
"kakak hanya kerja di apotik sekarang ini dan gajian nya bulan depan, kamu berhemat aja yah saat ini, sabar untuk menunggu bulan depan kakak gajian,
dan sekarang kamu juga sudah kerja online kan,
lagi pula Adit juga tetap menafkahi kamu selama kamu kuliah kan "ujar Alex, meski ia juga enggan mengharapkan apa pun dari Adit, sahabat nya tersebut.
Sarah sangat terperanjat, ia bahkan tidak tau berapa komisi yang ia dapatkan, lalu bagaimana Alex tau tentang ia yang berjualan online ?
lagi pula kalau masalah Adit, Adit hanya akan membiayai kuliah Sarah saja, sedang kan nafkah yang lain, itu sudah menjadi kewajiban Alex sebagai suami yang menafkahi anak dan istri nya.
"tapi kak, uang itu pun belum aku terima, aku tak tau berapa uang yang aku dapat kan dari hasil online tersebut, lagi pula kalau masalah kak Adit, kak Adit tidak tau menahu masalah nafkah, bukan nya nafkah istri dan anak itu di berikan oleh seorang suami yang bertanggung jawab dan sekarang kak Adit telah menikah dan mempunyai keluarga sendiri, Sarah nggak mau menyusahkan Kak Adit lagi, dan uang kakak beri ini untuk sebulan, mana cukup kak, untuk biaya sehari-hari kita...,"ujar Sarah sambil melirik kecewa kearah Alex.
Tatapan Alex pun tajam kearah Sarah, ia merasa geram dengan ucapan Sarah barusan,
Sarah seperti tidak memahami kondisi nya saat ini.
"Bagaimana mau cukup, kalau kamu selalu makan di luar "ujar Alex sambil menatap tajam kearah Sarah.
"Kamu tau kan, aku sudah tidak kerja di perusahaan papa dan rumah sakit lagi, itu semua karena aku memilih hidup bersama kalian,
aku harap kamu bersyukur, berapapun yang akan aku berikan nanti nya,
jangan selalu makan di luar, supaya nafkah nya cukup..." Alex menatap geram kearah Sarah, Alex merasa kesal karena mama nya bercerita bahwa Sarah selalu membawa bulan makan di luar.
"kak, aku dan bulan makan di luar itu karena bulan mau makan ayam goreng, lagi pula aku belum sempat belanja waktu kita pindah kesini, sedang kan mama, beliau tidak mengizinkan aku menggoreng ayam untuk bulan, padahal bulan sedang kelaparan loh..." Sarah bangkit dari duduknya dan membalas tatapan Alex ia tak terima di tuduh seperti itu oleh Alex,
"Jangan pernah menjelek-jelekkan mama ku yah, bagian mana pun dia adalah wanita yang telah melahirkan ku dan membesarkan ku hingga seperti ini."ujar Alex sambil menunjuk kearah Sarah.
"tapi kak, Sarah nggak bohong..."ujar Sarah menyakinkan.
"mama sendiri yang bilang, kalau kamu malas memasak dan lebih memilih makan di luar dari pada membantu mama memasak,
apa lagi sekarang para asisten rumah tangga sedang di libur kan, tidak ada yang membantu mama memasak di rumah, seharusnya kamu berusaha menjadi menantu yang baik dan membantu mama memasak, bukan malah menghambur kan yang dengan cara makan di luar." ucap Alex geram.
"Itu nggak benar kak, mama mu memfitnah aku, aku loh yang tadi masakin mama mu, namun saat anak ku bulan kelaparan, mama mu enggan memberi anak ku makan, padahal bulan ini cucu nya sendiri, anak dari putra nya..."ujar Sarah tak kalah geram, ia tak terima di tuduh seperti itu.
"ouh, jadi kamu mengatakan kalau mama ku pembohong dan tukang fitnah...?" Alex mendekati Sarah dan menarik rambut Sarah keras, sedang kan Sarah meringis kesakitan.
"jadi seperti ini watak mu sesungguhnya yah, akhirnya kamu menampakkan wujud mu yang sesungguhnya,
jangan pernah menuduh mama ku yang bukan-bukan yah,
aku lebih mengenal mama ku ketimbang kamu..."Alex melepaskan cengkraman tangan nya di rambut Sarah, ia pun berjalan pergi meninggalkan Sarah yang meringis kesakitan setelah rambut nya di Jambak oleh Alex.
Sarah bersimpuh menangis pilu, ia tak menyangka Alex akan melakukan kekerasan terhadap nya,
baru sehari tinggal di rumah ini, ia telah tersiksa lahir dan batin seperti ini, ia tak menyangka Alex dengan mudah nya terhasut oleh ucapan mama nya, bukan nya Alex tau sendiri siapa mama nya tersebut, seorang wanita ular berbisa,
namun ia seketika lupa akan hal itu, saking manis nya aduan yang di berikan oleh mama nya tersebut.