
Tempat yang sama. Kursi beton dengan hamparan rumput yang luas. Kami duduk berhadapan. Kami saling diam selama beberapa saat. Beliau enggan berbicara, sedang aku tak berani memulai.
"Alanta bilang semalam Ia melihat bayangan Rosa di pintu belakang. Itu beneran bayangan, atau kanu yang beneran datang?" Tanya Bu Mariana.
Bagaimana aku harus menjawab. Jika aku berkata jujur akankah beliau bisa menerima kehadiranku semalam? Tetapi jika aku berkata bohong, maka ia akan berpikir bahwa Alanta baik-baik saja tanpa aku? Sehingga aku tidak perlu lagi menemuinya.
"Menurut Ibu?"
"Ah sudahlah, kita ganti topik. Saya menawarkan ini. Bacalah" Kata Bu Mariana menyodorkan map kertas merah.
Aku membukanya hati-hati. Jangan-jangan isinya tidak mengenakkan sama seperti amplop cokelat yang kuterima semalam.
"Tanda tangani jika setuju" Lanjutnya.
Isinya adalah surat perjanjian. Cukup memberatkan. Ada dua pilihan yang keduanya sama-sama tidak kuinginkan. Namun aku harus memilih salah satu jika ingin menyelesaikan persoalan ini. Antara aku dan Alanta.
"Tidak perlu buru-buru. Kutunggu sampai besok" Selepas berbicara, Bu Mariana masuk ke dalam rumah sakit meninggalkanku sendirian yang masih terpaku dengan isi surat itu.
Hujan.
Dingin malam ini sampai merasuk ke dalam tulang. Aku duduk berselimut tipis. Kupeluk kedua lututku di atas kasur. Seharusnya malam ini aku ada di rumah sakit, melihat keadaannya. Tapi aku tak berdaya. Surat perjanjian itu kuletakkan di atas meja. Aku masih belum memikirkan jawaban yang tepat untuk surat itu. Aku belum memutuskan apa-apa. Sulit rasanya. Terlalu sulit.
Titik-titik air berjatuhan di atas genting dengan begitu keras sehingga memekakkan telinga. Sekeras itu aku bahkan tak bisa mendengarnya. Otakku sudah dipenuhi dengan segala konsekuensi isi surat perjanjian itu. Aku masih berdiam diri dalam kebisingan hujan. Masih membeku seperti es batu yang tertumpuk di lemari es. Mematung persis seperti bunga plastik yang bahkan tak bergerak meski diterpa angin. Aku bingung. Buntu.
Waktuku hanya sampai malam ini. Esok hari aku sudah harus memutuskan. Namun sampai tengah malam aku masih tertegun. Banyak hal yang tiba-tiba saja muncul di angan-angan. Dari awal, hidupku sudah terbuang di sebuah panti asuhan. Ketika ada keluarga yang mengasuh, aku mendapatkan ibu angkat yang berbeda dari dugaanku. Ketika kemudian aku mendapat seorang pelindung, ia harus pergi dalam keadaan yang kurang baik. Tuhan menggantinya dengan pahlawan lain. Namun kini pahlawan itu juga terbaring lemah. Apa arti dari semua ini??
Air mata menetes tak terkira. Meski demikian aku masih tertegun. Tak kuhiraukan betapa pipiku basah dan mataku sembab. Semua kubiarkan begitu saja. Seperti derai hujan yang suaranya memenuhi ruangan.
Pagi begitu cepat menyapa. Dengan langkah ragu aku melangkah di tengah-tengah orang-orang lalu lalang. Aku menatap jauh ke depan. Seperti pandangan Marie Antoniette ketika menuju eksekusi oleh Guillotine. Seperti itulah pandanganku kira-kira. Pasrah. Pandanganku menyapu ke segala arah. Aku mencari seseorang yang menyebabkan aku masuk ke dalam area rumah sakit. Sebab biasanya aku hanya berdiri di luar menatap jendela yang sama setiap harinya.
"Bagaimana?" Tanya Bu Mariana.
"Saya setuju. Sudah saya tandatangani Bu" mataku berkaca-kaca ketika mengatakan itu.
"Kamu terima konsekuensinya?"
