
"Ini salinannya"
Vania memberikan beberapa lembar padaku yang katanya rahasia. Maksudnya, seharunya lembaran itu tidak diberikan pada siapapun kecuali keluarga pasien yang meminta. Itu adalah rekam medik kondisi Alanta.
"Dokter yang menangani Alanta adalah Pamanku. Aku memintanya dengan paksa" Lanjut Vania.
Kurva menunjukkan perkembangan yang seakan berjalan di tempat. Kupikir ia mengalami perkembangan yang baik dari hari ke hari. Nyatanya tak sebaik yang kuduga.
"Jadi selama sebulan ....."
"Jalan di tempat" Sambung Vania.
***
Sudah terlalu malam untuk menemui seseorang, apalagi di rumah sakit. Tapi tak ada waktu lagi. Aku harus segera bertemu dengan beliau. Sebenarnya kau belum siap berbicara dengannya, tapi siap tidak siap bukankah aku harus berusaha. Sepertinya aku sidah tidak punya muka lagi di depan Bu Mariana. Tapi sudah kepalang malu. Aku harus menyelesaikannya.
"Urat malu kamu sudah putus ya, nyuruh ketemu malam-malam begini?" Tanya Bu Mariana geram sambil berjalan ke arahku.
Aku tahu dia pasti kesal dengan sikapku. Dari awal sudah kesal ditambah malam ini yang tiba-tiba aku meminta bertemu. Sebenarnya hanya di halaman rumah sakit, tapi bukan masalah tempat, namun masalah waktu.
"Maaf, ini penting" Kataku lirih.
"Satu menit" Katanya acuh.
"Ijinkan saya membantu terapi Alanta" Pintaku sambil menyodorkan salinan rek medik Alanta yang kudapat dari Vania.
Bu Mariana tampak memeriksa salinan itu. Kulihat dahinya berkerut. Kurasa ia menyadari jika perkembangan terapi Alanta tidak berkembang dengan semestinya.
"Darimana kamu dapat ini?" Tanya beliau penuh curiga.
"Seseorang memberikan ini karena perihatin dengan kondisi Alanta"
"Siapa? Afrizal?"
"Bukan masalah siapa yabg kasih Bu, tapi kondisi Alanta...."
"Jawab saja siapa orangnya!!"
"Dok....dokter...yang kasih" Jawabku terbata-bata. Aku berbohong, dan aku bukan pemain drama yang baik.
Mendengar jawabanku membuat Bu Mariana terdiam. Matanya mengarah ke tanah, dadanya kembang kempis dan mulutnya tertutup rapat. Apa yang ada di pikirannya?
"Sepertinya saya terlalu membuang waktu dengan menemui kamu. Kamu pikir saya bisa diperbodoh oleh anak ingusan macam kamu? Tidak mungkin dokter membocorkan rahasia pasien pada selain keluarganya" Kata Bu Mariana.
Memang benar. Memang tidak mungkin. Karena aku pun tidak mendapatkan itu dari dokter, rapi dari orang uang dekat dengan dokter. Kebohonganku terlihat jelas di mata Bu Mariana. Perempuan cerdas yang tidak mudah dibohongi.
***
Aku masih berdiri, memandang sebuah kamar di atas sana. Barangkali ia sedang berdirI di sana. Barangkali ia melihatku. Meski aku terlalu kecil untuk ia kenali, setidaknya aku bisa melihatnya.
Matahari kali ini bersinar terik lebih dari biasanya. Beberapa hari lalu hujan mengguyur rumput rumah sakit. Tapi kali ini sinar mentari yang giliran muncul begitu terangnya. Tapi itu tidak akan berhasil menyurutkan niatku. Sebelum aku mendengar kabar baik tentang Alanta, kau tidak akan pulang begitu saja.
"Gak ada gunanya kamu berdiri di sini" Vania tiba-tiba saja muncul di sampingku. Sepertinya ia muli tahu tempatku berdiam diri selama ini.
"Aku sudah menyampaikan pada Bu Mariana. Tapi sepertinya tidak berhasil" Kataku ragu-ragu.
"Ya, aku tahu. Jika lewat depan gak bisa, mungkin bisa lewat belakang" Kata Vania.
