
"Aaaah sial ! " Alex murka dan menghancurkan semua benda ya ia lihat di dalam ruangan nya sekarang, termasuk komputer yang berada di atas meja juga ikut terbanting ke arah lantai.
mendengar suara sesuatu yang berjatuhan di ruangan Alex, Aryo pun bergegas masuk keruangan tersebut, semenjak Adit pergi, Alex langsung memilih masuk kedalam ruangan nya tadi.
"ada apa ini ?"tanya Aryo sambil membelalakkan matanya melihat sekeliling yang sudah porak porandak, semua barang berhamburan kelantai termasuk dokumen penting yang semula berada di meja Alex.
"gue mau sendirian Yo...?"ujar Alex memohon sambil menarik rambut nya frustasi.
"ya sudah, kalau Lo butuh apa-apa Lo bisa panggil gue di depan ! gue keluar dulu yah Lex," lanjut Aryo sambil menepuk pelan pundak Alex untuk menenangkan.
Beberapa menit berperan dengan depresi dan frustasi, Alex pun berjalan gontai keluar ruangan nya dan ia langsung menuju ruangan Aryo untuk pertama kali.
"Yo...! gue titip perusahaan yah, gue sedang tidak konsentrasi untuk bekerja, gue ingin mencari Sarah dan bulan sekarang."ujar Alex yang berdiri di ambang pintu ruangan Aryo.
"ya sudah, hati-hati yah pak Alex ?"ujar Aryo sambil tersenyum manis menggoda Alex, karena Aryo tau Alex sangat tidak menyukai Aryo memanggil nya dengan sebutan bapak, maka nya meskipun Alex adalah atasan nya mereka tetap berkomunikasi layak nya teman,
Alex pun berjalan pergi meninggalkan Aryo.
Alex masih berkeliling mencari keberadaan Sarah dan bulan di sekitar kota, ia bahkan sampai mencarikan mereka kesemua teman-teman alumni sekolah Sarah, namun hasil nya tetap nihil, Alex sangat bingung ia sangat menyesal telah melakukan kekerasan terhadap Sarah,Alex menghempaskan tubuhnya kasar di bangku kemudi mobil mewah nya, ia meraih handphone dan melirik foto Sarah dan bulan yang berada di galeri telpon nya.
"aku tidak tau siapa yang salah, namun secara logika dan pandangan mata ku memang Sarah lah yang salah, dia sudah tau mama ku sakit, tapi dia tidak memperdulikan mama ku sedikit pun, bahkan ia tega membiarkan mama ku kelaparan tanpa memakan asupan apapun dalam keadaan masih lemah seperti itu."lirih Alex.
Alex pun melaju kan mobil nya untuk kembali ke kediaman nya, ia akan melanjutkan pencarian Sarah dan bulan esok hari.
"Alex...kamu sudah pulang ?" sapa mama Riska yang sedang duduk di sofa ruangan tamu bersama beberapa teman wanita nya di sana, namun alex tidak menyahut dan berjalan langsung menuju kamar nya tanpa mempedulikan panggilan mama nya.
"Alex... kamu tidak punya telinga yah ?"teriak mama Riska geram karena panggilan nya tidak di acuh kan oleh anak nya.
Alex pun membalikkan badannya dan menatap sejurus kearah mama nya.
"mama tau, kenapa masih nanya ?" Jawab nya sambil membuka pintu masuk kedalam kamar.
Riska sangat tersentak mendengar jawaban Alex, hingga ia berjalan menghampiri kamar Alex dan membuka pintu kamar tersebut.
"ada apa lagi sih ma...? Alex capek, Alex ingin istirahat...?"pinta Alex memohon sambil membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
"kamu yah, di ajak ngomong baik-baik malah seperti ini, seperti orang tidak berpendidikan saja, apa kamu tidak malu di lihat teman-teman mama ?"ujar Riska menatap tajam kearah putra nya, yang sedang menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"ma...aku capek, aku stress, karena sampai sekarang Sarah dan bulan belum juga ketemu... aku tak tau mereka ada dimana sekarang..." lanjut Alex sambil menaikkan nada suara nya ia terdengar begitu tersiksa sambil mengusap wajah nya kasar.
"lah terus ? kamu mau nyalahin mama gitu?" mama Riska pun sangat marah hingga membanting keras pintu kamar Alex.
"ma... bukan seperti itu "Alex mencoba membujuk namun mama Riska keburu pergi.
"aaaah....."teriak Alex sambil membuang semua yang ada di atas ranjang, ia makin frustasi karena ulah mama nya barusan.