My Little Baby

My Little Baby
219. Menjual rumah



Sarah, bulan dan teguh pun pergi ke mall untuk berbelanja perlengkapan bayi dan beberapa pakaian untuk mereka.


Saat di mall Sarah hanya diam, ia masih memikirkan cara bagaimana mendapatkan uang untuk biaya administrasi kakak nya.


Sedangkan bulan dan teguh sangat antusias memilih pakaian untuk bayi yang Sarah kandung, teguh juga membeli baju dua helai untuk bulan dan dirinya sendiri dan teguh pun mengajak Sarah memilih daster untuk ia kenakan selama mengandung, sebab tidak baik kalau ibu hamil mengenakan celana seperti yang Sarah kenakan sekarang ini,


sehingga Sarah pun terpaksa membeli beberapa helai daster seperti keinginan teguh.


Setelah sampai di rumah,teguh pun bermaksud untuk pergi lagi, namun sebelum pergi teguh sempat berpesan pada Sarah dan bulan supaya Sarah tidak banyak bergerak dan berkerja berat, begitu pun kepada bulan yang di minta untuk menjaga mama nya dan melapor apapun yang mama nya lakukan, teguh sangat protektif menjaga Sarah dan anak-anak nya.


"Sarah, jangan terlalu banyak bergerak, dan tak usah masak ! nanti kita beli di luar saja atau kita makan di warung nasi Padang di depan." ujar teguh.


"kamu mau kemana?" tanya Sarah menatap kearah teguh.


"aku ada urusan sebentar." jawab teguh singkat.


"mau kemana ? jangan bilang kamu mau menemui kak Alex lagi ?" tanya Sarah menyelidik.


"tidak" singkat teguh.


"aku mohon jangan temui dia lagi, aku sudah benar-benar mencoba melupakan nya teguh." ujar Sarah memohon.


"iya, aku pergi dulu ! jika kamu dan bulan butuh apa-apa kalian bisa minta tolong sama bang Rudi yang berada di kamar sebelah." tambah teguh lagi.


teguh pun meninggal kan rumah nya dan kembali memasuki taksi nya dan menjalankan taksinya dengan pandangan mata Sarah yang tak luput dari kepergian teguh.


Seperginya teguh, Sarah diam-diam membawa bulan pergi ke suatu tempat meninggalkan kontrakan nya secara sembunyi-sembunyi, tanpa di ketahui bang Rudi sekali pun, sebab Sarah tahu jika bang Rudi sampai mengetahui kepergian mereka, lelaki itu tak segan-segan melaporkan kepada teguh.


Sarah kembali ke kediaman nya dan Adit atau ke rumah orang tua nya, Sarah mengambil surat-surat penting di dalam rumah itu, Sarah bertekad akan menjual rumah peninggalan almarhum, almarhumah orang tua nya untuk membayar biaya rumah sakit nya Adit, kakak nya.


"maaf kan Sarah ibu, maaf kan Sarah bapak ! Sarah terpaksa melakukan ini untuk membantu kak Adit, Sarah tak ingin kehilangan kak Adit, keluarga satu satunya yang Sarah miliki." ucap Sarah dengan air mata mengalir deras memegang sertifikat tanah dan sertifikat rumah milik orang tua nya.


dengan tangan memegang surat penting yang ia masukkan kedalam amplop coklat, Sarah dan bulan pun pergi ke suatu tempat untuk menukar surat tersebut dengan beberapa lembar uang.


Tak berselang lama Sarah dan bulan pun sudah sampai di sebuah rumah mewah, milik juragan tanah orang terkaya di kota Sarah, Sarah pun mengutarakan maksud kedatangan nya dan menyerahkan sertifikat kepada lelaki tua berkacamata itu.


"kamu yakin mau menjual rumah peninggalan orang tua mu ?" tanya lelaki itu sambil meluruskan kacamata nya membaca satu persatu bait tulisan di dalam sertifikat tersebut.


"iya juragan, ini Sarah lakukan semata-mata untuk membantu kesembuhan kak Adit." jawab Sarah duduk bersimpuh di bawah kursi lelaki itu.


"hmm, sebenarnya saya tak ingin memiliki rumah itu, karena pasti ada begitu banyak kenangan keluarga mu, tapi karena saya kasihan terhadap mu, saya akan membeli rumah itu sesuai pasaran harga, dan jika suatu saat kamu menginginkan rumah itu lagi, kamu bisa mengambil alih lagi di tangan saya, saya akan memberikan nya lagi kepada kamu." ujar lelaki itu, hingga Sarah berkaca-kaca mendengar ucapan nya.


"terima kasih juragan, terima kasih." Sarah menangis ia tak menyangka juragan yang terkenal angkuh dan sombong di kota nya bisa memiliki hati yang baik juga dan rasa kasihan yang tinggi terhadap keluarga Sarah.


"hmm iya."