportasi. Mereka semua anak orang kaya, terbiasa antar jemput mobil pribadi. Dia melangkah ke arahku. Aku terkejut, sungguh. Dia menghampiriku dengan ragu-ragu. Dia masih cantik seperti terakhir kali kami bertemu di Monas.
Kami kini berhadapan. Sesaat kami saling terpaku.
"Kamu sengaja ya Ros?" Rania bertanya padaku.
Aku hanya terdiam mencoba mencari maksud ucapannya.
"Kamu sengaja sekolah di sini, biar bisa ketemu aku tiap hari?"
Sungguh aku tidak menyangka Rania ajan bertanya demikian. Dengan nada meninggi pula.
"A...aku...aku..."
"Kamu nggak bisa ya sedikit saja kasih aku kebebasan? Aku sekarang bukan teman panti kamu lagi Ros, sadar dong!!"
"Ran...aku..."
"Ran...Ran...Ran.. Clara!!" Rania marah.
Dia mengingatkanku kembali siapa dia sekarang. Dinda juga mengatakan dengan jelas bahwa orang tuanya memiliki pengaruh yang kuat di sekolah ini. Dia bisa benar-benar melupakan masa lalunya. Tak kusangka dia mengatakan hal seperti itu.
" Siapa yang kasih tahu kamu kalau aku sekolah di sini? Papa kamu? Segitunya ya kamu kepo?"
Aku tidak bisa menjawab apa-apa. Lagipula, menjawab apapun tidak akan mengubah kondisi. Dia akan tetap membenciku karena ini. Tidak. Aku yakin dia tidak membenciku. Hanya saja dia takut segalanya akan kacau jika ada yang tahu siapa kami sebelumnya.
Tin...tin...sebuah mobil berhenti tepat di hadapan kami. Dengan datangnya mobil itu, Rania berubah raut wajahnya. Dia seperti sedang takut sesuatu. Sedang panik lebih tepatnya. Seseorang keluar dari mobil itu. Dia tersenyum pada kami. Ya, aku pernah melihatnya. Dialah Mama asuh Rania.
"Iya..Tante.."
Mungkin dia belum pernah melihatku. Atau dia lupa pernah bertemu pada pesta ulang tahun anaknya dulu.
"Sekelas?"
"Oh tidak Tante"
Nyonya Hamdani, Mama asuh Rania tampak memgangguk-angguk.
"Lagi nunggu jemputan juga? Atau mau barengan sama Clara? Rumahnya mana?"
"Oh nggak Tante, jemputan saya sudah di jalan kok" Jawabku.
"Oh , oke kalo gitu, Clara duluan ya"
Aku mengangguk. Clara sudah masuk ke mobil. Nyonya Hamdani baru saja mau membuka pintu mobil, tetapi kemudian ia berbalik badan lagi ke arahku.
"Oh ya nama kamu siapa?" Dia bertanya lagi padaku.
Untuk sesaat aku bingung harus menjawab apa. Aku ingat jika Nyonya Hamdani sudah tahu dengan nama Rosa sebagai anak yang mengaku tema sekolah Clara dan ternyata adalah teman dari panti asuhan yang sama. Aku tidak bisa menyebutkan nama itu. Tentu saja jika ingin semua aman. Aku, Papa, sekolahku, dan tentunya Clara.
"Sita Tante". Jawabku.
Mendengar jawabanku itu Nyonya Hamdani tampak puas dan lega. Dia mungkin bersyukur karena anak yang sedang berbicara dengan putrinya bukanlah Rosa. Aku tidak berbohong. Sita diambil nama belakangku, Rosa Nirwasita. Seandainya aku menyebut nama Rosa, Clara mungkin akan segera pindah sekolah, atau mungkin aku yang didepak dari sekolah ini.
***
"Taraaa......lihat deh nilaiku Ros" Dinda mengagetkanku dengan selembar kertas tugas yang kami kerjakan kemarin.
"Delapan puluh?" Aku heran, kami sudah berusaha keras mengerjakan tugas itu sama-sama tapi hanya mendapat nilai delapan puluh.
"Iya, bagus kan? Akhirnya aku dapat nilai segini banyak!!!" Dinda begitu kegirangan dengan nilai yang menurutku standar.
Aku segara mengambil kertas tugasku di meja guru. Huft, aku lega nilaiku 97. Kenapa bisa berbeda dengan Dinda, sebab ada soal uraian yang berbeda jawaban. Bagaimanapun, aku senang temanku terbantu olehku. Setidaknya dia satu-satunya yang akrab denganku saat ini.
Aku melihatnya lagi, di kantin sekolah. Dia sedang bersama tiga temannya yang sepertinya setara dengannya. Orang kaya, berkelas dan terpandang. Dilihat dari bagaimana tubuhnya terawat, bagaimana barang-barangnya terlihat berkelas dan dandanannya kentara sangat berbeda. Tak lama kemudian mereka pergi, mungkin akan ke kelas. Syukurlah mereka tidak melihatku. Jika tidak, pasti Clara semakin membenciku.
Kulihat sesuatu tertinggal di atas meja. Sebuah kertas. Kudekati kertas itu. Tepat seperti dugaanku. Itu kertas tugas yang sama persis dengan punyaku dan Dinda. Karena guru mata pelajaran kami sama. Enam puluh delapan..itu angka yang tertera di sana. Begitu rendahnya nilainya setidaknya dibandingkan dengan kami, di jauh di bawah. Pantas saja raut mukanya sedikit muram hari ini.
"Ros, ngapain bengong di sini. Ayok makan" Dinda membuyarkan lamunanku.
Dinda kemudian melihat kertas yang kubawa.
"Punya siapa Ros?? Ha?? Clara?? Tuh kan, aku yakin deh anak itu nggak pernah belajar di rumah. Fasilitasnya terlalu banyak sampai dia terlalu dimanjakan. Hmm ya setidaknya aku sudah usaha Ros. Nilaiku sudah bagus kan hehehe"
"Din....jangan kasih tahu siapa-siapa ya" Pintaku.
"Ha?"
"Kita jangan berurusan sama dia. Setidaknya biar orang lain tahu dari orang lain, bukan dari kita"
Dinda mengangguk. Dina begitu senang dengan nilainya diatas Clara, siswi terpopuler di sekolah ini. Dulu Rania tak sebawah ini. Sekarang dia jauh lebih buruk dari yang kukira. Apa gunanya punya guru privat tapi tak membuahkan hasil. Kembalilah Rania, aku akan mengajarimu sampai setara denganku. Seperti dulu, aku akan mengusahakanmu mati-matian. Akan kupastikan nilaimu bagus. Kembalilah Rania.
***