
Setelah dirawat di rumah sakit beberapa minggu, Teguh pun akhirnya menghembuskan nafas yang terakhirnya di usia yang menginjak kurang lebih 45 tahun.
"tidak..... papa.... tidak....."
" papa....tidak....ini tidak mungkin....papa.. tidak mungkin...."
Begitu mendengar kabar dari rumah sakit kalau papa mereka meninggal dunia, tanpa menunggu lama lagi, bulan maupun pelangi langsung pergi menuju ke rumah sakit.
Begitu sampai di rumah sakit, mereka pun langsung jatuh pingsan, setelah melihat papa mereka, benar-benar sudah meninggal terbujur kaku di atas dipan dengan berbalut kain putih di sekujur tubuh.
Kematian Teguh membuat bulan maupun Pelangi berulang kali pingsan, bahkan ketika mayat Teguh hendak dibawa ke pemakaman untuk di kebumikan, bulan dan Pelangi sangat histeris.
"jangan..... jangan bawa papa pergi....jangan.... jangan.... bawa papa... pergi..." jerit histeris mereka sebelum kemudian kembali jatuh pingsan.
Wajar kalau mereka mengalami sok berat seperti itu, sebab bagaimanapun juga mereka tahunya kalau Teguh adalah ayah kandung mereka, dan selama ini semenjak mereka masih kecil sampai besar, Teguh sangat lah menyayangi dan memanjakan mereka, jadi wajar jika bulan dan Pelangi sangat terpukul atas kematian Teguh.
Sarah sendiri walau sangat sedih dan juga terpukul namun dia tidak lah separah yang dialami oleh putri-putrinya, hanya memakan waktu sekitar seminggu saja, Sarah sudah bisa seperti biasanya, namun tidak untuk anak-anaknya, mereka bahkan sampai berbulan-bulan lebih, bulan dan pelangi selalu murung dan sering jatuh pingsan, bila kembali teringat pada ayah mereka, bahkan mereka sudah mulai sakit-sakitan semenjak kepergian Teguh.
"sudahlah nak! papa kalian sudah meninggal jangan kalian terus hanyut dalam kesedihan, Mama yakin di akhirat sana, papa kalian akan sedih jika melihat kalian terus-menerus seperti ini."ujar Sarah menenangkan anaknya.
"papa kalian sudah mewasiatkan kalau semua harta kekayaannya adalah milik kalian, kalau kalian begini terus-menerus lalu siapa yang akan mengurusi semua perusahaan dan pekerjaan papa kalian?"
hibur Sarah berusaha membujuk putri-putrinya agar tidak terus-menerus larut dan hanyut dalam kesedihan.
Bahkan untuk membantunya menghibur anak-anaknya Sarah memanggil Adit kakak nya dan Rehan yang sekarang sudah sangat dekat dengan keluarga mereka.
"kamu sih enak ngomong seperti itu, karena kamu belum merasakannya, coba kalau kamu sendiri yang mengalaminya! ditinggal pergi oleh orang yang sangat kamu cintai, sayangi dengan sepenuh hati, orang yang selalu memanjakanmu, tempat untuk berbagi suka dan duka, tempat mengadu, pasti kamu juga akan seperti ini!" tutur bulan menatap tajam kearah Rehan.
"apa kamu tahu bagaimana rasanya jadi kami ? kami ibarat seorang anak yang baru berlatih berjalan, lalu kehilangan pegangan, itulah yang kami rasakan semenjak papa meninggal.!" ujar pelangi lagi menatap kearah Rehan yang berusaha menenangkan mereka.
"iya aku tahu, tapi kan di sini masih ada mama kalian, masih ada om Adit, masih ada aku dan masih ada keluarga-keluarga yang lain!" tambah Rehan lagi.
"iya, tapi papa merupakan segalanya bagi kami !" ujar bulan menjawab.
"bulan, pelangi, sudahlah! jangan terus hanyut dalam kesedihan kalian, sebaiknya kalian harus menunjukkan pada arwah papa kalian, kalau kalian tak akan mengecewakannya, kalau kalian benar-benar anak yang berbakti dan menyayanginya, karena itu kalian harus menjalankan wasiat papa kalian, kalian harus tabah dan sabar menerima apa yang telah Tuhan tetapkan dan berikan kepada kalian sebagai ujian bagi kalian." sambung Adit menenangkan ponakan nya.
Tidak mudah bagi bulan ataupun pelangi untuk begitu saja melupakan kesedihan dan kedukaan atas kematian ayah mereka, walaupun Sarah, Adit Dan Rehan terus berusaha membujuk dan menghibur mereka, namun kalau sedang sendirian mereka pun kembali larut dalam kesedihan masing-masing.
Rehan yang tulus menyayangi mereka berdua, tanpa mau menyerah terus saja berusaha menghibur hati mereka, Rehan rela mengajak mereka jalan-jalan, diberinya pandangan-pandangan yang positif, walaupun keduanya sering tak terima bahkan marah-marah dan menuduh Rehan tak punya perasaan, namun Rehan tetap tidak mau menyerah, dia terus saja berupaya menghibur mereka berdua dan memberi dorongan semangat kepada mereka.
hingga bulan dan pelangi pun akhirnya bisa menerima kenyataan yang ada, dan mereka akhirnya mau merelakan kepergian ayah mereka, mereka berusaha untuk melaksanakan wasiat dan amanah dari almarhum papa mereka, untuk mengelola semua perusahaan yang ditinggalkan oleh Teguh untuk mereka.
Sekarang mereka juga kembali bekerja sebagai jaksa untuk bulan dan selalu menegakkan keadilan seperti amanah teguh,
Pelangi pun membuka praktek dan menolong orang-orang yang kurang mampu bila sakit.
Sementara urusan manajemen perusahaan bulan dan pelangi, mereka serahkan semuanya kepada Sarah dan Adit.
Dan juga mereka mengangkat beberapa orang yang kredibilitasnya dapat dipercaya untuk mengelola perusahaan yang lain seperti Om Yoga, Tante ayu yang merupakan teman baik dari Teguh dan Sarah, orang yang dapat dipercaya mengelola perusahaan otomotif taksi sedangkan orang-orang yang lainnya seperti Om Rudi dan teman-teman Teguh yang lain nya, dipercaya untuk mengelola perusahaan penjualan mobil dan suku cadang.