
"Selamat yah pak, bapak sudah bisa bebas..." ujar bulan menyalami seorang lelaki paruh baya yang bertahun-tahun, menekan di penjara atas kasus korupsi yang ia lakukan.
"terima kasih kembali buk..." jawab lelaki tersebut menyambut tangan bulan.
Tak berselang lama, seorang pun datang bersama istri dan anak-anak nya tersenyum kearah bulan dan pergi membawa lelaki paruh baya tadi pergi meninggalkan rumah tahanan.
Bulan sangat kewalahan menghadapi klien nya, sehingga bulan memilih untuk mengistirahatkan sejenak tubuh nya di sebuah restoran mewah yang di kelola oleh paman nya Adit.
"Siang om !" ujar bulan mencium kedua pipi om nya.
"pagi juga sayang..." Adit tersenyum senang mendapati ponakan cantik nya yang berkunjung ke restorannya, yang ia buka dengan bantuan dari teguh.
"rame amat om !" ujar bulan melirik ke semua arah.
"iya sayang, om juga heran hari ini rame amat." jelas Adit lagi.
"ouh iya, kamu mau apa ? om minta pelayan untuk buat kan ?" tanya Adit lagi.
"seperti biasa om, bakso enak menu om." tutur bulan dan di jawab anggukan oleh Adit, hingga dia melambaikan tangan memanggil karyawan nya dan meminta untuk di buat kan bakso untuk ponakan nya.
"bagaimana kabar papa sama mama mu ?" tanya Adit menatap kearah bulan.
"biasa om, papa masih sibuk kerja, sedang kan mama ada di rumah." jelas bulan.
"kalau pelangi apa kabar ?" tanya Adit lagi.
"pelangi baru menyelesaikan studi nya dan sekarang lagi mengurus beberapa berkas untuk melanjutkan studi spesialis lagi." tutur bulan dan di jawab anggukan oleh Adit.
"om bicara apa sih ? kalau om, kenapa nggak nikah-nikah?" tanya bulan lagi, sebab semenjak sembuh nya Adit, Adit memang memilih menduda dan tidak menikah lagi.
"om kan sudah pernah menikah." jawab Adit yang tak mau di sudut kan oleh ponakan nya.
"haha, om memang sudah pernah, tapi sekarang om tetap sendirian kan !" tutur bulan tak mau kalah.
"om sudah tua sayang, tidak ada yang mau sama om ! " ujar Adit menatap ponakan nya.
"udah lah om, jangan bahas nikah-nikah lagi, dan jangan ajari bulan atau tuntut bulan untuk menikah, kalau om saja nggak nikah." ucap bulan hingga membuat Adit bungkam seketika.
"hmm, iya sudah kalau itu yang terbaik untuk mu, tapi menurut om kamu sebaiknya cepat-cepat menikah deh, supaya kami masih sempat bertemu dengan anak-anak kalian, saat usia kami yang tidak muda ini." ujar Adit menatap bulan.
"om bicara apa sih, ngaco aja." ucap bulan tak terima dengan ucapan paman nya.
"memang seharusnya seperti itu kan ?" ucap Adit lagi, ia sudah tak sabar ingin mengendong cucu dari anaknya bulan dan pelangi, namun bulan sangat enggan kalau membicarakan tentang pernikahan.
Tak berselang lama makanan bulan pun sampai, bulan dan Adit masih terus bercengkrama sambil menikmati bakso menu utama di restoran itu.
Adit sangat senang di jenguk oleh bulan, di kediaman orang tua nya yang telah ia sulap menjadi restoran mewah dan elegan.
"kapan-kapan ajak mama, papa dan adik mu kesini ? om kangen sama mereka !" ujar Adit di sela obrolan mereka.
"iya om, nanti bulan ajak..." ujar bulan.