
"Sudah jam 5 sore, kamu mau lembur? Ingat lembur tanpa perintah bisa tidak dibayar" Celetuk Pak Agung.
"Sedikit lagi Pak" Jawabku.
"Masih mencari file gaji?" Tanya beliau lagi.
"Pak...Bapak tahu proposal Luxury of Tye Die?" Aku bertanya.
"Ya, kenapa?"
"Apakah sama dengan Batik For Adults?"
"Jauh lebih besar dari itu karena sasarannya merabah ke manca negara"
"Siapa yang membuat itu?"
"Pak Har, Papa kamu. Kenapa?"
"Lihat ini Pak. Namanya menjadi lain"
Pak Agung mendekat padaku. Ia turut melihat laptop di meja. Matanya terbelalak setelah tahu tulisan di dalamnya.
"Aku tidak tahu kalau event itu dikeluarkan. Kukira tidak di acc, ternyata dijalankan dengan namanya sendiri" Pak Agung memukul meja. Memang tidak terlalu keras namun cukup membuktikan kekesalannya.
"Bapak tahu dimana proposal cetaknya?" Tanyaku.
"Buat apa?"
"Saya butuh yang sudah berstempel, dan....yang ada tanda tangannya Papa" Aku menjawab dengan lemas karena pesimis.
Pak Agung kemudian meletakkan tasnya di meja kemudian menuju ke lemari tua milik Papa. Di barisan kedua dari atas ia membuka pintunya, memilah sebentar lalu menemukan map tebal warna merah. Ia serahkan map yang sudah usang itu padaku.
Debu yang menempel membuatku hampir saja bersin. Dengan kain lap kering kusapu bagian luarnya sehingga debunya menghilang. Benar saja, itu adalah salinan proposal Luxury Of Tye Dye. Kubuka satu persatu pelan-pelan. Semua atas nama Papa. Ada bagian yang ditandatangani oleh Pak Agung. Tapi lebih banyak Papa yang membubuhkan tanda tangan.
"Jangan terlalu larut. Bawa saja pulang. Gedung kosong tidak baik untuk cewek" Kata Pak Agung.
Benar, aku tidak terpikirkan itu. Aku tidak mungkin berada di gedung ini sendirian. Jika Pak Agung pulang maka aku juga harus pulang. Karena hanya dia yang bersedia menungguku di sini sebelum benar-benar pulang. Jika dia sudah memutuskan pulang, artinya dia tidak bisa tinggal lebih lama lagi.
Di saat kami sampai di pintu utama, langkah kami terhenti oleh kehadiran seseorang yang dihormati di kantor ini. Kami membungkukkan badan memberi hormat.
"Baru pulang Pak Agung?" Tanya perempuan tua berkacamata yang kulihat pada acara launching itu.
"Iya Bu, masih ada kerjaan" Jawab Pak Agung.
"Semangat terus Pak" Katanya mengakhiri.
"Memangnya siapa dia Pak?" Tanyaku sesaat setelah beliau meninggalkan tempat bahkan tak terlihat lagi.
"Lah kamu sebulan lebih nggak tahu dia siapa? Pemilik perusahaan ini. Bapaknya Pak Hamdani" Bisik Pak Agung.
Oh pantas saja Nyonya Hamdani begitu hormat padanya dan terkesan takut.
Kubawa serta map itu dengan hati-hati. Jika ada yang tahu maka akan menimbulkan pertanyaan besar. Tebalnya ukuran map itu membuatnya menjadi sangat berat. Ah aku sudah biasa mengangkat barang berat. Barang sekecil ini mudahlah bagiku.
Aku rela tidur larut demi memeriksa map itu. Prospeknya, perencanaannya sampai pada desainnya sudah tertera. Benar-benar lengkap. Proposal Batik For Adults itu tidak ada apa-apanya dibanding proposal ini. Papa memang mumpuni. Aku tak ada seujung kukunya.
Dari dalam map itu, sebuah cek warna peach jatuh dari sisi tengahnya. Cek sebesar lima juta rupiah. Dan sepertinya cek itu belum dicairkan sebab tidak ada stempel bank yang mencairkan. Kurasa ini adalah royalti bagi Papa yang mencetuskan program itu.
Kemudian kubuka flashdisk yang sudah kucopy dari laptop yang dulu dipakai Papa bekerja. Ada banyak sekali foto kami. Aku dan Papa. Kemudian foto monica waktu kecil, juga foto-foto kami ketika masih di Malang. Bahagia aku meski hanya melihat fotonya. Serasa dia ada di sampingku sekarang ini.
