
Sarah duduk di taman rumah sakit, dia tak tega melihat anak-anak nya yang menangis iba karena sakit yang di derita oleh teguh.
"Tante, ini !" seorang lelaki muda yang mengenakan almamater berwarna putih yang melambangkan dia seorang dokter, memberikan sapu tangan nya untuk Sarah.
"hapus air mata Tante, jangan bersedih Tante, itu tidak baik untuk kesehatan Tante." ujar lelaki itu tersenyum manis, sehingga Sarah pun meraih sapu tangan tersebut.
"terima kasih." ucap Sarah, menghapus sisa air mata nya.
"nama saya Rehan, Tante." ucap lelaki itu dengan duduk bersebelahan dengan Sarah.
"Sarah..." ujar Sarah memperkenalkan diri nya dan terlihat lelaki itu mengangguk.
"kalau Tante butuh teman curhat, saya bisa menjadi pendengar yang baik." tambah lelaki muda itu yang sebaya dengan usia pelangi atau bahkan lebih tua sedikit dari pelangi dan lebih muda dari bulan.
"saya sedih, suami saya sakit saat ini, saya dan anak-anak saya sangat mencintai dan menyayangi suami saya itu." lirih Sarah dengan air mata yang mengalir di pelupuk mata nya.
"sakit dan sehat kan sudah menjadi kuadrat kita sebagai makhluk hidup Tante, hmm Tante yah sabar yah!" ujar lelaki itu lagi.
"hmm"
"Rehan !" tak berselang lama terdengar suara seorang memanggil lelaki muda bersebelahan dengan Sarah, rehan maupun Sarah seketika melirik kearah asal suara.
"iya papi !" jawab rehan kepada seseorang lelaki yang berumur 50han itu.
"kamu sedang ngobrol dengan siapa !" lirih lelaki itu sambil menghampiri rehan yang duduk di kursi taman rumah sakit.
"ini pi, nama beliau Tante Sarah !" ujar rehan memperkenalkan Sarah yang duduk di sebelah nya, sehingga Sarah pun mengangkat tangan nya untuk bersalaman.
Lelaki yang di panggil papi oleh rehan pun melirik seksama kearah Sarah, Sarah yang merasa aneh karena jabatan tangan nya tidak di balas menjadi kikuk seketika.
"papi !" teguh merasa tak enak hati melihat tingkah laku papi nya, yang membuat Sarah menjadi gugup.
"dokter Agam ?" lirih Sarah dengan mata berkaca-kaca, sedang kan Agam mengangguk dan tersenyum manis, berbeda dengan rehan yang memandang bingung kearah Sarah dan papi nya.
"haha, ternyata kamu masih cantik sama seperti dulu Sarah !" ujar Agam, namun bukan nya menjawab, Sarah malah melayangkan pelukan nya kearah Agam sehingga Agam tersenyum senang menerima pelukan Sarah itu.
"dokter..."lirih Sarah dengan air mata yang mengalir, Agam pun mengelus punggung Sarah untuk menenangkan wanita itu.
"ouh iya, mommy apa kabar dokter ?" tanya Sarah yang seketika ingat dengan wanita yang mengalami penyakit kanker paru paru Beberapa tahun yang lalu.
"mommy sedang di butik, beliau dan Khanza membuka sebuah toko butik di pusat kota." jelas Agam dan Sarah pun manggut-manggut paham.
"ouh iya, siapa yang sakit Sarah ?" Agam pun bertanya kepada Sarah,apa yang membawa Sarah sampai ke rumah sakit ini.
Sarah pun menceritakan perihal sakit yang di alami teguh dan memperkenalkan keluarga nya kepada Agam dan rehan.
Agam tentu nya kaget, dengan keluarga baru Sarah, apa lagi bulan, anak kecil yang ia kenal sudah berubah menjadi gadis cantik dan manis, bahkan bulan tak ingat siapa Agam lagi, saking lama nya tidak bertemu.
"ouh, jadi dokter ini yang membantu persalinan Sarah saat melahirkan bulan ?" ucap teguh dan di jawab anggukan oleh Sarah dengan senyum yang terukir di bibir nya.
"iya, bahkan bulan waktu kecil manggil dokter Agam dengan panggilan papa Agam loh !" jelas Sarah, terlihat bulan terbelalak mendengar nya.
"masa sih ma ?" ujar bulan dan terlihat Agam tersenyum mengangguk mendapati bulan yang kebingungan.
"iya sayang, kamu bahkan sering tinggal di rumah papa Agam dan mama Caca saat mama kerja, waktu itu rehan masih bayi dan kamu selalu main sama dia." jelas Sarah lagi dan terlihat bulan hanya diam, sebab itu sudah puluhan tahun lama nya dan bulan pun tidak mengingat nya.
"iya sudah kalau kamu lupa, nggak apa-apa jangan di paksakan, nanti malah jadi beban."ujar Agam tersenyum kearah bulan.
"papa boleh kan minta kontak bulan ? nenek sama mama Caca pasti senang kalau bisa komunikasi lagi dengan bulan." tambah Agam dan di balas anggukan oleh bulan, sebab dia juga penasaran, seperti apa masa kecilnya dulu.
Mereka pun bertukar kontak dan tak jarang baik Agam maupun rehan selalu berkunjung keruangan teguh selama teguh terbaring sakit.