Aku mengangguk. Aku tahu konsekuensinya cukup berat. Bahkan seperti mengakhiri hidupku sendiri. Surat itu berisi sebuah perjanjian dengan dua pilihan. Pilihan pertama, aku diberikan ijin untuk merawat Alanta selama pengobatan di rumah sakit. Konsekuensinya, setelah kondisi Alanta membaik dan diperbolehkan pulang, maka aku harus menerima pengajuan beasiswa ke luar negeri. Jadi beasiswa di First dialihkan ke Jerman. Dan sejak itu aku tidak diperbolehkan lagi berhubungan dengan Alanta.
Pilihan kedua. Aku tetap kuliah di First, namun aku tidak diperbolehkan menemui Alanta apalagi merawatnya. Dan karena aku yang bertahan di tanah air, maka Alanta yang akan dipindahkan pengobatannya ke Singapore. Keduanya sama saja. Namun karena aku harus memilih, maka kupilih pilihan pertama. Sebab orientasiku saat ini adalah fokus pada kesehatan Alanta. Yang oenting Alanta sembuh dahulu. Itu yang kucari. Jika aku harus berpisah dengan Alanta, dan jika itu yang terbaik,l bagi Alanta, aku siap. Lebih tepatnya, memaksa untuk siap.
Pintu terbuka, dan kulihat Alanta duduk di kursi roda menghadap ke jendela. Tahukah dia, di saat seperti ini aku melihatnya dari bawah setiap hari.
"Alan" Panggilku.
"Batagor? Aku dah nanya ke dokter, boleh koo asal gak pedes aja" Kataku seakan bisa saja.
Alanta mengangguk. Mulailah dia makan dengan lahapnya seperti pengemis yang tidak makan kenyang berhari-hari. Semua yang ada di kamar itu tersenyum leg. Vania yang paling lega. Disadari atau tidak, dia punya andil yang cukup besar atas kehadiranku.
***
"Ayo sedikit lagi ...satu...dua...tiga...ayo!!" Sekuat tenaga aku membantu Alanta melangkahkan kaki meski masih berpegangan pada besi di kanan kirinya.
"Aw...aw...hati-hati" Alanta hampir saja menubrukku, namun aku buru-buru menopangnya. Lalu kami berdua tertawa bersama. Saat-saat seperti ini yang membuat kami bahagia secara sederhana. Hal-hal kecil yang mendongkrak kondisi Alanta menjadi jauh lebih baik.
"Dokter, kita boleh jalan-jalan ke luar?" Tanyaku.
Mula-mula dokter melihat arlojinya, lalu dia tersenyum dan mengangguk.
"Setengah jam lagi waktunya minum obat" Kata dokter mengingatkan.
Hari ini tidak terlalu cerah, akhir-akhir ini cuaca mendung. Aku bersyukur karena bisa membawanya ke luar ruangan sebab cuaca yang tidak terlalu panas. Jika bukan karena mendung, dokter mungkin akan melarangku membawa Alanta keluar.
"Mau lagi?" Aku menawarkan roti isi cokelat pada Alanta.
"Selain cokelat ada? Agak pahit" Jawabnya.
"Fla?"
Alanta mengangguk. Seng rasanya melihat ya lahap dengan cemilan yang kubawa. Vania bilang, Alanta kurang berselera dalam hal makan. Apalagi makanan rumah sakit yang selalu terasa hambar bagi pasien. Dengan begini, aku benar-benar yakin ia akan cepat pulih.
"Sayang...aku pengen deh, ntar kalo sudah sembuh, kau pengen ngajakin kamu ke Malaysia, lihat kampus aku. Kamu mau kan?" Tanya Alanta.
Deg. Pertanyaan yang sangat kutakutkan dan akhirnya ia tanyakan juga. Ia berharap, ketika sembuh nanti hubungan kami akan kembali seperti semula. Yang sebenarnya tidak begitu. Justru ketika di embuh nanti hubungan kami berakhir. Maka apa yang harus kupinta dari Gusti Allah? Meminta dia agar sembuh tetapi mengorbankan hubungan kami? Atau berdoa agar dia tetap seperti ini agar aku masih bisa merawatnya?
"Kamu gak mau?" Tanya Alanta seakan memahami kegalauan hatiku.
"Ya kan jauh sayang..." Jawabku.
"Takut naik pesawat?" Ledeknya.
Aku tersenyum disambit oleh tawa cerianya Alanta. Biarlah dia tertawa seperti itu. Yang penting dia sehat. Biarlah dia merajut harapan-harapan itu siapa tahu harapan itu berbuah lebat.
***