My Little Baby

My Little Baby
243. Ada apa dengan mama ?



Saat Alex masih bercerita tadi, ternyata bulan sudah ikut bergabung bersama mereka, sehingga tidak sedikit yang ia dengar atas cerita masa lalu Alex dan keluarga nya.


"begitulah ceritanya non, saya benar-benar menyesal, kalau saja saya bisa bertemu dengan istri dan anak-anak saya lagi, saya ingin meminta maaf kepada mereka, saya rela bila mereka tak mau mengakui saya sebagai suami dan ayah mereka, saya rela jika mereka menghukum saya." tutur Alex dengan air mata yang mengalir keluar membasahi pipinya sebagai ucapan rasa sedih dan penyesalannya atas apa yang telah dia lakukan pada Sarah dan anak-anaknya.


"kami turut prihati mendengarnya pak, tapi saya yakin! istri dan anak-anak bapak pasti akan mau memaafkan perbuatan bapak, kalau bapak mau menceritakan hal yang sebenarnya." ucap bulan menatap kasihan kearah lelaki tua ini.


"iya pak, saya juga yakin seperti itu." sambung pelangi.


"entahlah non, yang pasti bapak benar-benar sangat menyesal sekali, jika ingat akan perbuatan bapak rasanya bapak tak bisa memaafkan diri bapak sendiri dan bapak juga malu non." ujar lelaki itu lagi.


"jangan berkata seperti itu pak, setiap manusia pasti punya kesalahan dan pernah berbuat kekhilafan." tutur bulan menatap lelaki yang telah menangis di hadapan nya.


"yang di katakan kakak saya benar pak, yang pasti nya bapak sudah benar-benar menyesali perbuatan bapak." tambah pelangi lagi mengiba.


"hmm ya sudah, bapak lanjut makan nya, setelah itu mandilah, saya dan adik saya akan mempersiapkan pakaian untuk bapak."ujar bulan tersenyum tulus.


"sekali lagi, saya sangat berterima kasih non, entah bagaimana saya membalas kebaikan yang telah kalian berdua berikan."ucap tulus lelaki itu.


"ah lupakanlah pak, papa kami selalu mengajarkan kami, untuk mau membantu terhadap sesama yang membutuhkan, kami ikhlas membantu bapak!" tutur bulan lagi dengan senyum yang tidak pernah lepas dari bibir nya.


"nah makanlah pak, biar kami siapkan pakaian bekas almarhum papa kami untuk ganti pakaian bapak yang sudah tak patut itu." tambah pelangi tak kalah perhatian nya.


"iya non, terima kasih banyak." ucap lelaki itu haru.


Tanpa sepengetahuan bulan, pelangi dan lelaki tua itu, dari dalam Sarah melihat keluar dan betapa kagetnya dia begitu mengenali siapa lelaki berpakaian lusuh, gembel, yang sedang menyantap makanan ditemani oleh putri-putrinya.


"Alex !" desis sarah dengan mata membelalak.


"celaka, bagaimana dia bisa berada di sini ? dan kenapa keadaannya jadi seperti itu ? ah, peduli dengan keadaannya? yang harus ku khawatirkan adalah putri-putriku, jangan sampai lelaki itu tahu siapa putri-putriku yang sebenarnya." lirih Sarah menatap tajam kearah luar.


"setelah selesai makan, bapak mandi ya!" tambah bulan.


"iya pak, supaya tubuh bapak bersih dan segar." ujar pelangi lagi.


"apa? bulan dan pelangi menyuruh dia mandi? oh celaka, tidak! dia tidak boleh tahu kalau aku adalah ibu dari mereka! sebelum dia masuk sebaiknya aku suruh Elvi untuk menyuruh lelaki itu pergi dari sini." bergegas Sarah menuju ke dalam menemui salah seorang pembantunya.


"Elvi!" panggil Sarah.


"iya Nyonya!" jawab pembantu nya dan berjalan mendekati Nyonya nya.


"setelah lelaki yang ada di teras rumah selesai makan, suruh dia langsung pergi saja."ujar Sarah melirik dari arah jendela dapur.