Kontrak kerja. Aku juga menemukan itu di file Papa. File itu sudah berbentuk scan. Ada tanda tangan Papa dan juga stempel perusahaan. Aku melongo melihat kontrak kerja itu. Kontrak kerja itu terdiri dari beberapa file dari masa ke masa. Kontrak itu menunjukkan usaha Papa dari bawah, dari kantor di Semarang sampai ke Jakarta. Aku terkejut dengan angka yang tertera. Dari hanya satu juta lebih sedikit sampai belasan juta per bulan. Dan gajiku hanya tiga juta per bulan. Hanya lebih sedikit dari gajiku di resto. Ditambah dengan fasilitas kendaraan dan sopirnya. Dan aku tidak mendapatkan itu semua. Sesuai kesepakatan bahwa aku menduduki jabatan Papa berikut segala fasilitas yang ia dapatkan. Kurasa Nyonya Hamdani berbohong.
Baiklah. Semua harus diusut tuntas.
***
"Kamu sudah gila? Mana ada pegawai baru minta gaji segini banyaknya. Nggak masuk akal" Kata Nyonya Hamdani sedikit kesal.
"Tapi itu sudah bagian dari perjanjian uang Nyonya sepakati. Saya menempati posisi Papa saya bukan hanya jabatannya, tapi juga segala fasilitas yang ada. Oh iya, Papa juga mendapatkan fasilitas mobil kan? Tenang saja, aku tidak akan meminta itu. Lagipula aku tidak bisa menyetir" Kataku mantab.
"Ah ..kurang ajar kamu. Wenny!!! Ke ruangan saya" Nyonya Hamdani memanggil Wenny, akuntan perusahaan. Aku tahu apa artinya.
"Iya Bu" Wenny begitu cepat datang.
"Selesaikan ini" Kata Nyonya Hamdani sambil menyodorkan selembar kertas.
Wenny melihat ke arahku seakan dia menilaiku tak tahu diri, tapi aku tak peduli. Sebagaimana mereka tak peduli pada nasibku dulu.
"Clara akan saya bawa ke luar negeri untuk perawatan wajah. Selesaikan pekerjaanmu sampai bulan ini. Setelah itu kamu bisa keluar. Tidak ada yang perlu aku takutkan lagi selagi kalian berpisah" Kata Nyonya Hamdani.
"Kapan?'
"Semingguan lagi" Nyonya Hamdani tak memperhatikan raut mukaku.
"Sebenarnya ada satu permintaan lagi. Dan ini sepertinya sangat mudah untuk dituruti"
"Ah, dasar gila"
"Aku ingin kuliah sambil kerja"
"What?? Mana ada perusahaan yang nerima orang sambil kuliah? Sama saja dengan ngasih duit percuma" Kilah Nyonya Hamdani.
"Di sini... Saya ingin pindah ke sini"
Luxury of Tye Dye. Aku ingin menempati tempat itu. Awalnya hanya program insidental dalam rangka memperingati Hari Pemuda. Tapi kemudian dibuatlah semacam toko atau pusat perbelanjaan yang menjual berbagai busana khas Indonesia.
"Aku dengar itu buka sampai malam. Aku akan menjadi administratornya" Kataku yakin.
Nyonya Hamdani berdiri dengan pandangan geram.
"Darimana kamu tahu tentang itu Luxury Of Tye Dye. Itu sudah sangat lama dan sekarang sudah berpindah tangan"
"Papa yang membuat ide itu, ya, memang sudah berpindah tangan, tapi tidak jauh, hanya berpindah ruangan saja"
Kuserahkan map merah yang kupelajari semalam. Nyonya Hamdani memeriksa map itu lembar demi lembar dengan dahi mengkerut. Dia mungkin tak menyangka map itu masih utuh setelah sekian lama. Hampir tujuh tahun lamanya.
"Sekarang namanya Luxurious bukan? Itu buatan Papa yang berganti menjadi nama Pak Hamdani" Kataku tenang namun menyimpan amarah luar biasa.
"Ah hahaha......." Entah apa yang lucu beliau tertawa seakan aku tidak tahu apa-apa.
"Wajar kan. Papa kamu otu bekerja untuk kami. Wajar jika apapun yang dia buat menjadi atas nama kami" Lanjutnya
"Termasuk Batik For Adult?"
"Of Course"
"Lalu bagaimana dengan ini?"
Aku menyerahkan kontrak kerja yang kutandatangani di awal masuk ke perusahaan ini.
"Ada aturannya bukan, bahwa seharusnya ada bonus khusus untuk gebrakan baru sesuai dengan omsetnya"
"So?"
"Jumlahnya tidak sesuai dengan ketentuan. Jika beliau tahu kira-kira apa yang akan terjadi?" Aku mengancam.
Wanita di hadapanku ini diam dengan hembusan nafas yang begitu berat. Tampak sekali bagaimana dadanya mengembang dan mengempis. Ia ingin marah namun ditahan karena tak ingin ada keributan. Tapi dia sangat marah. Sama sepertiku.
***