"Belakang?"
Vania mengangguk.
Di balik kaca pintu kaca setengah buram itu aku berdiri. Aku berdiri bukan tanpa sebab. Kali ini keberadaanku akan mengubah kondisi seseorang. Pintu belakang. Lokasi inilah yang dimaksud pintu belakang oleh Vania. Di dalam sana, orang tidak bisa melihatku dengan jelas. Namun jika seksama, aku terlihat dengan baik. Dan dari posisiku ini, aku justru dapat melihat dengan jelas apa saja yang terjadi di dalam sana.
Tidak lama kemudian ia mauk ditemani oleh beberapa perawat dan terapis. Bu Mariana juga turut hadir. Tentu saja, Ia Ibu yang sangat penyayang. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, Alanta tidak seperti biasa. Petualang itu benar-benar kehilangan lentera. Wajahnya tak bergairah. Kulitnya tak segar. Bola matanya tampak lelah. Benar kata Vania, perkembangannya seperti jalan di tempat. Tapi apakah Bu Mariana bisa melihat ini?
Terapi mulai dilakukan. Mula-mula Alanta belajar berdiri ditopang oleh perawat laki-laki. Pada saat itu Bu Mariana tampak senang melihat puteranya bisa berduri meski ditopang. Kemudian Alanta belajar melangkahkan kaki tetapi masih ditopang. Masih beberapa langkah ia ambruk ke depan. Tentu saja aku kaget dan spontan menabrak pintu kaca. Alanta tersungkur dan kepalanya mendongak. Saat itulah ia melihatku jauh di depan. Ia melihatku yang sedang mengintip di balik pintu.
Alanta tersenyum. Aku memberikan kode agar dia semangat. Dalam keadaan seperti ini aku tidak boleh menampakkan kesedihan meski batinku meronta. Alanta hendak menuju ke arahku dengan merangkak, tapi buru-buru aku memberinya kode agar diurungkan niatnya. Ia harus bersabar untuk tidak banyak bergerak di luar kemampuannya.
Kembali aku memberinya kode agar ia bangkit dan berusaha kembali. Usahaku rak sia-sia. Ia pun meraih pegangan besi di sampingnya, ia berusaha bangkit berdiri. Berulang kali kuberi kode agar dia lebih bersemangat lagi. Kini aku bisa lega karena telah memenuhi janjiku. Aku kembali menemuinya meski harus dengan cara seperti ini. Terima kasih Gusti, terima kasih Vania. Hanya beberapa menit namun begitu berarti bagiku, juga bagi Alanta.
***
Aku berjalan riang menuju rumah. Di depan rumah ada beberapa anak nongkrong sambil bermain gitar, merekalah yang sering kusebut sebagai penjaga, karena secara tidak langsung, dia turut menjaga rumahku.
"Mari Mas...." Sapaku.
Mereka mengangguk tanda merespon sambil terus bernyanyi. Mereka bernyanyi seakan tahu hari ini aku bahagia. Ya, aku memang bahagia. Menit-menit yang membuatku lega. Aku membuka pintu rumah yang sedari pagi tertutup. Begitu pintu kubuka, aku menemukan amplop cokelat di balik pintu. Seseorang telah memasukkannya melalui celah pintu bagian bawah. Luxurious.
Hati-hati kubuka amplop cokelat itu. Dan benar ternyata. Surat pemecatan. Sebulan lebih aku tidak masuk kerja karena terus mengunjungi Haruma Medina demi melihat kondisi Alanta. Aku memang salah. Alu pantas untuk dipecat tanpa adanya pesangon. Untuk mendapat pesangon ada syarat ketentuannya. Salah satunya adalah sudah bekerja sekurang-kurangnya tiga tahun di perusahaan. Dan aku masih beberapa bulan saja.
Kuletakkan begitu saja surat pemecatan itu di atas meja. Lalu aku mandi membersihkan badan. Selesai mandi aku bersiap sembahyang isya. Aku sudah mengenakan mukena lengkap, tiba-tiba saja hatiku tergerak untuk melihat hape. Ada beberapa panggilan tak terjawab dari Bu Mariana. Lalu kulihat WhatsApp.
Jam 7 tepat di tempat yang sama, jangan telat.
***