"bagaimana kalau non bulan dan non pelangi melarang nyonya?" tutur Elvi, sebab dia tahu sifat baik anak majikan nya itu.


"bilang disuruh mama!" ujar Sarah lagi menunjuk kearah nya.


"baik nyonya." ujar Elvi patuh.


"ini uang! serahkan pada lelaki itu dan suruh dia secepatnya pergi dari sini." tutur Sarah dengan memberikan beberapa lembar uang berwarna merah kepada pembantu nya.


"baik Nyonya." jawab pembantu nya,dengan wajah menunjukkan ke tidak mengertian.


"cepat kau ke teras, dan katakan pada lelaki itu agar setelah selesai makan langsung pergi saja!" ujar Sarah sedikit mendesak.


"baik nyonya." Elvi pun menurut dan segera dia menuju ke arah depan rumah, di mana Pelangi, bulan dan Alex masih berada.


"ada apa mbak ?" tanya bulan.


"anu non, kata Nyonya setelah bapak ini selesai makan, suruh langsung pergi saja! ini Nyonya memberikan uang untuk bapak ini." Elvi pun menyerahkan uang beberapa lembar ratusan ribu kepada bulan.


"Ada apa memangnya?"


"iya, kenapa memangnya mbak ?" tanya bulan dan pelangi tak mengerti, sambil memandang ke wajah lelaki setengah baya itu, yang dipandang pun menunjukkan rasa heran.


"saya juga tak tahu non, tapi kayak nya Nyonya tampaknya gelisah sekali setelah melihat bapak ini." tutur Elvi memberitahu.


"gelisah?"


"iya non." jawab Elvi.


"apa mama mengenal bapak ini ?"tanya bulan.


"kenapa mama bisa seperti itu? tidak seperti biasanya." ujar pelangi kebingungan.


"siapa nama mamanya non ?" tanya Alex seketika.


"Sarah." lirih bulan.


"Sarah? dia nama mama nya non ?" ujar Alex terbelalak.


"iya pak, nama mama kita Sarah."sambung pelangi.


"apa bapak mengenal mama?" tanya bulan lagi.


"eh eh ti-dak sa-saya ti-tidak kenal, baiklah saya permisi non, terima kasih atas semua yang telah non berikan." Alex pun berdiri dan berjalan meninggalkan dua putri nya.


"eh, pak mau kemana ?" panggil pelangi berjalan menyusul lelaki itu.


"pak, bapak kenapa pergi ?" tanya bulan lagi dan berdiri mengekor lelaki itu.


"saya harus secepatnya pergi non." tutur lelaki itu, melepaskan diri saat di hadang oleh bulan dan pelangi.


"kenapa ?" tanya bulan kebingungan.


"ada apa pak ?" tanya pelangi lagi.


Lelaki itu tak menjawab dia terus saja melangkah pergi meninggalkan bulan dan pelangi yang berdiri tak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi, namun kemudian dengan rasa heran bulan dan pelangi pun masuk ke dalam rumah menemui mamanya.


"mah, ada apa sebenarnya? kenapa mama mengusirnya, dia butuh pertolongan kita ma, dan papa menyuruh kita agar membantu siapa saja orang yang membutuhkan pertolongan kita!" ucap bulan meminta penjelasan mama nya.


"iya ma, kasihan bapak itu! dia luntang lantung nggak punya keluarga di jalanan, dan dia juga sangat membutuhkan pertolongan kita."sambung pelangi lagi.


"ya, papamu benar! tetapi tidak untuk dia." hardik Sarah.


"Kenapa memangnya ma? apa mama mengenal dia?" tanya bulan lagi.


"kenapa mama sampai membenci lelaki itu seperti itu, apa salahnya ma?" tanya pelangi lagi.


Namun bukan nya menjawab, Sarah pun berjalan pergi meninggalkan kedua putri nya yang penuh kebingungan.


"kak, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya pelangi menatap kakak nya.


"kakak juga tidak tau dek." ujar bulan sama bingung nya.